Hayuning Ratri Hapsari | Chairun Nisa
Novel Nyai Moena (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Bagi pencinta buku, paruh pertama tahun 2026 memperlihatkan tren visual yang menarik: desain cover novel didominasi oleh pola bingkai simetris di sisi kanan dan kiri yang mengapit inti cerita di bagian tengah. Estetika cover seperti ini langsung memikat mata saya pada novel Nyai Moena, mengingatkan saya pada keindahan visual novel Rahasia Salinem, Janji di Tanah Jawa, dll.

Daya tarik buku ini tidak berhenti pada sampulnya. Dalam bagian prolog, sang penulis secara jujur mengungkapkan bahwa kisah ini banyak terinspirasi dari tokoh-tokoh ikonik sastra Indonesia: ketangguhan Nyai Ontosoroh karya Pramoedya Ananta Toer, penderitaan Nyai Sadikem dalam gubahan Artie Ahmad, serta perjuangan perempuan dalam Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

Sinopsis

Cerita berpusat pada Moenasih (Moena), seorang gadis desa yang hidup dalam kemiskinan bersama ibunya dan seorang ayah yang sangat galak. Di masa kecilnya, ia memiliki teman dekat yang sangat dikaguminya bernama Sarinto. Namun, nasib berkata lain saat menginjak usia remaja. Setelah diusir oleh sang ayah, Moena dan ibunya telantar kelaparan hingga sampai ke area perkotaan.

Titik balik hidupnya dimulai ketika petugas dari kawedanan mencari babu muda yang berwajah cantik. Moena terpaksa berpisah dengan ibunya demi bekerja di sana. Di lingkungan kawedanan, hidupnya berubah total karena harus melayani para priyayi dan pejabat Belanda. Di tempat ini pula ia bertemu seorang Simbok yang sangat baik, serta berkenalan dengan Raden Mas Alwi, seorang pemuda religius dari sebuah syarikat Islam yang sempat menaruh hati padanya, meski hubungan mereka belum berlanjut.

Malapetaka datang saat seorang sinyo Belanda bernama Luigi mencoba melecehkannya. Moena menolak keras, yang justru berujung pada hukuman dari Kanjeng Gusti Wedana. Ia dipindahkan menjadi babu di sebuah rumah mewah milik Tuan Derrick di kawasan Villa Park. Di rumah tersebut, hiduplah Nyai Sarinem—sosok berwibawa yang mengingatkan saya pada Nyai Ontosoroh—bersama dua anaknya, Luigi dan Danie (yang dinamikanya mirip dengan keluarga Mellema dalam Bumi Manusia). Tugas sehari-hari Moena adalah melayani keperluan sang nyai, mulai dari memasak hingga pergi ke pasar.

Lambat laun, benih cinta tumbuh. Sinyo kecil yang dirawat Moena meninggal dunia akibat wabah flu. Tragedi itu melembutkan sikap Luigi yang kemudian mulai menebarkan pesona hingga Moena jatuh cinta, dan keduanya saling menyukai. Di sisi lain, ketegangan konstan kerap terjadi dengan Tuan Derrick yang sangat merendahkan kaum pribumi. Moena pun diam-diam mencurigai Nyai Sarinem berselingkuh karena sering pergi bersama Raden Mas Soerono.

Konflik memuncak pada suatu malam ketika Luigi yang menangis mengajak Moena keluar dari Villa Park menuju Lodjie Kestalan. Luigi membeberkan rahasia kelam bahwa ayahnya, Tuan Derrick, telah membunuh Nyai Sarinem, dan nyawa seorang nyai pribumi sama sekali tidak dihargai di pengadilan Belanda. Di tengah kedukaan dan kedekatan emosional itu, Luigi meminta Moena menjadi nyainya.

Awalnya, kehidupan baru sebagai Nyai Moena berjalan sangat hangat dan mewah. Ia bertransformasi menjadi wanita cantik dengan pakaian baru, perawatan tubuh, dan limpahan uang. Namun, kebahagiaan itu runtuh saat Luigi mulai berubah; ia jarang pulang, sering marah-marah, membawa foto perempuan Eropa, dan bertindak kasar, padahal saat itu Nyai Moena tengah mengandung. Puncaknya, Luigi membawa kekasih Eropanya ke rumah. Nyai Moena pun melalui hari-hari kehamilan hingga melahirkan hanya ditemani babu setianya.

Setelah anaknya lahir pun Luigi enggan menyentuhnya. Sifat Luigi yang dulu penyayang berubah total menjadi membenci, bahkan menuduh Moena telah menggunakan guna-guna di masa lalu. Melalui ketetapan persidangan kolonial, hak asuh anak mereka, Laras, jatuh ke tangan Luigi. Moena diusir secara kejam, dipisahkan dari bayinya yang masih menyusu, dan dikembalikan ke desa. 

Nasib malang membawa Moena menggelandang hingga ditemukan oleh anak bupati. Bukannya mendapat perlindungan, ia justru dijadikan selir dan diperlakukan kasar. Pengalaman pahit ini membuktikan bahwa sesama pribumi dari kelas atas pun tetap tidak menghargai wanita dari kaum rendahan. Moena kemudian bertemu kembali dengan Raden Mas Alwi yang berniat menikahinya secara sah, namun Moena menolak karena trauma mengulang nasib mengikat diri dengan orang yang tidak sederajat.

Moena akhirnya memilih pulang ke desa dan bertemu lagi dengan Sarinto yang baru saja kembali merantau dari Deli. Hubungan mereka hampir bermuara ke pernikahan, sebelum akhirnya terjadi kesalahpahaman fatal saat Moena menghadiri undangan dari Raden Mas Alwi. Di sinilah plot twist mengejutkan namun masuk akal dihadirkan: terungkap bahwa Nyai Sarinem ternyata adalah ibu kandung dari Raden Mas Alwi dan kematiannya dulu dipalsukan.

Secara keseluruhan, alur novel ini dijalin dengan sangat rapi, masuk akal, dan mudah dipahami, sehingga sangat nyaman untuk diselesaikan dalam sekali duduk.

Bagi pembaca yang mungkin merasa kesulitan mencerna sastra tingkat tinggi yang berat, Nyai Moena hadir sebagai versi sederhana dari Bumi Manusia. Novel ini menjadi rekomendasi yang sangat cocok bagi siapa saja yang ingin menyelami sejarah kelam pergundikan, rasisme kolonial, dan bagaimana wanita pribumi dimanfaatkan sepuasnya lalu dibuang oleh sistem penjajahan. Nilai tambahnya, pemilihan nama tokoh di dalam buku ini terasa sangat pas sesuai konteks zamannya, serta penggunaan campuran bahasanya mengalir natural dan tidak terasa kaku (wagu).

Identitas Buku

Judul Buku: Nyai Moena

Penulis: Galih Pranata

Penerbit: Buku Abdi

Tahun Terbit: 2026

ISBN: 978-634-04-6063-6