Lintang Siltya Utami | aisyah khurin
Enam Mahasiswa Pembohong [Goodreads]
aisyah khurin

Proses mencari kerja sering kali digambarkan sebagai jembatan emas menuju masa depan yang mapan. Namun, di balik senyum ramah staf personalia dan portofolio pelamar yang mengilap, terdapat sebuah panggung sandiwara yang penuh dengan kepura-puraan. Realitas pahit inilah yang dibongkar secara tajam oleh Akinari Asakura dalam novelnya yang berjudul Enam Mahasiswa Pembohong.

Novel thriller psikologis ini pertama kali terbit di Jepang pada tahun 2021 dan langsung menarik perhatian luas hingga dinominasikan dalam penghargaan bergengsi seperti Honya Taisho (Bookstore Grand Prize) tahun 2022 serta Yoshikawa Eiji Literary Newcomer Award. Di Indonesia, novel setebal 384 halaman ini diterjemahkan oleh Milka Ivana dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Sinopsis Novel Enam Mahasiswa Pembohong

Kisah berpusat pada SpiraLinks, sebuah perusahaan teknologi informasi (IT) papan atas yang sedang naik daun di Jepang. Ketika perusahaan ini membuka lowongan kerja untuk lulusan baru untuk pertama kalinya, membuat lamaran dari mahasiswa tingkat akhir meledak. Lebih dari lima ribu pelamar bersaing ketat demi mendapatkan posisi bergengsi dengan iming-iming gaji yang sangat menggiurkan. Setelah melalui penyaringan yang melelahkan, tersisalah enam kandidat terbaik yang berhasil melaju ke tahap seleksi akhir.  

Pada awalnya, tantangan yang diberikan oleh pihak manajemen SpiraLinks tampak idealistis dan berorientasi pada kerja sama tim. Keenam kandidat diminta untuk membentuk sebuah kelompok belajar selama satu bulan penuh guna mempersiapkan diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion atau FGD).

Dengan pemahaman bahwa jika performa kelompok mereka luar biasa maka seluruh anggota tim memiliki kesempatan untuk diterima bekerja, mereka pun mulai membangun kedekatan emosional. Mereka belajar bersama, saling berbagi keluh kesah, hingga merasa telah menjalin ikatan persahabatan yang tulus.  

Namun, keharmonisan tersebut hancur seketika sesaat sebelum ujian akhir dimulai. Manajemen SpiraLinks mendadak mengubah aturan main secara drastis, perusahaan kini hanya akan merekrut satu orang saja. Lebih ekstrem lagi, keputusan mengenai siapa yang paling layak mendapatkan pekerjaan tunggal tersebut diserahkan sepenuhnya kepada keenam kandidat melalui diskusi mandiri berdurasi dua setengah jam di dalam ruang rapat tertutup. Jika dalam batas waktu tersebut mereka gagal menentukan satu nama secara mufakat, maka seluruh kandidat dinyatakan gugur.  

Perubahan aturan yang mendadak ini seketika mengubah kawan menjadi lawan. Atmosfer ruang diskusi yang semula hangat langsung berubah menjadi medan pertempuran yang dingin dan penuh kecurigaan. Guna menentukan pemenang, mereka memutuskan untuk menggunakan sistem pemungutan suara (voting) yang dilakukan secara berkala setiap 15 menit sekali.

Di tengah ketegangan yang merayap inilah, sebuah elemen kejutan muncul dalam bentuk enam amplop misterius yang diletakkan di sudut ruangan. Di sinilah misteri sesungguhnya dimulai, setiap amplop berisi dokumen rahasia yang membongkar kebohongan, dosa masa lalu, bahkan tuduhan kriminal dari masing-masing kandidat. 

Kelebihan

Kekuatan utama dari novel ini terletak pada bagaimana Akinari Asakura menyusun penokohannya. Penulis secara cermat menampilkan kontras yang tajam antara topeng profesionalitas yang dipamerkan para tokoh saat wawancara kerja dengan realitas kelam kehidupan pribadi mereka. 

Keberhasilan novel Enam Mahasiswa Pembohong dalam memotret kecemasan generasi muda tidak hanya berhenti di lembaran kertas. Karya ini telah diadaptasi ke dalam berbagai medium seni pertunjukan, termasuk drama panggung pembacaan naskah (reading act) di Jepang , serta serial manga adaptasi yang diilustrasikan oleh Keiga Oosawa. 

Kekurangan

Setelah babak pertama menyajikan intrik yang gelap dan provokatif, penyelesaian cerita yang menyimpulkan bahwa "manusia memiliki sisi buruk tetapi pada dasarnya mereka adalah orang baik" terasa terlalu aman dan klise. Bagi pencinta genre thriller misteri yang mengharapkan akhir yang kelam atau penyelesaian yang mencengangkan, pesan moral yang hangat ini dirasa kurang menggigit.

Akhir dari novel ini terasa kurang memuaskan dan cenderung menggantung. Gaya penyelesaiannya dapat membuat pembaca merasa tidak nyaman, menyisakan rasa ganjal, atau tidak memberikan rasa lega yang seutuhnya setelah konflik yang begitu besar.

Kesimpulan

Salah satu pengungkapan emosional yang melengkapi kepingan teka-teki novel ini adalah misteri di balik alasan mengapa Iori Shima selalu memberikan suaranya untuk Sota Kuga selama sesi voting delapan tahun lalu. Rahasia ini berakar dari sebuah kesalahpahaman sederhana dalam sebuah acara minum bersama yang mereka lakukan selama masa persiapan kelompok. 

Akinari Asakura menyampaikan pesan moral yang sangat mendalam mengenai esensi hubungan antarmanusia. Pada bagian akhir novel, Direktur HRD SpiraLinks, Kogami, membuat sebuah pengakuan jujur yang mengejutkan, ia menyatakan bahwa proses seleksi karyawan pada dasarnya sering kali bersifat acak dan bergantung pada faktor keberuntungan semata. Dengan ribuan berkas yang masuk, perusahaan tidak akan pernah benar-benar bisa memahami kepribadian utuh seorang pelamar. 

Fakta ini menegaskan pandangan filosofis novel bahwa manusia adalah makhluk multidimensional yang kompleks. Seseorang tidak bisa dinilai secara hitam-putih hanya berdasarkan satu lembar CV, satu kesalahan masa lalu, atau satu tindakan buruk yang tidak diketahui latar belakangnya. Setiap karakter dalam novel ini berbohong, tetapi kebohongan tersebut sering kali lahir dari mekanisme pertahanan diri untuk bertahan hidup di tengah masyarakat yang menuntut kesempurnaan artifisial. 

Identitas Buku

  • Judul: Enam Mahasiswa Pembohong
  • Penulis: Akinari Asakura
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tanggal Terbit: 28 Februari 2025
  • Tebal: 384 Halaman