Lintang Siltya Utami | Chandra Setia
Poster Monster Pabrik Rambut (Instagram/palarifilms)
Chandra Setia

Bayangan tentang monster biasanya membawa pikiran pada sosok mengerikan dengan wajah menyeramkan, tubuh tidak wajar, atau makhluk gaib yang muncul dari kegelapan. Namun, pengalaman saya menonton film Monster Pabrik Rambut justru menghadirkan kesan yang berbeda.

Film ini memang memiliki makhluk mengerikan yang menjadi sumber teror, tetapi semakin lama cerita berjalan, semakin jelas monster paling menakutkan dalam film ini bukanlah sosok tersebut. Monster sesungguhnya hadir dalam bentuk yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: sistem yang menindas manusia.

Monster Pabrik Rambut merupakan film horor terbaru sutradara Edwin. Nama Edwin tentu bukan sosok asing dalam perfilman Indonesia. Selama bertahun-tahun, ia pembuat film yang gemar mengeksplorasi tema-tema tidak lazim dan menghadirkan pendekatan visual yang unik. Melalui film ini, Edwin kembali menunjukkan keberaniannya untuk keluar dari pakem horor arus utama.

Deretan pemain yang terlibat juga menjadi daya tarik tersendiri: Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, termasuk Sal Priadi.

Kisah film berpusat pada Putri yang berusaha mengungkap misteri kematian ibunya. Sang ibu diketahui bekerja di PT Raga Abadi, sebuah pabrik rambut yang tampak normal dari luar, tetapi menyimpan berbagai kejanggalan di balik aktivitas produksinya.

Saat mulai melakukan penyelidikan, Putri menemukan banyak hal yang sulit dijelaskan secara logika. Para pekerja sering dipaksa bekerja dalam waktu yang panjang hingga mengalami kelelahan. Mereka kehilangan waktu istirahat, mengalami gangguan fisik dan mental, lalu mulai menunjukkan perilaku yang tidak biasa.

Situasi semakin mengkhawatirkan ketika kecelakaan kerja misterius mulai terjadi satu demi satu. Rasa penasaran Putri membawanya semakin jauh memasuki rahasia gelap pabrik tersebut.

Dalam prosesnya, Putri dibantu oleh Ida, sang adik, yang ikut bekerja di pabrik untuk mencari jawaban. Sementara itu, Bona memiliki kemampuan aneh yang membuat tubuhnya dapat dipotong dan tumbuh kembali. Kemampuan tidak lazim tersebut kemudian menjadi bagian penting dari rangkaian misteri yang terus berkembang.

Di balik seluruh kejanggalan tersebut berdiri sosok Maryati, pemilik pabrik yang menyimpan banyak rahasia. Kehadirannya menjadi pusat dari berbagai pertanyaan yang perlahan mulai terjawab seiring berjalannya cerita.

Review Film Monster Pabrik Rambut 

Pada permukaan, film ini memang menyajikan kisah tentang monster, misteri, dan teror. Namun setelah saya mencermatinya lebih jauh, lapisan yang paling menarik justru terletak pada kritik sosial yang dibangun Edwin melalui cerita tersebut.

Kondisi tersebut membuat saya teringat pada berbagai realita yang masih dapat ditemukan dalam kehidupan nyata. Meskipun film ini dibalut elemen horor dan fantasi, kritik yang disampaikan terasa sangat dekat dengan persoalan sosial yang sering dibicarakan.

Karena itulah saya merasa makhluk mengerikan yang muncul di layar bukanlah pusat ketakutan yang sebenarnya. Ketakutan terbesar justru muncul ketika saya menyadari bahwa sistem seperti itu terasa sangat mungkin terjadi.

Dari sisi teknis, film ini tampil mengesankan. Edwin berhasil menciptakan suasana yang kotor, kusam, dan tidak nyaman. Lingkungan pabrik terasa hidup sekaligus menekan. Penonton diajak merasakan bagaimana ruang kerja dapat berubah menjadi tempat yang penuh ancaman.

Pendekatan horor yang digunakan juga menarik karena tidak bergantung sepenuhnya pada kejutan-kejutan mendadak. Ketegangan dibangun melalui atmosfer, misteri, dan rasa tidak nyaman yang terus meningkat dari awal hingga akhir.

Bagi saya, sumber energi film Monster Pabrik Rambut terletak pada kemampuannya menghadirkan dua jenis ketakutan sekaligus. Ketakutan pertama berasal dari makhluk dan misteri yang menghantui cerita. Ketakutan kedua berasal dari kesadaran sistem yang menindas manusia.

Jelasnya, film ini tidak hanya berbicara tentang teror yang muncul dari balik kegelapan. Film ini juga mengajak penonton melihat bahwa monster dapat lahir dari keserakahan, kekuasaan, dan sistem yang mengabaikan nilai kemanusiaan.

Dan ketika lampu bioskop kembali menyala, saya benar-benar puas menonton film ini. Skor: 3,5/5 bintang. Keren!