Buku Menjemput Pelangi karya Ahmad Rifa'i Rif'an dan kawan-kawan hadir seperti secangkir teh hangat di sore hari. Tidak tergesa, tetapi perlahan meresap dan meninggalkan rasa yang sulit dilupakan.
Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh puluhan penulis muda, dengan satu benang merah yang jelas, menghadirkan inspirasi hidup yang berpijak pada nilai-nilai spiritual, terutama yang bersumber dari ajaran Islam.
Sejak halaman awal, pembaca sudah diajak masuk ke suasana yang akrab, bahkan terasa dekat dengan keseharian. Salah satu penggalan cerita yang cukup membekas adalah dialog sederhana antara seorang santri dan Kiai Asyikin.
Dengan gaya yang ringan, namun menyimpan kedalaman makna, percakapan itu bermula dari sesuatu yang tampak sepele, yakni membuka mushaf Al-Qur’an secara acak.
“Bukalah dengan acak! Lalu bacalah satu ayat yang kau lihat,” titah Kiai Asyikin.
Sang tokoh utama menuruti perintah itu. Ia membuka mushaf, dan tanpa rencana, matanya tertuju pada Surah Al-Kahfi ayat ke-25. Dengan suara yang mungkin sedikit ragu, ia membacanya, lalu menerjemahkan, “Dan mereka tinggal dalam gua tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun lagi.”
Di titik ini, pembaca mungkin mengira cerita akan berlanjut seperti kisah-kisah religius biasa, sekadar peneguhan iman atau pengulangan pengetahuan yang sudah umum. Namun justru di sinilah letak kekuatan buku ini. Kiai tidak berhenti pada jawaban normatif. Ia justru menggugat cara berpikir si tokoh, dan secara tidak langsung juga menggugat kita sebagai pembaca.
“Kau tadi bilang Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar dari Rasul Muhammad. Apa mukjizat ayat yang baru saja kau baca itu?”
Pertanyaan ini seperti tamparan halus. Tokoh utama terdiam. Ia tahu isi ayat, tetapi tidak benar-benar memahami maknanya secara mendalam. Ketika Kiai melanjutkan dengan pertanyaan lanjutan, mengapa ayat itu menyebut “tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun lagi”, bukan langsung 309, suasana berubah menjadi lebih intens.
Jawaban tokoh yang polos, “Rasulullah dulu tidak menjelaskannya, Kiai,” justru memancing respons keras, “Dasar goblok! Kau ini hidup di 14 abad yang silam ya?”
Bentakan itu mungkin terasa kasar, tetapi di baliknya tersimpan kritik yang tajam: jangan berhenti pada pemahaman yang dangkal. Jangan hanya menjadi penghafal, tetapi jadilah pencari makna.
Dalam konteks ini, cerita tersebut tidak sekadar menyampaikan kisah, melainkan mendorong pembaca untuk berpikir lebih kritis terhadap teks suci, tanpa kehilangan rasa hormat.
Buku kumpulan cerpen Menjemput Pelangi ini tidak menawarkan cerita yang rumit atau penuh plot twist. Justru kesederhanaannya menjadi kekuatan utama. Setiap cerpen seperti potongan kecil kehidupan, tentang kegagalan, harapan, pencarian jati diri, hingga pergulatan iman.
Bahasa yang digunakan cenderung santai dan mudah dipahami, membuat buku ini terasa ramah bagi berbagai kalangan, terutama anak muda yang sedang berada di fase pencarian arah hidup.
Keunggulan lain dari buku ini adalah keberagaman sudut pandang. Karena ditulis oleh banyak penulis, setiap cerita membawa warna dan gaya yang berbeda. Ada yang lebih reflektif, ada yang naratif, ada pula yang terasa seperti catatan harian. Meski begitu, semuanya tetap berada dalam satu koridor, mengajak pembaca untuk menjadi pribadi yang lebih baik, tidak hanya sukses secara duniawi, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual.
Namun, sebagai sebuah antologi, buku ini juga memiliki kekurangan yang cukup terasa. Kualitas cerita tidak selalu konsisten. Ada beberapa cerpen yang terasa sangat kuat dan menggugah, tetapi ada juga yang cenderung biasa saja, bahkan terkesan terlalu normatif.
Terlepas dari itu, buku ini tetap layak dibaca, terutama bagi siapa saja yang sedang membutuhkan suntikan semangat. Buku terbitan Quanta ini tidak menggurui, tetapi mengajak berdialog. Tidak memaksa, tetapi perlahan membuka kesadaran. Seperti judulnya, Menjemput Pelangi, buku ini seolah mengingatkan bahwa keindahan hidup tidak datang dengan sendirinya, ia harus dijemput, diusahakan, dan diperjuangkan.
Intinya, membaca buku ini seperti melakukan perjalanan batin yang ringan namun bermakna. Kita mungkin tidak langsung berubah setelah menutup halaman terakhir, tetapi ada sesuatu yang tertinggal, sebuah pertanyaan, renungan, atau bahkan dorongan kecil untuk menjadi versi diri yang lebih baik. Barangkali di sanalah pelangi itu mulai tampak.
Identitas Buku
- Judul: Menjemput Pelangi
- Penulis: Ahmad Rifa'i Rif'an, dkk.
- Penerbit: Quanta
- Cetakan: I, Mei 2013
- Tebal: 176 halaman
- ISBN: 978-602-021-092-6
- Genre: Fiksi/Cerita Pendek
Baca Juga
-
Xiaomi SU7 Makin Buas, Sedan Listrik Pintar dengan Jangkauan hingga 902 Km
-
Chipset Xring O3 Xiaomi Tembus 5,22 Juta Poin AnTuTu, Penentang Snapdragon dan Dimensity?
-
Tablet Xiaomi Pad 9 Pro Max Siap Debut, Bawa Xring O3 yang Diklaim Tembus 5,22 Juta AnTuTu
-
Membaca Panji Tengkorak Karya Seno Gumira Ajidarma: dari Komik ke Disertasi
-
Laptop Galaxy Book6 Ultra Begitu Menggoda: Layar AMOLED 120Hz, RTX 5070, dan Intel Core Ultra
Artikel Terkait
Ulasan
-
Menemukan Kehangatan Sejati di Novel Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa
-
Review Film Above & Below: Drama Survival Seru dengan Konflik yang Unik!
-
Ketika Realita Membunuh Mimpi: Pelajaran Berharga dari Drakor "Dream to You"
-
Ulasan Film Gohan, Kisah Seekor Anjing yang Mengajarkan Arti Rumah
-
Manis, Canggung, dan Tulus: Kenapa Kamu Harus Nonton The Dangers in My Heart di Bioskop
Terkini
-
Bebas Iritasi! 5 Calming Pad Korea Centella Asiatica untuk Kulit Sensitif
-
Tambang Boleh Mengeruk Bumi, tetapi Wajib Mengembalikan Lahannya
-
Dilema Mahasiswa Kerja Sambil Kuliah: Pilih Cuan atau IPK?
-
Ferry Irwandi Ajak Patungan Beli Hutan Rp50 Miliar, Tapi Ada Pertanyaan Besar yang Mengganjal
-
Musibah Membawa Berkah? 5 Manfaat Tersembunyi Abu Vulkanik yang Jarang Diketahui Orang