M. Reza Sulaiman | Ryan Farizzal
Poster film Michael (IMDb)
Ryan Farizzal

Film Michael merupakan biopik musikal yang sangat dinantikan, mengisahkan perjalanan hidup legenda musik pop dunia, Michael Jackson, yang dikenal sebagai King of Pop. Disutradarai oleh Antoine Fuqua (sutradara Training Day dan The Equalizer series), film ini ditulis oleh John Logan (penulis Gladiator dan The Aviator). Produser utamanya termasuk Graham King, serta John Branca dan John McClain yang merupakan eksekutor estate Michael Jackson, sehingga film ini memiliki perspektif yang sangat dekat dengan keluarga dan warisan sang artis.

Michael tayang perdana di bioskop Indonesia pada Rabu, 22 April 2026. Di Indonesia, film ini didistribusikan oleh Universal Pictures dan sudah tersedia di berbagai jaringan bioskop besar seperti Cinema XXI, CGV, Cinepolis, dan lainnya mulai hari ini.

Tiket pra-penjualan (advance ticket sales) dibuka sejak 17 April 2026 melalui aplikasi M-Tix dan situs resmi bioskop. Durasi film sekitar 127 menit, tersedia dalam format 2D, D-BOX, serta pengalaman premium seperti Lumma Magnify 8 dan IMAX di beberapa lokasi. Secara global, film ini tayang di Amerika Serikat pada 24 April 2026, setelah premiere di Berlin pada 10 April 2026. Anggaran produksinya mencapai sekitar 155-200 juta dolar AS, menjadikannya salah satu biopik termahal dalam sejarah perfilman.

Sang Raja Pop: Di Balik Gemerlap Panggung

Salah satu adegan di film Michael (IMDb)

Cerita film ini mengikuti perjalanan Michael Jackson dari masa kecilnya sebagai bintang cilik di grup Jackson 5 di Gary, Indiana, hingga menjadi ikon global di era 1980-an. Film dimulai dengan kilas balik ke masa kecil yang penuh tekanan, di mana Michael dan saudara-saudaranya dibesarkan di bawah disiplin keras ayah mereka, Joe Jackson (diperankan Colman Domingo).

Nia Long berperan sebagai Katherine Jackson, ibu yang protektif. Jaafar Jackson, keponakan Michael Jackson sendiri (putra Jermaine Jackson), memerankan Michael dewasa dalam debut aktingnya yang mengejutkan. Juliano Krue Valdi memerankan Michael kecil. Pemeran pendukung lainnya termasuk Laura Harrier, Miles Teller, dan banyak lagi.

Narasi film fokus pada perjuangan Michael membangun karier solo setelah sukses dengan Jackson 5. Aku dan penonton yang lain disuguhkan momen ikonik seperti proses rekaman album Thriller bersama Quincy Jones, penampilan Moonwalk yang legendaris, serta tur dunia Bad World Tour yang memuncak di konser Wembley Stadium pada 1988. Film juga menyentuh sisi pribadi Michael: ambisinya yang tak kenal lelah, hubungannya dengan keluarga, hewan peliharaan seperti simpanse Bubbles, serta tekanan ketenaran yang membuatnya semakin terisolasi.

Namun, film sengaja berakhir di tahun 1988, sebelum kontroversi besar muncul di kemudian hari, dengan kartu epilog yang menyatakan “His story continues”. Ini membuatnya menjadi potret yang lebih selebrasi dan disetujui keluarga, menghindari elemen kontroversial seperti tuduhan pelecehan anak yang sering dikaitkan dengan Jackson.

Review Film Michael

Salah satu adegan di film Michael (IMDb)

Dari segi visual dan musik, Michael adalah pesta bagi para penggemar. Rekonstruksi konser dan video klip klasik seperti Beat It, Billie Jean, dan Thriller dilakukan dengan detail tinggi, meski menurutku masih kurang inovatif. Jaafar Jackson berhasil menangkap esensi vokal, gerakan tari, dan karisma pamannya dengan sangat baik; penampilannya terasa uncanny dan penuh soul. Musik asli Michael Jackson menjadi bintang utama; lagu-lagu hits diputar utuh, memberikan pengalaman emosional yang kuat, terutama bagi generasi yang tumbuh dengan Thriller dan Bad. Sinematografi oleh Dion Beebe mendukung dengan baik, meski arahan Fuqua terasa konvensional, seperti biopik musik pada umumnya.

