Di suatu tempat, ada sesuatu yang bikin merinding dari cerita anak-anak yang terdampar di pulau kosong. Bukan karena mereka sendirian, tapi karena kebersamaan itu sendiri
‘Lord of the Flies’ yang rilis di Netflix sejak 4 Mei 2026 membuktikan lagi satu hal: manusia, bahkan sejak usia belia, bisa berubah jadi sesuatu yang jauh lebih liar dari yang kita bayangkan lho.
Diadaptasi dari novel klasik karya William Golding tahun 1954, kisah ini sebenarnya sudah beberapa kali diangkat ke layar. Namun, butuh lebih dari tujuh dekade sampai akhirnya cerita ini hadir dalam format series. Dan ternyata, format inilah yang paling pas untuk menguliti perlahan bagaimana peradaban bisa runtuh, bahkan di tangan anak-anak.
Sekilas Kisah Seres Lord of the Flies
Ceritanya mengikuti sekelompok anak sekolah Inggris yang terdampar di pulau terpencil setelah pesawat mereka jatuh di tengah situasi perang. Tanpa kehadiran orang dewasa, mereka dipaksa bertahan hidup sambil perlahan kehilangan sisi kemanusiaan mereka sendiri.
Tokoh Ralph yang diperankan Winston Sawyers awalnya berusaha menjaga ketertiban dan harapan agar mereka bisa diselamatkan. Bersama Piggy, karakter cerdas tapi sering diremehkan yang dimainkan David McKenna, Ralph menggunakan keong laut sebagai simbol aturan dan demokrasi untuk menyatukan anak-anak lain di pulau tersebut.
Namun, keadaan mulai berubah ketika Jack, yang diperankan Lox Pratt, semakin terobsesi pada kekuasaan dan perburuan liar. Ketakutan tentang sosok ‘monster’ misterius di pulau membuat kelompok anak-anak itu terpecah. Jack kemudian membentuk kelompok sendiri yang suka kekerasan, intimidasi, dan fanatisme brutal.
Di tengah kekacauan itu, Simon yang diperankan Ike Talbut menjadi satu-satunya anak yang mulai memahami bahwa ‘monster’ sebenarnya bukan makhluk di luar sana, melainkan sisi gelap manusia itu sendiri. Sayangnya, rasa takut dan kegilaan massa membuat tragedi demi tragedi terjadi hingga moralitas mereka runtuh.
Penasaran, kan? Buruan cek Netflix deh!
Review Series Lord of the Flies
Buat yang pernah nonton ‘Lost’ atau ‘Yellowjackets’, vibe-nya pasti terasa familier: sekelompok orang terdampar, misteri mulai muncul, dan batas antara realita dan halusinasi makin kabur.
Namun, penulis Jack Thorne dan sutradara Marc Munden nggak sekadar ikut arus. Mereka bahkan memanfaatkan ekspektasi penonton masa kini untuk memperkuat atmosfer cerita. Hasilnya? Kita bukan cuma nonton survival story, tapi juga perjalanan psikologis yang makin gelap di tiap episodenya.
Jujurly, visualnya cakep. Hutan terlihat aneh (berwarna pink dan oranye neon, berkat penggunaan kamera inframerah. Pada dasarnya itu bukan sebatas gaya, tapi semacam estetika visual yang merangsang penonton buat merasakan ‘ada yang salah dan nggak beres’. Ditambah dengan bayangan samar di kejauhan, sosok yang mungkin nyata atau cuma ilusi, serta mimpi buruk yang dialami para karakter, semuanya menyatu menciptakan ketegangan psikologis. Bahkan konsep ‘monster’ yang ditakuti anak-anak terasa ambigu, apakah itu makhluk nyata, atau refleksi dari ketakutan mereka sendiri?
Series ini dibagi empat episode, masing-masing fokus ke satu karakter utama:
- Ralph (pemimpin alami)
- Jack (agresif dan dominan)
- Simon (sensitif dan penuh empati)
- Piggy (cerdas tapi sering diremehkan)
Pendekatan ini bikin kita lebih memahami latar belakang mereka. Nah, salah satu perubahan menarik dari versi novel: karakter Simon digambarkan memiliki perasaan romantis terhadap Jack. Detail ini menambah kompleksitas hubungan mereka. Bukan cuma konflik kekuasaan, tapi juga emosi yang lebih personal dan rapuh. Duh!
Yang menarik lagi, mayoritas pemainnya masih muda dan belum terlalu dikenal. Biarpun gitu, interaksi mereka nggak terasa dibuat-buat.
Terlepas dari perubahan orientasi seksualnya, seperti versi novel, cerita ini tetap menuju arah yang gelap: konflik berubah jadi kekerasan. Namun, series kni cukup bijak dengan nggak berlebihan dalam menampilkan adegan brutal, justru lebih fokus pada dampak emosionalnya.
Kesimpulannya, ‘Lord of the Flies’ bukan sekadar adaptasi ulang. Ini adalah versi yang lebih dalam, lebih atmosferik, dan lebih relevan dengan penonton masa kini.
Maka dari itu, keputusan menonton ada pada Sobat Yoursay sendiri. Bijaklah menonton dan selamat bersenang-senang.
Baca Juga
-
Review Bumi Manusia Extended: Versi yang Akhirnya Lebih Utuh dan Emosional
-
The Last House Seharusnya Menjadi Film Tentang Keluarga Bukan Monster
-
10 Momen Kece yang Wajib Kamu Tahu sebelum Nonton Spider-Man: Brand New Day
-
Andai Waktu Bisa Diulang Kembali: Saat Kemiskinan Merampas Kebebasan Cinta
-
Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula, Film Anak Nggak Harus Kekanak-kanakan
Artikel Terkait
-
Kisah Dante Berlanjut, Devil May Cry Season 2 Tayang 12 Mei di Netflix
-
Rilis di Netflix, Straight to Hell Kuak Sisi Lain Peramal Terkenal Sedunia
-
7 Film Netflix yang Wajib Kamu Tonton Mei 2026: Awas, Ada yang Bikin Susah Tidur!
-
Pilihan Redaksi: 5 Film Netflix Siap Isi Malam Minggu dengan Adrenalin
-
nubia Neo 5 Series Siap Masuk RI, HP Gaming dengan Kipas Pendingin Aktif
Ulasan
-
Membongkar Dosa Besar Para Anak Rantau Lewat Lagu Sesi Potret
-
Di Balik Sepiring Dimsum: Membaca Ulang Makna Keluarga di Novel Clara Ng
-
Bosan Dimsum Mentai? Ini 5 Kuliner Nusantara di Nganjuk yang Patut Dicoba
-
Review Perfect Family: Keluarga Sempurna yang Ternyata Menyimpan Rahasia
-
The Skull Karya Jon Klassen, Dongeng Gelap yang Justru Terasa Menggemaskan
Terkini
-
Period Poverty dalam Ketimpangan Kelas: Menggugat Hak Dasar Tubuh Perempuan
-
Viral Karena TikTok, Menkes Ungkap Manfaat Luar Biasa Umbi Kimpul untuk Kesehatan
-
HUT ke-81 RI dan Kebebasan Digital: Saatnya Merdeka dari Scroll Tanpa Henti
-
4 Facial Wash Anti-Aging Rawat Elastisitas Kulit, Harga Murah Rp30 Ribuan
-
Indonesia Hadapi Peserta Piala Dunia 2026, Cape Verde Jadi Kandidat Kuat?