Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
My Brief History (Dok. Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Kalau di genre horor ada Stephen King, di dunia Fisika ada Stephen Hawking. Kalau kamu tahu teorema black Hole tentu kamu nggak asing sama penggagasnya ini. Ia terkenal karena berhasil menggabungkan relativitas umum dan mekanika kuantum. 

My Brief History karya Stephen Hawking adalah catatan hidup seorang manusia yang bergulat dengan penyakit mematikan, tekanan akademik, keluarga, dan rasa takut akan kematian. Namun di tengah ketakutan itu, ia tetap mampu berkarya.

Dengan gaya bahasa yang ringan, jujur, dan kadang jenaka, Hawking mengajak pembaca melihat sisi pribadinya yang jarang muncul dalam buku-buku sainsnya.

Diterbitkan di Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2014, buku ini menjadi pelengkap penting bagi pembaca yang mengenal Hawking dari A Brief History of Time. Jika buku sebelumnya membahas alam semesta, maka My Brief History justru berbicara tentang semesta kehidupan Hawking sendiri.

Isi Buku

Hawking membuka memoarnya dengan kisah masa kecilnya di London pasca-Perang Dunia II. Ia lahir dari keluarga intelektual; ayahnya seorang dokter dan ibunya juga memiliki latar pendidikan tinggi. Meski begitu, masa kecil Hawking tidak digambarkan sebagai kehidupan yang sempurna.

Ia tumbuh sebagai anak yang penasaran, senang membongkar barang, dan tertarik memahami cara kerja dunia. Ketertarikannya pada fisika dan astronomi muncul karena ia ingin mengetahui “dari mana manusia berasal dan mengapa kita ada di sini.”

Bagian yang paling menarik dari buku ini adalah bagaimana Hawking menceritakan perjalanan akademiknya dengan sangat manusiawi. Ia bukan siswa jenius yang selalu sempurna. Bahkan, teman-temannya pernah bertaruh bahwa Hawking tidak akan menjadi orang penting. Ironisnya, anak yang dulu diremehkan itu kemudian menjadi salah satu ilmuwan paling berpengaruh di dunia modern.

Namun inti emosional buku ini terletak pada perjuangannya menghadapi penyakit ALS atau Amyotrophic Lateral Sclerosis. Hawking didiagnosis mengidap penyakit neuron motorik pada usia 21 tahun dan diperkirakan hanya mampu bertahan hidup beberapa tahun.

Penyakit itu perlahan melumpuhkan tubuhnya hingga ia kehilangan kemampuan berjalan dan berbicara. Akan tetapi, justru dalam situasi itulah Hawking menemukan alasan untuk terus hidup dan berkarya.

Salah satu kutipan paling menyentuh dalam buku ini berbunyi:

Ketika menghadapi kemungkinan mati muda, kita jadi sadar bahwa kehidupan itu layak dijalani dan ada banyak hal yang kita ingin lakukan.”

Kalimat tersebut menggambarkan cara Hawking memandang hidup. Ia tidak menjadikan penyakit sebagai akhir segalanya. Sebaliknya, keterbatasan fisik justru membuatnya semakin fokus pada hal-hal yang benar-benar penting. Ia terus meneliti, menulis, mengajar, bahkan menjadi ikon budaya populer dunia.

Kelebihan dan Kekurangan

Buku ini juga memperlihatkan sisi pribadi Hawking yang sering terlupakan. Ia bercerita tentang hubungannya dengan Jane Wilde, perempuan yang kemudian menjadi istrinya, tentang kehidupan sebagai ayah dari tiga anak, hingga dinamika rumah tangga dan perceraiannya. Semua ditulis tanpa kesan dramatis berlebihan.

Hawking menuliskannya dengan nada tenang dan reflektif, membuat pembaca merasa sedang mendengarkan kisah hidup seorang teman lama.

Selain memoar pribadi, My Brief History tetap menyisipkan pembahasan ilmiah khas Hawking. Ia menjelaskan beberapa konsep seperti lubang hitam, perjalanan waktu, dan teori kosmologi secara sederhana.

Menariknya, pembahasan itu tidak terasa berat karena Hawking mampu menyederhanakan ide rumit menjadi penjelasan yang mudah dipahami pembaca awam. Inilah salah satu kekuatan terbesar Hawking: membuat sains terasa dekat dan manusiawi.

Pesan Moral

Buku ini juga memperlihatkan bahwa kecerdasan tidak harus tampil arogan. Hawking dikenal sebagai ilmuwan besar, tetapi dalam memoarnya ia tampak rendah hati, penuh humor, dan sering menertawakan dirinya sendiri. Ia tidak menulis untuk terlihat genius, melainkan untuk berbagi pengalaman hidup.

Buku ini cocok dibaca bukan hanya oleh pecinta sains, tetapi juga siapa saja yang sedang kehilangan semangat hidup. Hawking mengajarkan bahwa manusia mungkin tidak selalu bisa mengendalikan tubuhnya, nasibnya, atau waktunya, tetapi manusia tetap bisa memilih bagaimana menjalani hidup dengan makna.

Di balik kursi roda dan suara robotiknya, Stephen Hawking membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah mampu membatasi kekuatan pikiran manusia.

Identitas Buku

  • Judul: My Brief History: Sejarah Singkat Saya
  • Penulis: Stephen Hawking
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit: 2014 
  • ISBN: 9786020300061
  • Tebal: 160 halaman
  • Kategori: Otobiografi, Non Fiksi