Secara keseluruhan, Michael adalah film yang menghibur sekaligus kaya akan nostalgia. Akan tetapi, film ini kalau menurutku terlalu "dibersihkan" atau disanitasi, sehingga terasa terlalu aman dan kurang berani. Selain itu dari segi ceritanya sendiri terasa datar, penuh klise, serta tidak cukup mendalami sisi gelap kehidupan Michael Jackson. Akibatnya, film ini lebih terasa seperti daftar putar lagu yang difilmkan daripada sebuah drama yang mendalam dan bermakna. Dialog-dialognya cenderung fungsional tanpa nuansa emosional yang kaya, sementara struktur cerita yang kronologis membuat alur terasa seperti montase panjang yang kurang dinamis.

Di sisi lain, film ini berhasil menyajikan kedalaman emosional di balik perjalanan kesuksesan Michael, serta menunjukkan chemistry yang kuat antara Jaafar Jackson dengan kamera. Bagi para penggemar berat Michael Jackson, film ini terasa seperti sebuah tribute yang pantas, sebuah penghormatan yang hidup untuk merayakan bakat luar biasa sang Raja Pop tanpa terlalu mencemari citra dan warisannya.

Di Indonesia, di mana Michael Jackson memiliki basis penggemar yang sangat besar sejak era 80-an, kurasa film ini akan ramai penontonnya. Banyak yang datang bukan hanya untuk cerita, tapi untuk bernostalgia dengan lagu-lagu yang mengiringi masa kecil atau remaja mereka. Suasana bioskop di hari pertama tayang pada 22 April 2026 sudah terasa meriah, dengan penjualan tiket yang cepat di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan. Bagi yang ingin pengalaman maksimal, kusarankan memilih kursi D-BOX atau IMAX agar getaran tari Moonwalk dan dentuman bass Thriller terasa lebih hidup.

Kelemahan utama film ini adalah kurangnya keberanian dalam menggambarkan kompleksitas manusia di balik superstar. Michael digambarkan sebagai sosok jenius yang rapuh, tapi hampir selalu tersenyum dan penuh semangat, tanpa banyak konflik internal yang mendalam. Ini kontras dengan biopik lain yang lebih gelap seperti Rocketman atau Elvis. Akan tetapi, sebagai hiburan murni, Michael berhasil menyampaikan pesan bahwa musik Michael mengubah dunia, dari anak kecil di Gary yang bermimpi besar hingga entertainer terbesar sepanjang masa.

Secara teknis, editing Conrad Buff IV mengalir lancar, meski transisi kilas balik kadang terasa mendadak. Desain produksi dan kostum sangat akurat mereproduksi era Motown hingga era Bad, termasuk jaket merah ikonik dan sarung tangan sequin. Skor musik oleh Lior Rosner melengkapi lagu-lagu asli dengan baik. Buat kita yang di Indonesia, film ini juga menjadi pengingat bagaimana budaya pop Barat begitu merasuk ke masyarakat kita. Lagu-lagu Michael sering diputar di acara sekolah, pesta, hingga karaoke keluarga. Menonton Michael di bioskop terasa seperti merayakan bagian dari kenangan kolektif itu.

Kesimpulannya, Michael bukan film sempurna, tapi ia adalah pengalaman yang menghibur dan emosional bagi siapa saja yang mencintai musik pop. Jaafar Jackson adalah penemuan besar, dan Fuqua berhasil menghidupkan kembali momen-momen magis yang membuat Michael abadi. Kalau kamu penggemar Jackson, jangan lewatkan di bioskop; rasakan energinya di layar lebar. Bagi yang baru mengenal, ini bisa menjadi pintu masuk yang menyenangkan ke dunia King of Pop. Film ini mengingatkan kita bahwa di balik kontroversi, bakat Michael Jackson tetap tak tertandingi. Rating pribadi: 7/10. Layak ditonton sekali, terutama kalau kamu siap bernostalgia dengan playlist terbaik sepanjang masa!