Buku itu bermacam-macam. Ada buku yang selesai dibaca lalu dilupakan. Ada pula buku yang selesai dibaca, tetapi isinya terus hidup dalam pikiran pembaca. Dan bagi saya, buku Hikayat Suara-Suara karya Taufik Ikram Jamil ini termasuk dalam kategori kedua.
Buku setebal 162 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Kompas pada tahun 2020 ini menawarkan pengalaman membaca yang berbeda dari kumpulan cerpen yang selama ini saya kenal.
Sejujurnya, ini mungkin pertama kalinya saya membaca kumpulan cerpen dengan konsep berbeda. Umumnya, antologi cerpen menghadirkan tokoh, latar, dan konflik yang berbeda-beda pada setiap cerita. Namun dalam Hikayat Suara-Suara, hampir seluruh cerita diikat oleh satu tokoh sentral yang unik, yakni Suara. Ia bukan sekadar karakter, melainkan simbol, gagasan, sekaligus pesan yang terus bergerak dari satu cerita ke cerita lain.
Sejak halaman-halaman awal, pembaca diajak memasuki dunia yang tidak selalu mudah dipahami secara harfiah. Suara hadir sebagai sosok yang misterius, kadang terasa nyata, kadang menjelma metafora. Ia hadir dalam pergulatan sosial, politik, ekonomi, hingga persoalan spiritual manusia.
Oleh karena itu, hampir setiap bab membuat saya berhenti sejenak setelah selesai membaca. Ada dorongan untuk merenungkan kembali apa sebenarnya makna yang hendak disampaikan penulis.
Salah satu kekuatan terbesar buku ini terletak pada kemampuannya mengajak pembaca berpikir tanpa menggurui. Taufik Ikram Jamil tidak menyodorkan jawaban-jawaban instan. Sebaliknya, ia menghadirkan pertanyaan-pertanyaan yang menggema lama setelah halaman terakhir ditutup.
Siapakah Suara sebenarnya? Mengapa ia begitu penting bagi orang-orang di sekitarnya? Dan mengapa kehilangan Suara terasa seperti kehilangan sesuatu yang mendasar dalam kehidupan manusia?
"Bahar, baliklah dulu sekejap ke kota kita ini," rayu Sarah.
"Sekejap saja. Kau saksikan sendiri, kau dengar sendiri, bagaimana suara kawan kita itu. Aku takut telah terjadi sesuatu dengannya, sesuatu yang amat buruk dalam kehidupannya. Bukankah sesuatu yang buruk terhadapnya, juga buruk bagi kita semua karena kita adalah kawan-kawannya sejak kecil," kalimat Sarah berjurai-jurai, seperti tak putus-putus.
Kutipan tentang Sarah yang memanggil Bahar untuk kembali ke kota dan menyaksikan keadaan Suara menggambarkan betapa tokoh ini bukan sekadar individu. Nasib Suara menjadi cerminan nasib masyarakat. Ketika sesuatu yang buruk menimpa Suara, dampaknya terasa bagi semua orang. Dalam konteks ini, Suara dapat dibaca sebagai lambang nurani, kebenaran, tradisi, bahkan kemanusiaan itu sendiri.
Dari sisi tema, buku ini sangat kaya. Taufik Ikram Jamil menyoroti benturan antara nilai-nilai tradisional dengan arus modernisasi yang terus melaju. Di tengah perkembangan zaman, manusia sering kehilangan akar budayanya, tercerabut dari kampung halaman, dan terasing di tengah keramaian kota.
Fenomena tersebut terasa sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Kita hidup di era digital yang serba cepat, tetapi tidak sedikit orang yang justru merasa kesepian, kehilangan arah, dan sulit menemukan makna hidup yang lebih dalam.
Yang membuat buku ini semakin istimewa adalah penggunaan bahasa yang sangat indah. Sebagai sastrawan Melayu yang telah lama berkarya, Taufik Ikram Jamil memperlihatkan penguasaan diksi yang luar biasa. Kalimat-kalimatnya mengalir seperti puisi tanpa kehilangan daya ceritanya.
Estetika Melayu hadir begitu kuat, mengilat, dan berwibawa. Keindahan bahasa tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan menjadi bagian penting dalam membangun suasana reflektif yang menyelimuti seluruh buku.
