Hayuning Ratri Hapsari | Rana Fayola R.
Nam Joo Hyuk dalam cuplikan drama The East Palace. (Soompi)
Rana Fayola R.

Drama Korea bergenre fantasi gelap The East Palace sukses menyita perhatian pemirsa dengan menghadirkan deretan plot twist mencengangkan, terutama seputar misteri sosok arwah kolam yang selama ini menyebarkan teror di lingkungan kerajaan. Berlatar era sejarah pada sebuah kerajaan fiktif, serial ini menyajikan ketegangan sejak awal ketika para pangeran tewas secara tidak wajar secara beruntun.

Isu mengenai bangkitnya legenda roh jahat penjaga kolam pun merebak cepat di kalangan istana, memicu ketakutan luar biasa bahwa seluruh garis keturunan sang penguasa akan segera musnah.

Pada mulanya, Raja memandang kabar burung tentang serangkaian kematian tragis tersebut hanyalah takhayul belaka yang sama sekali tidak berdasar.

Namun, sikap dingin dan acuh Raja mendadak berubah menjadi kepanikan hebat ketika putra mahkota terakhir tiba-tiba ambruk secara misterius di kediamannya.

Sadar akan ancaman besar yang dapat meruntuhkan takhta dinasti, Raja langsung mengambil tindakan rahasia dengan memanggil dua sosok dengan kemampuan di luar nalar untuk menghentikan teror tersebut.

Sosok pertama yang dipanggil adalah Gu-cheon, seorang pendekar tangguh berwatak sombong yang dianugerahi keahlian melintasi Alam Gwi serta membasmi makhluk halus menggunakan pedangnya.

Sementara itu, sosok kedua adalah Saeng-gang, seorang dayang istana yang sejak lahir memiliki kepekaan khusus untuk mendengarkan suara-suara arwah, meskipun ia menganggap kemampuan supranatural tersebut sebagai beban hidup seumur hidup.

Raja lantas menugaskan Gu-cheon dan Saeng-gang untuk secara mendalam menyelidiki Istana Timur—bagian istana putra mahkota yang dipercaya menjadi pusat dari segala kutukan—guna menyingkap tabir kegelapan di sana.

Di tengah lorong-lorong kelam dan tepi kolam yang menyimpan banyak rahasia, keduanya harus berhadapan langsung dengan ancaman roh pendendam, persaingan politik yang kejam, hingga dosa masa lalu dinasti yang tertutup rapat.

Kebenaran Kelam di Balik Mitos Istana Timur

Melalui investigasi yang panjang dan berbahaya, Gu-cheon dan Saeng-gang akhirnya berhasil mengungkap bahwa arwah kolam yang selama ini sangat ditakuti ternyata bukanlah entitas jahat sejati.

Sosok yang mengerikan itu sebenarnya adalah arwah dari Dayang Kesayangan, seorang perempuan di masa lalu yang menjadi korban fitnah keji atas dugaan perselingkuhan yang tidak pernah ia lakukan.

Setelah dibunuh secara tragis dan jasadnya dibuang begitu saja, nama Dayang Kesayangan sengaja dimanfaatkan oleh pihak istana sebagai kambing hitam untuk menutupi kejahatan internal para penguasa.

Selama berpuluh-puluh tahun, mitos kutukan dipelihara secara sengaja demi menyembunyikan fakta bahwa sebagian besar kematian pangeran merupakan aksi pembunuhan politik demi takhta yang didalangi oleh Selir Sukbin.

Raja sendiri menolak keras untuk membongkar kebenaran ini karena khawatir seluruh kebusukan dinasti—termasuk fitnah kejam dan aksi pembunuhan para pangeran—akan terbongkar di mata rakyat.

Kejutan besar lainnya terungkap mengenai Putra Mahkota, yang kemudian berevolusi menjadi Ak-gwi; ia rupanya mengetahui sejarah berdarah dinasti dan bahkan tega membunuh dua saudaranya sendiri demi takhta sebelum akhirnya tewas diracun oleh Raja.

Pada akhirnya, kisah dalam The East Palace membuktikan bahwa ketakutan terbesar di dalam istana bukanlah bersumber dari kekuatan supranatural, melainkan dari ketakusahan dan kejahatan manusia. Mitos arwah kolam hanyalah kedok manis yang diciptakan untuk memoles citra penguasa, sementara bahaya sebenarnya berakar pada ambisi politik yang dingin dan tak berperikemanusiaan.