Perjalanan menuju Kota Sumenep selalu menyimpan kesan yang tak mudah dilupakan. Perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat, melainkan menemukan ruang-ruang ternyaman di sepanjang langkah.
Saya memulai perjalanan dari Ledokombo bersama istri, selepas aktivitas sehari yang cukup padat. Pukul 18.30 WIB, kami menaiki bus dari Terminal Kalisat. Malam terasa panjang, jalanan berliku ditemani lampu-lampu kendaraan dan sesekali kantuk datang menghampiri. Namun ada rasa hangat dalam hati, semacam rindu yang menuntun langkah menuju rumah sahabat Buwanto di Bumbungan Bluto Sumenep.
Perjalanan hampir sepuluh jam itu akhirnya berlabuh sekitar pukul 04.30 WIB di Bluto. Udara pagi masih dingin ketika kami langsung menuju masjid dekat pasar untuk menunaikan salat Subuh. Di sanalah perjalanan terasa menemukan ruang ternyaman pertama. Ketika kepala tunduk bersujud, pikiran dan hati justru terasa ringan.
Usai salat, sahabat kami menjemput dan mengajak menuju rumahnya. Istirahat sejenak menjadi pelengkap perjalanan panjang semalam. Sekitar pukul 10.30 WIB, kami melanjutkan petualangan menjelajah kota Sumenep menggunakan kendaraan pribadinya.
Masjid Agung Sumenep
Tujuan pertama adalah Masjid Agung Sumenep. Perjalanan dari Bluto menuju masjid ini memakan waktu sekitar 30 menit. Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan saksi sejarah panjang yang dibangun pada abad ke-18 oleh Panembahan Somala dengan arsitek keturunan Tionghoa. Keunikan arsitekturnya terlihat jelas. Perpaduan budaya Jawa, Madura, Arab, dan Tiongkok yang menyatu harmonis.
Gerbang besar masjid menjadi daya tarik tersendiri. Pintu kanan dan kiri bukan sekadar akses masuk, tetapi sarat makna filosofi. Satu sisi melambangkan jalan kebaikan (sebab terdapat kotak amal), sementara sisi lainnya menjadi pengingat terhadap kematian (karena terdapat keranda mayat). Di dalamnya, suasana begitu teduh. Kami menunaikan salat Zuhur berjamaah, merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan.
Taman Bunga Sumenep
Perjalanan dilanjutkan ke Taman Bunga Sumenep yang letaknya tidak jauh dari masjid. Taman ini menjadi ruang ternyaman berikutnya. Hamparan bunga warna-warni tertata rapi, berpadu dengan jalur pejalan kaki yang bersih dan teduh. Angin sepoi-sepoi membawa aroma segar, sementara burung merpati beterbangan bebas, seolah menyambut setiap pengunjung yang datang.
Di sini, waktu terasa berjalan lebih lambat. Banyak warga duduk santai, berolahraga ringan, atau sekadar menikmati suasana. Taman ini bukan hanya indah, tetapi juga menjadi tempat pelarian dari penatnya rutinitas.
Asta Tinggi Sumenep
Dari taman, kami melanjutkan perjalanan menuju Asta Tinggi Sumenep yang terletak di Jalan Lingkar Barat, Desa Kebunagung. Kompleks makam ini merupakan peristirahatan terakhir para raja Sumenep, termasuk Panembahan Somala, Pangeran Jimat, Bindara Saod, dan para bangsawan kerajaan.
Untuk masuk ke kawasan ini, pengunjung biasanya membayar infaq seikhlasnya kepada petugas, serta biaya parkir kendaraan yang ramah di kantong. Suasana di sekitar area terasa religius. Pedagang berjajar rapi menjual bunga tabur, makanan ringan, hingga oleh-oleh khas. Interaksi hangat dengan para penjual menambah kesan bersahaja dari tempat ini.
Di dalam kompleks makam, suasana begitu hening dan khidmat. Langkah kaki terasa lebih pelan, seakan menghormati sejarah yang bersemayam di sana. Ini bukan sekadar wisata religi, tetapi ruang refleksi yang menenangkan batin.
