“Dan, dengan tetap bekerja kau mencintai kehidupan sebenar-benarnya. Dan, mencintai kehidupan dengan bekerja berarti menjadi akrab dengan rahasia hidup yang paling dalam.”
Almustafa merupakan sebuah karya monumental yang merupakan representasi dari pemikiran penulisnya, yakni Kahlil Gibran, yang pertama kali terbit pada tahun 1923.
Pada literatur aslinya, buku ini memiliki judul The Prophet, namun banyak yang menerjemahkan buku ini dengan berbagai versi, salah satunya adalah yang diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono dengan judul Almustafa.
Almustafa sendiri dalam buku tersebut merupakan seorang tokoh protagonis yang diceritakan hendak kembali ke negeri asalnya dengan menaiki sebuah kapal.
Namun, niat tersebut harus tertunda ketika dirinya mendapat berbagai pertanyaan yang diajukan oleh penduduk Kota Orphalese. Almustafa dengan cerdas menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut sekaligus sebagai bentuk wejangan bagi mereka.
Makna Kerja dalam Pandangan Almustafa: Bekerja Berarti Mencintai Kehidupan Sebenar-benarnya
Dalam bab tentang bekerja, Almustafa menanggapi pertanyaan seorang pembajak yang meminta wejangan tentang hakikat bekerja.
Tanggapan Almustafa mematahkan pandangan lama tentang pekerjaan fisik yang dianggap kasar dari kehidupan spiritual yang dianggap suci. Ia berpandangan bahwa keduanya tidak perlu dipisahkan, tetapi bisa berjalan berdampingan.
Kahlil Gibran, melalui tokoh Almustafa, mengatakan bahwa bekerja adalah sarana bagi manusia untuk tetap selaras dengan irama bumi dan jiwa alam semesta.
Penulis menggambarkan bahwa berdiam diri atau memilih untuk menganggur tentu dapat menyebabkan kehilangan produktivitas ekonomi. Lebih dari itu, hal tersebut juga dapat menyebabkan keterasingan eksistensial bagi diri seseorang.
Menjadi orang yang malas berarti menjadi orang asing bagi musim-musim kehidupan dan melangkah keluar dari proses kehidupan yang agung yang berjalan menuju keabadian.
Dalam hal ini, kerja diposisikan sebagai napas kehidupan itu sendiri. Jika seseorang berhenti bekerja dengan benar, ia seolah-olah sedang berhenti bernapas dalam hidupnya.
Karena bekerja dimaknai sebagai proses memenuhi sebagian dari mimpi terjauh dari bumi, yang dibebankan kepada kita ketika mimpi itu lahir.
Kerja sebagai Bentuk Cinta: Cinta Kepada Diri Sendiri, Orang Lain dan Kepada Tuhan
Dalam sebuah kalimat penulis menuliskan bahwa "kerja adalah cinta yang kasat mata". Karena dengan cita pekerjaan yang paling membosankan sekalipun akan berubah menjadi aktivitas menyenangkan dan sakral.
Penulis berargumen bahwa jika seseorang bekerja tanpa cinta tetapi hanya dengan rasa jijik atau keterpaksaan, maka hasil kerjanya akan menjadi roh pahit yang tidak akan pernah bisa memuaskan lapar batin manusia.
Konsep ini juga berhasil mematahkan kosep bahwa kerja berdasarkan kewajiban menjadi ekspresi emosional dan spiritual yang paling tinggi.
Justru dengan memasukkan konsep cinta, sebuah pekerjaan tidak lagi dilihat sebagai aktivitas transaksi antara tenaga dan uang, melainkan sebagai bentuk dan proses pemberian diri.
Hal ini juga menegaskan bahwa kualitas batiniah pekerja (niat dan perasaan) jauh lebih penting daripada kuantitas hasil yang dicapai secara fisik.
Dengan demikian, Kahlil Gibran dalam bab mengenai bekerja ini ingin menyampaikan bahwa, bekerja juga merupakan bentuk ibadah panjang selama kita hidup di dunia.
Dan ketika kita bekerja, berarti dengan cinta kita sedang berusaha untuk akrab dengan rahasia hidup yang paling dalam. Dalam sebuah lirik lagu disampaikan bahwa "bekerjalah tuk duniamu, seakan kau hidup selamanya".
Potongan lirik tersebut relevan dengan konsep bahwa bekerja dimaknai sebagai proses memenuhi sebagian dari mimpi terjauh dari bumi.
Masih banyak hal yang dibahas dalam buku Almustafa ini bukan hanya bab tentang bekerja saja, pembahasan lain seperti tentang persahabatan, kebahagiaan, tentang penderitaan, dan masih banyak lagi.
Jika kamu suka dengan karya sastra klasik dengan gaya bahasa yang puitis, maka buku Almustafa karya Kahlil Gibran ini sangat cocok untuk kamu baca.
Baca Juga
-
Kejahatan Moral Institusi Peradilan dalam Novel 86 Karya Okky Madasari
-
Penebusan Dosa Masa Lalu dalam Novel The Kite Runner Karya Khaled Hosseini
-
Dari Novel ke Film: The Housemaid Sebuah Thriller Psikologis yang Mencekam
-
Obsesi Kekuasaan dan Keserakahan Manusia atas Alam dalam Novel Aroma Karsa
-
Advokasi Gender dalam Novel Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam
Artikel Terkait
-
Sastra Sebagai Perlawanan: Membaca Ulang Luka Bangsa dalam Iblis Tidak Pernah Mati
-
Sang Pengembara: Jejak Sunyi yang Menuntun Manusia Pulang ke Diri Sendiri
-
Capek-Capek Eka Kurniawan Masuk Nominasi Man Booker, Saingannya Cuma AU!
-
Senja dan Cinta yang Berdarah: Ketika Sastra Jadi Cara Melawan Pembungkaman
-
Ajaklah Tuhan ke Tanah Jawa: Antara Fakta Sejarah dan Hubungan Spiritual
Ulasan
-
Jejak Darah Para Godfather: Membaca The Mafia's Greatest Hits
-
Review Anime Sengoku Youko, Youkai yang Ingin Menjadi Manusia
-
Assassination Classroom the Movie: Sebuah Ikatan Kuat Antara Guru dan Murid
-
Kejahatan Moral Institusi Peradilan dalam Novel 86 Karya Okky Madasari
-
Ulasan Film Miss You, Love You: Terkadang Ada Luka yang Nggak Bisa Sembuh
Terkini
-
Menambal Kebocoran Sistemis: Menakar Solusi Less Waste dari Hulu ke Hilir
-
Tiru Cara Orang Jepang: Bawa Kantong Plastik Kecil untuk Wadah Sampah Kita
-
Ketika Rasio Utang jadi Alat Pembenaran: Membaca Utang Negara secara Utuh
-
Menyoal Budaya Flexing di Media Sosial: Takut Miskin atau Takut Tak Terlihat Sukses?
-
Creator Merchant Makin Ramai, Event Jejepangan Ikut Dorong Industri Kreatif