Hayuning Ratri Hapsari | Chairun Nisa
Novel Janji di Tanah Jawa (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Menulis sebuah fiksi sejarah dengan latar masyarakat feodal bukanlah perkara yang mudah, terlebih jika penulisnya mencoba merekonstruksi atmosfer abad lampau. Upaya yang dilakukan oleh Agil Sri Rahayu dalam novel Janji di Tanah Jawa ini patut diacungi jempol. Keberanian penulis non-Jawa untuk melakukan riset, mempelajari kebudayaan Jawa, serta mengangkat dinamika sosial masa lalu merupakan sebuah langkah kreatif yang sangat dihargai.

Novel sepanjang 371 halaman ini mencoba memotret riak-riak kehidupan di tengah masyarakat Jawa sekitar tahun 1840, sebuah era di mana sistem Tanam Paksa sedang berjalan ketat. Karya ini menawarkan sebuah ketegangan naratif yang mempertemukan antara ambisi kolonial, rahasia kelam keluarga bangsawan, dan pergolakan asmara yang membentur dinding adat istiadat.

Sinopsis

Kisah ini berpusat pada Raden Mas Manggala, seorang bangsawan muda yang diutus ke Kadipaten Jayamukti untuk menyusup sebagai penasihat politik Bupati Soerya Wiranagara. Di balik jabatan mentereng tersebut, Manggala sebenarnya memikul misi rahasia sebagai mata-mata dari seorang pria asing bernama William Albert. Misi utamanya adalah merebut Kadipaten Jayamukti yang kaya akan hasil alam agar bisa dikuasai oleh William. Namun, di tengah pelaksanaan tugasnya, hati Manggala goyah ketika ia terpincut oleh putri sang Bupati yang bernama Kinanti Asih Wiranagara. Manggala pun terjebak di persimpangan dilema antara sumpah setianya kepada William atau memperjuangkan asmaranya.

Konflik cerita kian rumit karena melibatkan drama domestik masa lalu. Manggala merupakan anak sah dari Raden Wijaya dan mendiang istri sahnya, Ambarwati, yang dikhianati demi selingkuh dengan seorang pelayan bernama Jeng Ayu. Dari hubungan gelap dengan Jeng Ayu lahirlah Wira. Meskipun Wira bekerja sebagai pengawas Tanam Paksa, hidupnya tetap serba kekurangan dan ia kerap dianggap sebagai beban keluarga. Dendam dan kecemburuan sosial ini mendorong Jeng Ayu dan Wira untuk menjebak Manggala demi menjatuhkan posisinya.

Siasat tersebut justru berujung pada pernikahan paksa antara Manggala dan Kinanti demi meredam skandal keluarga Bupati. Kedok Manggala akhirnya terbongkar, memicu rangkaian peristiwa berdarah di hutan yang berakhir tragis ketika Raden Wijaya tewas ditembak oleh putra kandungnya sendiri, Wira. Di sisi lain, Kinanti sebenarnya adalah sosok perempuan visioner yang enggan menikah muda; ia memiliki cita-cita mulia layaknya Kartini untuk mengajar anak-anak membaca, menulis, dan mendengarkan dongeng. Setelah melalui perpisahan pahit akibat pengusiran Manggala, Kinanti yang menemukan surat-surat suaminya yang sempat disembunyikan oleh sang ayah, akhirnya membulatkan tekad atas restu orang tuanya untuk menyusul Manggala ke negeri Belanda.

Kelebihan

Salah satu daya tarik utama dari novel ini ada pada kemasan visualnya yang sangat memanjakan mata. Desain sampul yang menggunakan laminasi Doft Spot UV berhasil membangun kesan historis yang elegan sejak pandangan pertama. Bagi pembaca yang kerap kebingungan dengan silsilah karakter dalam cerita intrik, kehadiran bagan hubungan antar-tokoh di bagian awal buku menjadi penyelamat yang sangat membantu.

Selain itu, penyertaan ilustrasi visual untuk karakter utama seperti Manggala, Kinanti, dan Wira membuat proses imajinasi menjadi lebih hidup. Penggunaan kertas jenis Bookpaper 55 gram juga membuat buku ini terasa ringan dan nyaman digenggam, dilengkapi dengan catatan terjemahan istilah lokal yang membantu pembaca umum memahami konteks cerita dengan baik hingga akhir kisah yang ditutup secara tegas.

Kekurangan

Meskipun buku ini lahir dari proses riset yang patut diapresiasi, sebagai pembaca yang memahami kultur Jawa secara organik, terdapat beberapa catatan kritis terkait akurasi historis dan linguistik. Dialog-dialog berbahasa Jawa yang disisipkan di beberapa bagian terasa kurang luwes atau wagu karena strukturnya yang campur aduk. Mengingat buku ini menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar utama, pemaksaan logat Jawa yang kurang pas justru terasa agak artifisial. Selain itu, nama-nama karakter seperti Kinanti Asih terkesan terlalu modern atau milenial, kurang mencerminkan tipikal nama sepuh masyarakat feodal Jawa abad ke-19.

Ketidaksesuaian sosiologis juga tampak pada penggunaan sebutan Nyai untuk istri resmi seorang Bupati, padahal pada masa kolonial tersebut, istilah Nyai lebih lekat sebagai panggilan untuk gundik atau wanita simpanan orang Belanda, sementara istri sah bupati lazimnya bergelar Raden Ayu. Deskripsi latar tempat Jayamukti yang digambarkan berada di jalur Pantura sekitar 75 kilometer di timur Semarang (wilayah Pati) juga terasa membingungkan karena nama Jayamukti secara administratif sangat identik dengan wilayah di Jawa Barat seperti Bekasi.

Catatan teknis yang cukup menggelitik juga terlihat pada penggambaran aktivitas mengajar Kinanti. Penulis menggambarkan bahwa anak-anak masa itu belajar menulis menggunakan papan tulis kayu dan arang. Untuk latar tahun 1840-an di era kolonial, media tulis yang populer dan lazim digunakan di sekolah-sekolah sebenarnya adalah sabak (papan tulis batu) dan grip (alat tulisnya). Penggunaan arang dan papan kayu terkesan agak kurang riset dan membuat latar sejarahnya terasa sedikit kurang autentik. Di luar itu, beberapa kesalahan cetak atau typo juga masih ditemukan pada beberapa halaman edisi cetak ini.

Identitas Buku

Judul: Janji di Tanah Jawa
Penulis: Agil Sri Rahayu
Penerbit: PT Skuad Media Cakrawala
Tahun Terbit: 2026
ISBN: 978-623-89749-9-3