Lintang Siltya Utami | Chairun Nisa
Buku Jalan Bandungan. (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Membaca karya-karya Nh. Dini selalu memberikan pengalaman batin yang khas dan mendalam. Setelah sebelumnya sempat menelusuri kompleksitas emosi perempuan dalam novel Pada Sebuah Kapal dan Keberangkatan, ada sebuah benang merah yang konsisten: kepiawaian beliau dalam menyuarakan suara-suara perempuan yang sunyi namun tangguh. Melalui novel Jalan Bandungan, Nh. Dini kembali membawa pembaca menyelami dunia domestik perempuan dengan segala kerapuhan dan kekuatannya, menjadikannya sebuah refleksi yang sangat dekat dengan dilema nyata yang sering dihadapi oleh para ibu dan istri.

Sinopsis

Naratif pasca-revolusi sering kali meletakkan panggung sejarah pada derap sepatu lars para lelaki di medan laga atau agenda rapat-rapat politik yang rahasia. Namun, dalam Jalan Bandungan, sejarah ditarik masuk ke dalam ruang domestik yang sunyi, ke balik pintu-pintu rumah tempat para istri terkunci dalam rutinitas 24 jam. Novel ini membuka tirai kehidupan Muryati, seorang perempuan yang dunianya jungkir balik bukan karena keputusannya sendiri, melainkan akibat bayang-bayang ideologi sang suami, Widodo, yang dituduh terlibat dalam gerakan komunis.

Secara garis besar, novel ini mengisahkan perjalanan hidup Muryati yang tumbuh dalam asuhan keluarga seorang jenderal perang yang memegang teguh nilai-nilai luhur. Menjelang usia tujuh belas tahun, sebagai anak yang patuh, ia menerima lamaran Widodo, seorang pemuda bawahan ayahnya yang dinilai santun oleh orang tua, meski tanpa dasar cinta yang membara. Ketidakcocokan mulai menganga sejak masa pertunangan karena watak Widodo yang egois. Pasca-pernikahan, dominasi itu makin mencekik ketika Muryati dipaksa menanggalkan profesinya sebagai guru. Alasan penolakan Widodo berakar pada rasa inferioritas yang picik; ia merasa tersaingi secara finansial dan mengklaim nafkahnya sudah lebih dari cukup untuk menopang keluarga.

Sikap Widodo kian menutup diri dari urusan pekerjaan, sering menghilang tanpa kabar berhari-hari, hingga puncaknya ia ditangkap polisi karena menjadi anggota aktif Partai Komunis Indonesia (PKI). Melalui tragedi ini, Nh. Dini memotret ironi sosial yang akut pada masa itu. Ketika seorang lelaki melangkah keluar rumah dengan dalih urusan publik, sang istri kerap kali ditinggalkan dalam ketidaktahuan.

Namun, begitu badai politik runtuh, kata "terlibat" berubah menjadi penyakit menular yang seketika mengucilkan ruang gerak perempuan. Muryati harus menelan pahitnya penolakan; pintu-pintu kerja sempat tertutup rapat karena statusnya sebagai istri anggota PKI, kerabat menjauh, dan lingkungan sosial memberi tatapan masam yang sarat ketakutan. Stigma sebagai istri seorang tahanan politik (tapol) menggoreskan luka yang lebih dingin daripada jeruji besi itu sendiri.


Sebagai sebuah cerita yang menelisik psikologi perempuan, novel ini dengan jeli menguliti anatomi sebuah pernikahan yang tidak bahagia. Keterikatan Muryati dengan Widodo yang semula hanya didasari kepatuhan segera berubah menjadi ruang yang gersang. Widodo digambarkan sebagai sosok yang sinis, kikir, dan abai terhadap tanggung jawab domestik maupun kehangatan emosional anak dan istri.

Hebatnya, di tengah keterpurukan untuk menghidupkan ketiga anaknya sendirian, Muryati menunjukkan kelapangan hati yang luar biasa. Meski menyimpan kekesalan mendalam terhadap Widodo, ia tetap mengantar anak-anaknya berkunjung ke sel tahanan dan menolak menanamkan benih kebencian pada pikiran mereka. Di balik jeruji besi itu pula, Muryati mengambil keputusan besar yang telah lama dipendamnya: menggugat cerai Widodo.

Kejatuhan Widodo yang diasingkan tidak lantas mengakhiri penderitaan Muryati, tetapi perjuangannya berbuah manis seiring membaiknya karier mengajar hingga ia meraih beasiswa S2 ke Belanda. Di sanalah takdir mempertemukannya dengan Handoko, seorang arsitek yang juga merupakan adik kandung mantan suaminya sendiri. Hubungan baru yang didasari oleh pemikiran terbuka dan penerimaan utuh ini membawa gairah baru dalam hidup Muryati, walau pernikahan mereka di Indonesia memicu penolakan keras dari Widodo yang baru bebas setahun kemudian. Konflik sisa masa lalu yang menuntut ruang ini sempat memicu keretakan dalam ikatan emosional mereka, sebelum akhirnya keteguhan cinta membawa mereka menetap di sebuah rumah peninggalan sahabat di Jalan Bandungan, tempat yang menjadi saksi bisu bagi babak kehidupan Muryati yang baru dan lebih baik.


Di tengah pekatnya masa depan, kekuatan utama novel ini justru memancar dari relasi antarkarakter perempuan. Nh. Dini tidak membiarkan protagonisnya larut dalam ratapan. Di balik kerapuhan Muryati, berdiri sosok ibu, seorang pedagang kecil yang tangannya selalu terbuka lebar menerima kepulangan anak dan cucunya. Ketegaran sang ibu inilah yang menjadi kompas bagi Muryati untuk tetap tegak berdiri di atas kakinya sendiri, mengejar kembali cita-citanya menjadi seorang pendidik, dan membuktikan bahwa martabat perempuan tidak runtuh saat sokongan lelaki tiada. Kehadiran lingkaran sahabat perempuan yang suportif turut mempertegas pesan penting bahwa kemandirian dan pendidikan adalah perisai mutlak bagi perempuan dalam menghadapi ketidakpastian hidup.

Dari aspek latar, heroisme domestik ini dijalin erat dengan lokalitas Kota Semarang yang pekat. Penulis berhasil menghidupkan lanskap Stasiun Tawang, Lamper, Toko Oen, hingga jembatan Pudakpayung menjadi ruang yang hidup, alih-alih sekadar tempelan geografis. Meskipun alur ceritanya bergerak lambat dan cenderung berfokus pada keseharian yang monoton hingga berisiko memicu kejenuhan bagi pencinta narasi yang dinamis, kekuatan tulisan ini terletak pada kemampuannya melakukan eksplorasi batin. Nh. Dini menggunakan mikroskop naratif untuk memperbesar dilema, pergulatan, dan detail perasaan terkecil seorang ibu dan istri.

Melalui untaian konflik tersebut, pembaca diajak memetik amanat mendalam tentang keikhlasan menjalani takdir serta keyakinan bahwa akan selalu ada hikmah di balik setiap cobaan yang mendera. Novel Jalan Bandungan menjadi sebuah penegasan penting bahwa perempuan bukanlah makhluk lemah yang harus terus-menerus bergantung pada lelaki, melainkan sosok yang mampu berdiri di atas kaki sendiri untuk menopang keluarga demi cinta, keharmonisan, dan harga diri.

Identitas Buku

Judul: Jalan Bandungan
Penulis: Nh. Dini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
No. ISBN: 9789792250855
Jumlah Halaman: 444 halaman