Generasi milenial sering dituduh sebagai biang kerok perubahan zaman. Mereka dianggap membunuh banyak hal. Pusat perbelanjaan, iklan televisi, motor gede, cara kerja kantoran, bahkan industri berlian.
Tuduhan itu terdengar berlebihan kini, tetapi justru itulah yang dibahas secara menarik dalam buku Millennials Kill Everything karya Yuswohady, Farid Fatahillah, Budi Tryaditia, dan Amanda Racmaniar.
Buku yang terbit pada 2019 ini berawal dari tulisan viral di blog Yuswohady.com berjudul How Millennials Kill Everything. Dari sana, para penulis mencoba membaca satu fenomena besar. Bagaimana perubahan perilaku generasi milenial perlahan menggeser pola konsumsi, gaya hidup, hingga strategi bisnis di berbagai industri.
Isi Buku
Judulnya memang bombastis, tetapi isi bukunya cukup relevan untuk memahami perubahan sosial yang sedang terjadi di sekitar kita.
Istilah “membunuh” di sini tentu bukan dalam arti harfiah. Maksudnya adalah milenial membuat banyak produk, layanan, dan kebiasaan lama kehilangan relevansi.
Generasi ini tumbuh bersama internet, media sosial, dan teknologi digital. Akibatnya, mereka memiliki cara berpikir yang berbeda dibanding generasi Baby Boomers atau Gen X.
Kalau generasi lama melihat kepemilikan barang sebagai simbol kesuksesan, milenial justru lebih menyukai pengalaman. Bagi milenial, hidup praktis dan fleksibel terasa lebih penting daripada menumpuk aset.
Fenomena ini membuat banyak industri terguncang. Contohnya industri otomotif. Dulu memiliki mobil adalah impian besar anak muda. Kini banyak milenial lebih memilih transportasi online. Alasannya sederhana: lebih murah, praktis, dan tidak ribet. Mereka tidak perlu memikirkan cicilan, servis, bensin, parkir, atau pajak kendaraan.
Perubahan pola pikir ini sebenarnya menunjukkan bahwa milenial tidak anti terhadap konsumsi, tetapi mereka lebih selektif. Mereka membeli sesuatu berdasarkan fungsi dan pengalaman, bukan semata gengsi.
Hal lain yang menarik dari buku ini adalah pembahasan tentang dunia kerja. Generasi milenial dianggap pelopor dari pudarnya budaya kerja 9-to-5 yang kaku di era Gen Z saat ini. Mereka lebih menyukai sistem kerja fleksibel, work from home, dan lingkungan kerja yang santai. Kantor bukan lagi sekadar tempat mencari uang, tetapi juga ruang mencari makna dan kenyamanan hidup.
Bagi generasi sebelumnya, loyalitas kerja sering diukur dari berapa lama seseorang bertahan di satu perusahaan. Namun milenial cenderung berpindah-pindah pekerjaan jika merasa tidak berkembang atau tidak bahagia. Passion, kesehatan mental, dan work-life balance menjadi pertimbangan penting.
Pandangan ini dulu sering dianggap manja. Tetapi pandemi COVID-19 membuktikan bahwa sistem kerja fleksibel memang memungkinkan. Banyak perusahaan akhirnya menyadari bahwa produktivitas tidak selalu bergantung pada kehadiran fisik di kantor selama delapan atau sembilan jam sehari.
Di bidang pemasaran, buku ini juga menjelaskan bagaimana milenial “membunuh” iklan tradisional. Generasi ini lebih percaya review influencer, konten media sosial, dan pengalaman pengguna dibanding iklan televisi yang satu arah. Mereka tumbuh di era informasi terbuka sehingga lebih kritis terhadap brand.
Karena itu perusahaan yang tidak jujur atau tidak mampu beradaptasi akan cepat ditinggalkan. Brand hari ini tidak cukup hanya menjual produk bagus. Mereka juga harus punya nilai, cerita, dan kedekatan emosional dengan konsumen.
Kelebihan dan Kekurangan
Buku ini menyadarkan saya bahwa setiap generasi dipengaruhi oleh generasi yang lain. Adanya gen Z yang sekarang juga tak lepas dari peran gen Milenial. Buku ini membuka realita bahwa setiap generasi berperan sesuai zamannya masing-masing.
Beberapa pembahasannya terasa terlalu menyederhanakan perilaku milenial. Misalnya anggapan bahwa milenial lebih sadar kesehatan dan lingkungan. Kenyataannya tidak selalu begitu. Tren makanan viral tinggi gula, budaya konsumtif online shopping, hingga gaya hidup impulsif juga banyak dilakukan generasi ini.
Selain itu, tidak semua milenial hidup nyaman dengan fleksibilitas digital. Banyak anak muda tetap bekerja keras dalam sistem kerja tradisional karena tuntutan ekonomi. Jadi, gambaran milenial dalam buku ini terkadang terlalu urban dan kelas menengah.
Meski begitu, Millennials Kill Everything tetap menarik dibaca, bagi siapa saja yang ingin memahami perubahan perilaku generasi muda. Bahasa yang ringan, pembahasan singkat, serta banyak contoh sehari-hari membuat buku ini mudah dicerna.
Pada akhirnya, buku ini menyampaikan satu pesan penting: dunia terus berubah, dan generasi muda selalu menjadi motor perubahan itu.
Produk, industri, bahkan cara hidup yang tidak mampu beradaptasi memang bisa “dibunuh”. Bukan karena milenial jahat, melainkan karena mereka hidup di zaman dengan kebutuhan, teknologi, dan cara pandang yang berbeda.
Identitas Buku
- Judul: Millennials Kill Everything
- Penulis: Yuswohady, Farid Fatahillah, Budi Tryaditia, Amanda Racmaniar
- Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
- Tahun Terbit: 2019
- ISBN: 978-602-06-2946-9
- Tebal: 318 Halaman
- Kategori: Business Management & Leadership.
Baca Juga
-
Melayani untuk Memimpin: Menemukan Makna Kepemimpinan dalam Built to Serve
-
Misteri Buku Terlarang dan Obsesi Intelektual dalam The Rule of Four
-
Di Balik Layar Kaca: Ketika Nasionalisme Dibentuk oleh Film dan Emosi Massa
-
Membaca Ulang Makna Self Love di Buku Astri Kartika
-
Belajar Melepaskan Hal yang Tak Bisa Dikendalikan di Buku Mindful Life
Artikel Terkait
Ulasan
-
Novel The Devotion of Suspect X: Sebuah Upeti untuk Logika yang Salah Jalan
-
Buku Untukmu yang Mudah Rapuh: Kerapuhan Adalah Pintu Menuju Pemulihan
-
Melayani untuk Memimpin: Menemukan Makna Kepemimpinan dalam Built to Serve
-
Menyusuri Lorong Waktu dan Mental dalam Buku Puisi Sarinah Karya Esha Tegar
-
Review Serial The Penguin: Suguhkan Kekerasan Realistis di Kota Gotham!
Terkini
-
Tumit Kasar Jadi Mulus: Ini 5 Foot Cream Andalan untuk Kulit Pecah-Pecah!
-
Ketika Tidak Ada Ruang Rapuh untuk Perempuan: Kuat Jadi Terasa Melelahkan
-
Jadwal MotoGP Catalunya 2026: Marc Marquez Absen, Aprilia Berkuasa Lagi?
-
Dramatis! NMIXX Ekspresikan Cinta yang Mendalam di Lagu Heavy Serenade
-
Sisi Gelap Hustle Culture: Saat Produktivitas Berubah Menjadi Racun