Selain itu, terdapat nilai-nilai religius yang disisipkan secara halus dan elegan. Penulis tidak menjadikan agama sebagai khotbah, melainkan sebagai sumber perenungan. Nilai-nilai spiritual hadir melalui pengalaman tokoh-tokohnya, melalui kegelisahan mereka, dan melalui pencarian makna hidup yang terus berlangsung.
Dalam situasi masyarakat modern yang sering terjebak dalam materialisme, pesan-pesan semacam ini terasa penting dan relevan.
Meski demikian, buku ini bukan tanpa kekurangan. Gaya bahasa yang puitis dan kaya metafora menuntut konsentrasi lebih dari pembaca. Cerita-ceritanya tidak dapat dinikmati secara tergesa-gesa.
Bagi pembaca yang terbiasa dengan alur cepat dan konflik yang langsung terlihat, beberapa bagian mungkin terasa berat atau bahkan membingungkan. Namun justru di situlah daya tariknya. Buku ini mengajak pembaca untuk melambat, menikmati setiap kalimat, dan memberi ruang bagi proses perenungan.
Sayangnya, karya sebaik ini tampaknya belum memperoleh perhatian yang sepadan. Di tengah maraknya buku-buku populer yang lebih mudah dikonsumsi, Hikayat Suara-Suara seperti berjalan dalam kesunyian. Padahal, kualitas sastra, kedalaman gagasan, dan kekayaan estetikanya menjadikannya salah satu karya yang layak dibicarakan lebih luas dalam khazanah sastra Indonesia kontemporer.
Intinya, Hikayat Suara-Suara bukan hanya kumpulan cerpen. Buku ini adalah perjalanan intelektual dan spiritual. Ia mengajak pembaca mendengarkan kembali suara-suara yang selama ini tertutup oleh kebisingan dunia modern, yakni suara hati, suara budaya, suara kemanusiaan, dan suara Tuhan.
Membacanya bukan sekadar menikmati cerita, melainkan juga memasuki ruang kontemplasi yang jarang ditemukan dalam karya sastra masa kini.
Identitas Buku
- Judul: Hikayat Suara-suara
- Penulis: Taufik Ikram Jamil
- Penerbit: Penerbit Buku Kompas
- Cetakan: I, Mei 2020
- Tebal: 162 Halaman
- ISBN: 978-602-412-663-6
- Genre: Fiksi/Cerpen
Baca Juga
-
Samsung Perkenalkan Panel OLED Laptop Ultra Slim Tertipis di Dunia, Sasar Industri Gaming
-
Asus ProArt OLED PA27USD Meluncur: Monitor Impian Editor Video dan Colorist
-
Gaji Dosen Terendah di Asia, Pendidikan Indonesia Sedang Tidak Baik-baik Saja
-
REDMI Pad 2 9.7 Resmi Hadir di Indonesia, Tablet Rp2 Jutaan dengan Layar 2K 120Hz
-
Vivo X Fold 6 Hadir Akhir Juni 2026, HP Lipat dengan Kamera 200 MP dan Baterai 7.000 mAh
Artikel Terkait
Ulasan
-
Horor Komedi Rasa Tragedi: Sekawan Limo 2 Berani Angkat Isu Sosial yang Sensitif?
-
Rockhills: Rekomendasi Kafe dengan View Ketinggian dari Kota Batu
-
Drama Code Blue, Perjuangan Dokter Muda dalam Menyelamatkan Nyawa
-
Novel Salvation of a Saint: Tragedi Domestik dalam Bingkai Trik Mustahil
-
Filosofi Hidup Oreki dan Misteri yang Tak Bisa Ia Hindari di Novel Hyouka
Terkini
-
Tayang Juli, Park So Yi dan Lim Soo Jung Bintangi Film The Second Child
-
Hidup Minim Sampah di Tengah Tren Belanja Online yang Tidak Ada Habisnya
-
Kenjiro Tsuda Gabung Film Anpanman, Jadi Tokoh Kunci Petualangan Pantan
-
Film Perdana dari Manga Chiikawa Ungkap Trailer Baru dan Pemeran Tambahan
-
Film The Second Child: Rahasia Shadow Fairy Tale yang Penuh Teka-teki