Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Men Are from Mars, Women Are from Venus (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Buku Men Are from Mars, Women Are from Venus memang salah satu buku populer dari era Cinta Brontosaurus lagi booming. Lalu populer kembali saat Aisyah Dahlan mulai disorot publik.

Ditulis oleh John Gray, buku ini menggunakan metafora sederhana namun mudah diingat. Laki-laki berasal dari Mars, sedangkan perempuan berasal dari Venus. Tentu saja itu bukan berarti pria dan wanita benar-benar berasal dari planet berbeda.

Metafora tersebut digunakan untuk menjelaskan bahwa cara berpikir, berkomunikasi, dan mengekspresikan emosi antara laki-laki dan perempuan sering kali sangat berbeda. Perbedaan inilah yang kerap memicu konflik dalam hubungan.

Isi Buku

Salah satu pembahasan paling terkenal dalam buku ini adalah soal perbedaan komunikasi pria dan wanita. Gray menjelaskan bahwa pria umumnya ingin merasa dipercaya dan dihargai kemampuannya. Karena itu banyak pria tidak suka diberi nasihat yang tidak diminta.

Bagi perempuan, memberi saran sering dianggap bentuk perhatian dan kasih sayang. Tetapi bagi sebagian pria, hal tersebut justru terdengar seperti kritik atau tanda bahwa mereka dianggap tidak mampu.

Gray memberi contoh sederhana: ketika seorang pria sedang mengemudi dan pasangannya terus memberi arahan kecil, pria bisa merasa harga dirinya terganggu. Hal itu terdengar sepele, tetapi bagi banyak pria, kemampuan menyelesaikan masalah sendiri adalah bagian penting dari identitas mereka.

Buku ini juga menjelaskan bahwa pria sering kali dididik untuk selalu terlihat kuat dan kompeten. Mereka merasa harus mampu memperbaiki masalah, menyediakan solusi, dan menjadi sosok yang bisa diandalkan. Karena itu ketika merasa tidak dibutuhkan, sebagian pria justru kehilangan motivasi dan menarik diri secara emosional.

Sementara perempuan cenderung lebih nyaman berbagi perasaan dan mencari koneksi emosional melalui percakapan.

Hubungan cinta bisa diibaratkan seperti taman bunga. Menurut Gray, hubungan tidak bisa dibiarkan tumbuh sendiri. Seperti taman, cinta harus dirawat, disiram, dibersihkan dari rumput liar, dan dijaga dari hama. Banyak pasangan gagal bukan karena tidak saling mencintai, tetapi karena mengira cinta akan berjalan otomatis selamanya tanpa usaha.

Musim semi adalah fase jatuh cinta. Pada tahap ini pasangan terlihat sempurna. Semuanya terasa indah dan menyenangkan. Kita merasa menemukan orang yang tepat dan yakin hubungan akan bahagia selamanya.

Namun setelah itu datang musim panas. Di fase ini, kekurangan pasangan mulai terlihat. Hal-hal kecil yang dulu terasa lucu perlahan berubah menjadi sumber konflik. Kekecewaan mulai muncul seperti rumput liar di taman bunga.

Menurut Gray, banyak hubungan berakhir di fase ini karena pasangan tidak siap menghadapi kenyataan bahwa cinta membutuhkan kerja keras.

Jika berhasil melewati musim panas, hubungan akan masuk ke musim gugur. Pada tahap ini pasangan mulai lebih dewasa dalam mencintai. Mereka belajar menerima kekurangan satu sama lain dan memahami bahwa hubungan tidak selalu harus sempurna.

Lalu tibalah musim dingin, fase ketika masing-masing individu perlu kembali melihat ke dalam dirinya sendiri. Ini adalah masa refleksi, penyembuhan luka emosional, dan pertumbuhan pribadi. Setelah musim dingin berlalu, hubungan bisa kembali memasuki musim semi dengan cinta yang lebih matang.

Kelebihan dan Kekurangan

Yang menarik, meskipun John Gray memiliki latar belakang akademis dan gelar PhD, gaya penulisannya justru ringan dan mudah dipahami. Ia tidak menggunakan bahasa rumit demi terlihat intelektual. Membaca buku ini terasa seperti mendengarkan seseorang bercerita tentang hubungan dan pengalaman hidup sehari-hari.

Menurutku buku ini terasa lebih seperti curhatan penulis sebagai laki-laki dibanding buku psikologi formal. Namun justru di situlah daya tariknya. Buku ini membantu pembaca memahami bagaimana banyak pria dibentuk oleh ekspektasi sosial sejak kecil.

Aku juga suka konsep metafora dalam buku ini yang terasa sederhana, tetapi sangat relevan dengan kehidupan nyata. Aku bisa merasakan usaha penulis untuk membuat pembaca benar-benar paham tentang apa yang ingin ia sampaikan. 

Lalu ada banyak nasihat tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan. Banyak orang mengira hubungan yang sehat berarti tidak pernah bertengkar. Padahal konflik adalah bagian alami dari hubungan manusia.

Rekomendasi Pembaca

Meski begitu, beberapa isi Men Are from Mars, Women Are from Venus memang terasa cukup stereotipikal jika dibaca di era sekarang. Tidak semua pria dan perempuan memiliki pola pikir yang sama persis seperti yang dijelaskan Gray.

Banyak hubungan modern juga jauh lebih kompleks dibanding gambaran sederhana dalam buku ini.

Namun sebagai buku pengantar untuk memahami perbedaan komunikasi dalam hubungan, karya John Gray tetap menarik dibaca. Buku ini membantu pembaca melihat bahwa banyak pertengkaran sebenarnya bukan disebabkan kurang cinta, melainkan karena dua orang berbicara dengan “bahasa emosional” yang berbeda.

Pada akhirnya, hubungan bukan soal siapa yang paling benar. Tetapi tentang bagaimana dua orang belajar memahami cara satu sama lain merasa dicintai, dihargai, dan diterima.

Identitas Buku

  • Judul: Men Are from Mars, Women Are from Venus
  • Penulis: John Gray, Ph.D
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tanggal Terbit: 24 Februari 2020
  • Tebal: 464 halaman
  • ISBN: 9786020375212
  • Kategori: Psikologi, Relationship, Social