Pantai Slopeng Sumenep
Destinasi terakhir kami adalah Pantai Slopeng. Pantai ini terkenal dengan hamparan pasir putih kecokelatan yang luas dan lembut. Sesampainya di sana, kami disambut deretan pohon cemara, siwalan, dan kelapa yang berjajar di sepanjang area parkir.
Fasilitas di pantai ini cukup lengkap. Mulai dari area parkir luas, toilet, tempat makan, hingga wahana rekreasi. Kami menghabiskan waktu dengan duduk di ayunan yang berada di bibir pantai. Angin laut berhembus pelan, membawa ketenangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Menunggang Kuda di Pantai Slopeng
Kami tidak sempat mandi di pantai, tetapi mencoba pengalaman lain yang tak kalah seru, yaitu menunggang kuda. Dengan tarif hanya Rp 10.000 per orang, kami diajak berkeliling oleh pawang kuda yang sabar dan berpengalaman. Sensasi menunggang kuda di tepi pantai menjadi pengalaman sederhana yang membahagiakan.
Rujak Soto Sumenep
Menjelang sore, perut mulai meminta perhatian. Kami menemukan sebuah warung berwarna pink yang mencolok di antara deretan lainnya. Penjualnya ramah dan fasih berbahasa Madura. Kami memesan hidangan khas, yaitu rujak soto atau rujak selingkuh.
Hidangan ini unik. Perpaduan lontong, sayuran, buah, dan sambal rujak yang disiram kuah soto gurih. Yang membuatnya khas adalah taburan serpihan lempeng singkong Madura yang renyah. Proses pembuatannya sederhana namun penuh cita rasa: bumbu kacang diulek, dicampur petis, lalu dipadukan dengan kuah soto hangat. Rasanya? Perpaduan manis, pedas, dan gurih yang begitu menggoda.
Keesokan harinya, kami melanjutkan perjalanan ke tempat lain di Madura. Dan saat malam tiba, perjalanan kembali membawa kami pulang ke Jember dengan bus menuju Terminal Kalisat.
Perjalanan ini bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi tentang menemukan ruang ternyaman di setiap persinggahan, di masjid yang menenangkan, taman yang menyegarkan, makam yang mengheningkan, dan pantai yang meneduhkan.
Baca Juga
-
Terapi Alam yang Menenangkan: Kisah dari Pantai Lebuk Situbondo Jawa Timur
-
6 HP Realme dengan Kamera Terbaik dan RAM Besar 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Menikmati Sejuknya Annasya Waterpark, Surga Kecil di Kalisat Jember Jatim
-
Wisata Edukasi Unik: Menjelajah Dunia Mini di Rumah Serangga Kalibaru Banyuwangi
-
Menjemput Sunrise, Mengantar Sunset: Sehari Penuh Kenangan di Banyuwangi
Artikel Terkait
Ulasan
-
Dalam Sujudku: Film Inspiratif tentang Cinta, Doa, dan Keutuhan Keluarga
-
Terapi Alam yang Menenangkan: Kisah dari Pantai Lebuk Situbondo Jawa Timur
-
Membolang di Namorambe: Tempat 19 Teman dari Berbagai Sirkel Berkumpul
-
Senyum Karyamin: Menelusuri Jejak Kemanusiaan di Balik Ironi Desa
-
Jatuh Cinta Lagi oleh Nadhif, Teror Manis bagi Hati Saya yang Belum Sembuh
Terkini
-
Tayang Paruh Pertama, Varietas The Great Guide 3 Pilih Maroko dan Ethiopia
-
Paradoks Kemiskinan: Mengapa Biaya Hidup Orang Kecil Jauh Lebih Mahal?
-
6 HP Realme dengan Kamera Terbaik dan RAM Besar 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Beda Frekuensi: Ketika Cinta Tak Harus Selalu Sejalan
-
Mulai Rp5 Jutaan Saja, Laptop Ryzen 5 Ini Cocok Buat Kuliah dan Kerja