Hayuning Ratri Hapsari | Rahel Ulina Br Sembiring
The Midnight Darlings (Instagram/@themidnightdarlings)
Rahel Ulina Br Sembiring

Sebagai pencinta musik elektronik, jujur saja saya sering merasa "haus" dengan rilisan lokal yang pas di telinga. Di Indonesia, referensi saya biasanya mentok di Weird Genius. Tapi bagi saya pribadi, kadang lagu-lagu mereka terasa terlalu berat ke arah DJ set.

Saya tipe pendengar yang mencari sentuhan elektronik tapi tetap punya nyawa melodic yang kuat. Nah, di tengah pencarian itu, saya akhirnya menemukan The Midnight Darlings.

Grup ini bukan sembarang kolaborasi. Ini adalah pembuktian baru bagi Vanesha Prescilla. Selama ini kita mengenal Vanesha lewat aktingnya yang ikonik, namun kini ia resmi mengukuhkan eksistensinya di industri musik sebagai vokalis tetap dalam trio bersama sang kakak, Jevin Julian (keys), dan Aldrienko Pakusadewo (gitar). Lewat single terbaru mereka bertajuk “Am I Loving You Alone?”, Vanesha menunjukkan bahwa vokalnya punya tempat tersendiri di genre dreamy electronic.

Chemistry Kakak-Adik yang "Klik"

Sebenarnya, kolaborasi Vanesha dan Jevin bukan hal baru. Sebelumnya, mereka pernah merilis lagu "Lost in Motion". Namun, di The Midnight Darlings, posisinya berbeda karena ini adalah sebuah trio.

Dari sisi aransemen, Jevin Julian memang tidak perlu diragukan. Begitu lagu dimulai, telinga kita langsung disambut dengan intro synth yang dreamy banget, khas 90-an. Jevin tahu betul cara meramu musik yang modern tapi tetap membawa memori nostalgia.

Bedah Lirik: Curhatan Pengagum Rahasia

Lagu ini adalah "lagu wajib" buat kalian para pengagum rahasia alias secret admirer. Liriknya sangat menggambarkan bagaimana fantasi-fantasi kecil berputar di kepala saat kita menyukai seseorang.

Pada Verse 1, kita diajak masuk ke perasaan kagum yang membuat seseorang bertingkah konyol:

Hey you, pretty looking

Got me acting stupid over and over

Oh, I’ve been wanting to tell you 

That I need you

And I crave you 

And I wanna be closer

Masuk ke bagian Pre-Chorus, di sini saya merasa suara Vanesha sangat match dengan musiknya. Karakter vokalnya tidak "menyerang" atau berusaha pamer teknik yang berlebihan, melainkan tenang dan melengkapi nuansa yang dibangun Jevin dan Aldrienko.

All I want is us

All I want is you, yeah you...

Antara Fantasi dan Realita 

Puncak emosinya ada di bagian Chorus. Ini adalah momen ketika sang pengagum mulai mempertanyakan status perasaannya. 

Say you feel it when you’re next to me

Tell me this is more than fantasy

Would you be with me?

Am I loving you alone?

Di Verse 2, lagunya terasa semakin personal. Ada penggambaran tentang rasa gugup yang luar biasa saat orang yang disukai memanggil nama kita. Rasanya ingin kabur, tapi di sisi lain hati merasa sangat senang sampai "mati dengan senyuman".

I’m petrified when you call my name

Saying hi to me

Can’t even look at you ’cause I might

Die with a smile on my face

Penutup

Keputusan Vanesha untuk serius menjadi vokalis di The Midnight Darlings menurut saya adalah langkah yang cerdas. Ia tidak mencoba menjadi penyanyi pop, melainkan memilih jalur elektronik yang lebih berkarakter.

Bagi kalian yang sedang jatuh cinta atau terjebak dalam fantasi mencintai sendiri, lagu ini bakal terasa sangat relate. Dengan perpaduan gitar dari Aldrienko yang manis dan beat elektronik dari Jevin, "Am I Loving You Alone?" sukses menjadi angin segar di industri musik tanah air.