Novel Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie adalah sebuah karya yang menghadirkan sudut pandang anak-anak dengan cara yang tidak biasa, jujur, polos, tetapi sekaligus menyakitkan.
Cerita ini berpusat pada Salva, atau yang akrab dipanggil Ava, seorang anak perempuan yang hidup dalam keluarga yang tidak hangat.
Bahkan, panggilan yang diberikan oleh papanya, “Saliva” menjadi simbol betapa ia kerap dianggap tidak berharga.
Kisah dimulai ketika Ava dan keluarganya pindah ke Rusun Nero setelah meninggalnya Kakek Kia. Sosok Kakek Kia menjadi kenangan penting bagi Ava, terutama karena hadiah kamus yang diberikannya saat ulang tahun ketiga Ava.
Dari situlah kecintaan Ava terhadap bahasa Indonesia tumbuh. Namun, ironi muncul ketika kemampuan tersebut tidak dihargai oleh orang-orang dewasa di sekitarnya, yang lebih mengagungkan kemampuan berbahasa Inggris.
Kritik sosial yang halus ini menjadi salah satu kekuatan novel, memperlihatkan bagaimana standar “kepintaran” sering kali sempit dan bias.
Di Rusun Nero, Ava bertemu dengan seorang anak laki-laki bernama P, nama yang unik sekaligus misterius karena hanya terdiri dari satu huruf.
Pertemanan mereka menjadi inti cerita, membawa pembaca ke dalam petualangan yang perlahan membuka lapisan demi lapisan realitas yang tidak selalu indah.
Hubungan Ava dan P terasa hangat, tetapi juga penuh ketegangan yang terus berkembang hingga mencapai akhir yang mengejutkan.
Salah satu keunggulan utama novel ini terletak pada gaya bahasanya. Ziggy menulis dengan perspektif anak-anak yang terasa autentik, tanpa dibuat-buat.
Cara Ava memandang dunia terasa sederhana, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Pembaca diajak melihat realitas yang kompleks melalui lensa yang polos, sehingga emosi yang muncul terasa lebih kuat.
Narasi yang digunakan juga cenderung tidak linear dan penuh kejutan, membuat pembaca terus penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Alur cerita dalam Di Tanah Lada tergolong dinamis dan tidak mudah ditebak. Ziggy tidak memberikan kenyamanan dengan alur yang lurus atau penyelesaian yang klise.
Justru, konflik demi konflik dihadirkan secara bertahap, membangun ketegangan emosional yang memuncak di akhir cerita.
Ending-nya bisa dibilang mengejutkan sekaligus meninggalkan kesan mendalam, membuat pembaca merenung setelah menutup buku.
Dari segi tema, novel ini mengangkat isu keluarga, kekerasan emosional, persahabatan, dan cara anak-anak bertahan dalam dunia yang sering kali tidak ramah.
Tanpa harus menggurui, Ziggy berhasil menyampaikan kritik sosial yang tajam. Pembaca diajak memahami bahwa luka tidak selalu berbentuk fisik, kata-kata dan sikap juga bisa meninggalkan bekas yang dalam, terutama bagi anak-anak.
Namun, novel ini bukan tanpa kekurangan. Gaya bercerita yang unik dan kadang terasa “melompat” mungkin akan membingungkan bagi sebagian pembaca.
Tidak semua detail dijelaskan secara gamblang, sehingga membutuhkan konsentrasi lebih untuk memahami keseluruhan cerita.
Selain itu, sudut pandang anak-anak yang digunakan secara konsisten bisa terasa repetitif bagi pembaca yang mengharapkan variasi perspektif.
Meski begitu, kekurangan tersebut justru bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca yang menyukai karya sastra dengan pendekatan berbeda.
Di Tanah Lada sangat cocok untuk pembaca remaja hingga dewasa yang menyukai cerita dengan lapisan makna dan eksplorasi emosi yang dalam.
Buku ini juga pas dibaca saat ingin merenung atau mencari bacaan yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga menggugah.
Secara keseluruhan, Di Tanah Lada adalah novel yang berani, baik dari segi tema maupun teknik penceritaan. Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie berhasil menghadirkan kisah yang sederhana di permukaan, tetapi kompleks di dalam.
Ini adalah buku yang mungkin tidak akan langsung “ramah” bagi semua pembaca, tetapi justru meninggalkan jejak yang sulit dilupakan.
Baca Juga
-
Saring Sebelum Sharing: Belajar Bijak Memahami Hadis di Era Digital
-
Buku Ego is The Enemy, Ketika Ego Jadi Penghalang Sukses
-
Validasi Terbaik Saat Ingin Nyerah: Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah
-
Seni Menikmati Segala Kenyataan Hidup; Belajar Ikhlas di Setiap Keadaan
-
Menelusuri Jejak Pecel dalam Buku Katjang Tjina dalam Kuliner Nusantara
Artikel Terkait
Ulasan
-
Rencana Besar: Ketika Skandal Bank Hanya Awal dari Permainan Lebih Gelap
-
Parade Sunyi Penuh Dosa: Menguak Misteri Tersulit ala Keigo Higashino
-
Taman Galaxy Jember: Harmoni Wisata Keluarga, Satwa, dan Taman Bunga
-
Merawat Empati yang Hampir Hilang di Rumah Tanpa Cahaya
-
Menulis di Antara Gemericik Air: Ruang Ternyaman di Warung Bang Ndut Jember
Terkini
-
5 Milky Toner Niacinamide untuk Wajah Kusam dan Skin Barrier Rusak
-
Marc Marquez Tunda Perpanjangan Kontrak, Ducati Sudah Cari Pengganti?
-
Sistem Pendidikan Kita Mencetak Saya Jadi Mesin, Bukan Manusia Siap Hidup
-
Realita Dunia Orang Dewasa: Bekerja Terasa Jauh Lebih Nyaman, Efek Pimpinan Baru yang Pengertian
-
Pokemon Horizons Masuk Arc Wonder Voyage, Karakter Baru dan Ditto Terungkap