Sekar Anindyah Lamase | Ryan Farizzal
Poster film Frankenstein (IMDb)
Ryan Farizzal

Film Frankenstein yang disutradarai oleh Guillermo del Toro, dirilis pada tahun 2025, merupakan adaptasi baru yang ambisius dari novel klasik Mary Shelley berjudul Frankenstein; or, The Modern Prometheus (1818).

Del Toro, yang dikenal dengan gaya sinematik gothic yang kaya imajinasi seperti dalam Pan's Labyrinth dan The Shape of Water, menghadirkan visi pribadi yang mendalam terhadap kisah ini.

Film berdurasi sekitar 150 menit ini mengeksplorasi tema ambisi manusia, penciptaan, penolakan, dan tragedi eksistensial dengan pendekatan yang lebih intim dan emosional dibandingkan adaptasi sebelumnya.

Tragedi di Balik Keberhasilan Sains yang Terlarang

Salah satu adegan di film Frankenstein (IMDb)

Cerita berfokus pada Dr. Victor Frankenstein (diperankan oleh Oscar Isaac), seorang ilmuwan brilian namun egois yang terobsesi untuk mengalahkan kematian.

Melalui eksperimen radikal yang melibatkan mayat-mayat yang disatukan, ia berhasil menciptakan makhluk hidup (Jacob Elordi sebagai The Creature). Namun, penciptaan ini membawa konsekuensi yang mengerikan, tidak hanya bagi Victor tetapi juga bagi makhluk ciptaannya yang mencari identitas dan penerimaan di dunia yang kejam.

Struktur narasi film dibagi menjadi beberapa bagian, dimulai dari kerangka cerita di Arktik di mana Victor menceritakan kisahnya kepada seorang kapten kapal, kemudian beralih ke perspektif The Creature, yang memberikan kedalaman emosional yang kuat.

Del Toro tetap setia pada esensi novel Shelley sambil menambahkan sentuhan khasnya: visual gothic yang megah, pencahayaan dramatis, dan empati mendalam terhadap monster.

Jacob Elordi memberikan penampilan luar biasa sebagai The Creature, menggambarkan kerapuhan, kecerdasan, serta kemarahan yang meyakinkan. Oscar Isaac menghidupkan Victor dengan nuansa mania yang terkendali, sementara Mia Goth dan Christoph Waltz mendukung dengan peran pendukung yang solid.

Film ini bukan horor murni yang penuh lompatan ketakutan, melainkan drama gothic yang tragis, menyoroti bagaimana pencipta sering kali menjadi monster sejati melalui penolakan dan kekejaman terhadap ciptaannya.

Review Film Frankenstein

Salah satu adegan di film Frankenstein (IMDb)

Secara sinematik, Frankenstein memukau. Desain produksi yang detail, mulai dari laboratorium Victor yang suram hingga lanskap Arktik yang dingin dan terisolasi, menciptakan suasana yang imersif. Skor musik yang atmosferik semakin memperkuat ketegangan emosional.

Del Toro berhasil mengubah cerita klasik ini menjadi refleksi kontemporer tentang etika sains, kecerdasan buatan, dan pencarian makna dalam kesendirian.Film ini dinobatkan sebagai salah satu film terbaik tahun 2025 oleh beberapa lembaga seperti National Board of Review.

Meski demikian, film ini bukan tanpa kekurangan. Menurutku narasinya terlalu lambat di bagian awal atau scriptnya terasa sedikit bloated dalam menggabungkan elemen filosofis.

Durasi yang panjang terkadang membuat ritme sedikit tidak merata, meskipun hal ini sejalan dengan pendekatan karakter-driven Del Toro. Overall, Frankenstein adalah karya yang ambisius dan mengharukan, layak ditonton oleh penggemar horor klasik, drama, serta karya-karya Del Toro.

Film Frankenstein telah tersedia untuk streaming di Netflix secara global, termasuk di Indonesia, sejak 7 November 2025. Saat ini, film ini dapat ditonton kapan saja oleh pelanggan Netflix di Indonesia tanpa batas waktu tambahan, asalkan akunmu aktif ya Sobat Yoursay.

Salah satu adegan paling menegangkan adalah proses penciptaan The Creature di laboratorium Victor. Dengan badai listrik yang dramatis, pencahayaan kilat, dan suara gemuruh, Del Toro membangun ketegangan luar biasa saat kehidupan pertama kali memasuki tubuh makhluk tersebut.

Reaksi Victor yang campur aduk antara euforia dan horor, ditambah dengan gerakan pertama The Creature yang canggung namun mengancam, menciptakan momen yang mencekam dan ikonik. Adegan ini menegaskan tema playing God dengan visual yang kuat dan efek suara yang imersif.

Adegan yang paling kuingat dan emosional adalah interaksi The Creature dengan dunia luar, khususnya momen-momen di mana ia mencari koneksi manusiawi, seperti pertemuan dengan tokoh buta atau refleksinya atas identitas diri.

Jacob Elordi menyampaikan kerapuhan makhluk ini dengan luar biasa—sebuah adegan di mana ia memelihara seekor tikus kecil, misalnya, menjadi simbol kesendirian yang menyayat hati.

Sentuhan khas Del Toro sangat terasa pada adegan bentrokan akhir antara sang pencipta dan ciptaannya, di mana visual yang menyayat hati berpadu sempurna dengan dialog filosofis yang menggugah pikiran. Adegan-adegan ini meninggalkan kesan mendalam tentang empati, penolakan, dan konsekuensi ambisi manusia.

Secara keseluruhan, Frankenstein karya Guillermo del Toro adalah adaptasi yang segar dan bermakna dari kisah klasik. Film ini aku rekomendasikan sebagai tontonan yang merangsang pikiran dan emosi, tersedia nyaman di Netflix Indonesia. Buat kamu yang menyukai cerita gothic dengan kedalaman karakter, ini adalah pengalaman sinematik yang patut diapresiasi. Rating pribadi: 8.6/10.