Ada luka yang tidak meninggalkan bekas di tubuh, tetapi diam-diam tinggal bertahun-tahun di dalam diri seseorang. Luka itu bisa muncul dalam bentuk rasa hampa, sulit percaya pada orang lain, takut ditolak, hingga kebiasaan menyalahkan diri sendiri.
Buku How to Heal Your Inner Child: Mengatasi Trauma Masa Lalu dan Pengabaian Emosional pada Anak karya Simon Chapple mencoba menjelaskan bahwa banyak persoalan emosional orang dewasa sebenarnya berakar dari masa kecil yang belum selesai.
Buku yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo ini menjadi salah satu bacaan populer tentang konsep inner child, yakni sisi diri kita yang masih menyimpan pengalaman, luka, dan kebutuhan emosional sejak kecil.
Isi Buku
Simon Chapple menulis buku ini bukan sekadar berdasarkan teori, tetapi juga pengalaman pribadinya menghadapi kecanduan alkohol yang ternyata berakar dari pengabaian emosional semasa kecil.
Melalui buku ini, Chapple mengingatkan bahwa seseorang tidak bisa benar-benar hidup sehat secara emosional jika terus mengabaikan luka masa lalunya. Banyak orang tumbuh dewasa dengan kemampuan akademik yang baik, pekerjaan yang stabil, bahkan relasi sosial yang terlihat normal, tetapi di dalam dirinya ada ruang kosong yang tidak pernah terisi.
Salah satu bagian paling menarik dari buku ini adalah sepuluh pertanyaan reflektif yang diajukan kepada pembaca.
Pertanyaan seperti apakah kamu merasa hampa? Apakah kamu terlalu sensitif terhadap penolakan? Atau apakah kamu memiliki perilaku adiktif?
Menjadi semacam cermin yang memaksa pembaca melihat dirinya lebih jujur. Bagi sebagian orang, pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terasa sederhana. Namun justru kesederhanaannya membuat banyak orang tersadar bahwa ada luka yang selama ini mereka anggap normal.
Menurut Chapple, anak yang mengalami pengabaian emosional cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang kesulitan membangun hubungan aman dan sehat. Mereka bisa merasa tidak cukup baik, terlalu keras terhadap diri sendiri, atau justru mencari pelarian lewat berbagai bentuk kecanduan.
Tidak selalu alkohol atau narkoba. Kecanduan juga bisa hadir dalam bentuk makan berlebihan, belanja impulsif, bekerja tanpa henti, bahkan olahraga secara obsesif.
Kelebihan dan Kekurangan
Yang menarik, buku ini tidak sekadar berhenti pada identifikasi masalah. Chapple menawarkan pendekatan bertahap untuk pemulihan. Ia mengajak pembaca mengenali emosi, menerima pengalaman masa lalu, dan mulai membangun belas kasih terhadap diri sendiri. Konsep ini penting karena banyak orang terbiasa memusuhi dirinya sendiri.
Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa menangis adalah kelemahan, marah adalah dosa, dan kebutuhan emosional adalah sesuatu yang memalukan.
Padahal, manusia membutuhkan kasih sayang emosional sebagaimana tubuh membutuhkan makanan. Ketika kebutuhan itu tidak terpenuhi di masa kecil, luka tersebut tidak hilang begitu saja. Ia hanya berpindah bentuk dan muncul dalam kehidupan dewasa.
Sudut pandang Chapple mungkin terlalu keras terhadap orang tua, terutama dalam membahas toxic parenting dan kekerasan emosional. Dalam beberapa bagian, buku ini terkesan menempatkan orang tua sebagai sumber utama luka anak tanpa banyak membahas kompleksitas keadaan yang mungkin mereka hadapi.
Pesan Moral
Buku ini memang ditulis dengan bahasa ringan dan praktis sehingga mudah dipahami pembaca umum. Namun bagi mereka yang terbiasa membaca teori psikologi klinis atau trauma secara akademis, isi buku ini mungkin terasa terlalu dasar.
Meski begitu, justru kesederhanaan itulah yang menjadi kekuatan buku ini. Chapple berhasil membuat tema yang rumit menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia tidak berbicara seperti psikolog di ruang seminar, melainkan seperti seseorang yang pernah jatuh dan ingin membantu orang lain bangkit.
Buku ini juga memberi pesan penting bahwa menyembuhkan inner child bukan berarti terus hidup sebagai korban masa lalu. Penyembuhan bukan tentang menyalahkan orang tua selamanya, tetapi tentang memahami luka agar tidak terus diwariskan kepada diri sendiri maupun orang lain.
Pada akhirnya, How to Heal Your Inner Child mengajarkan bahwa memulihkan diri adalah bentuk keberanian. Sebab tidak semua orang sanggup menengok kembali masa kecilnya, menerima luka-luka yang ada, lalu perlahan belajar memeluk dirinya sendiri dengan lebih lembut.
Identitas Buku
- Judul: How To Heal Your Inner Child
- Penulis: Simon Chapple
- Penerjemah: Noviatri
- Penerbit: Elex Media Komputindo
- Tahun Terbit: 2024
- ISBN: 9786230050480
- Tebal: 351 Halaman
- Kategori: Psikologi, Self Help
Baca Juga
-
Apa Arti Kemajuan Jika Alam Tak Lagi Bisa Bertahan?
-
Kita Bertengkar dengan Sesama, Padahal yang Harus Ditagih adalah Negara
-
Warung Bu Sastro: Ketika Bisnis Tidak Cuma Soal Menghitung Untung
-
Ketika Gedung Koperasi Berdiri, tetapi Usahanya Belum Tentu Hidup
-
Di Balik Sepiring Dimsum: Membaca Ulang Makna Keluarga di Novel Clara Ng
Artikel Terkait
-
Melayani untuk Memimpin: Menemukan Makna Kepemimpinan dalam Built to Serve
-
Millennials Kill Everything: Cara Pikir yang Mengubah Peta Bisnis Dunia
-
Buku Untukmu yang Mudah Rapuh: Kerapuhan Adalah Pintu Menuju Pemulihan
-
Menyusuri Lorong Waktu dan Mental dalam Buku Puisi Sarinah Karya Esha Tegar
-
Misteri Buku Terlarang dan Obsesi Intelektual dalam The Rule of Four
Ulasan
-
Ulasan Kapan Nanti: Delapan Kisah Surealis tentang Trauma dan Kepahitan Hidup
-
Ulasan Pramuka: Jejak Langkah Sang Penggalang di Tengah Belantara Sunyi
-
The Last House: Premis Menjanjikan yang Gagal Dieksekusi secara Maksimal
-
The End of Oak Street Pamer Dinosaurus Sampai Misterinya Lupa Dikupas
-
Lagu 'Astaga Bercanda' Viral dan Bikin Baper: Cerita Cinta Segitiga yang Dibalut Tawa
Terkini
-
V BTS Ungkap Alami Gangguan Pendengaran, Makin Buruk saat Jalani Wamil
-
Fan Siap-siap! D.O. EXO Gelar Konser di Jakarta pada 21-22 November 2026
-
Jelang HUT ke-81 RI, 81 Pesawat hingga Rafale Bakal Hiasi Langit Istana Merdeka
-
Polemik Hafalan Al-Qur'an dan Hadiah Miras: Ketika Gimik Marketing Menabrak Sakralitas Agama
-
Atasi Ketergantungan Energi Fosil, ITS Kembangkan Pembangkit Hibrida Angin dan Surya