Melihat buku setebal 420 halaman sering kali membuat orang yang tidak terbiasa membaca langsung merasa "muak" atau menyerah sebelum memulai. Namun, bagi saya, buku ini adalah senjata ampuh untuk menyebarkan racun literasi.
Sering kali saya menggoda teman-teman saya dengan kalimat, "Ayo, satu halaman lagi, satu halaman lagi," dan tanpa sadar, mereka justru tenggelam dalam cerita hingga menanyakan kapan lanjutannya terbit. Tere Liye memang punya sihir luar biasa dalam menyisipkan nilai-nilai parenting, arti pertemanan, hingga kesetiakawanan secara halus ke dalam narasi yang sangat memikat.
Keberanian Eliana bukan sekadar tempelan judul. Salah satu part yang paling membekas dalam ingatan adalah saat ia menunjukkan nyalinya dengan mengumandangkan azan melalui toa kampung sebuah tindakan yang sangat tidak lazim sekaligus luar biasa bagi seorang anak perempuan di sana.
Hal ini menjadi bukti nyata dari prinsip hidup yang ia pegang teguh: "Aku, Eliana si anak pemberani, anak sulung Bapak dan Mamak yang akan menjadi pembela kebenaran dan keadilan. Berdiri paling gagah, paling depan."
Alur cerita berfokus pada sosok Eliana, si sulung dari empat bersaudara yang tumbuh besar di bawah asuhan disiplin ketat tanpa kompromi dari Mamak Nur, serta keteladanan bijak dari Bapak Syahdan. Mereka menetap di sebuah desa terpencil di pedalaman Sumatera, sebuah surga kecil yang dijaga oleh kemegahan perbukitan hijau Bukit Barisan dan aliran sungai yang jernih. Sayangnya, ketenangan desa tersebut terusik saat sekelompok orang kota datang dengan ambisi mengeruk kekayaan alam melalui pertambangan ilegal di delta sungai.
Meski penduduk desa, termasuk Eliana, menolak keras eksploitasi tersebut, negosiasi selalu menemui jalan buntu. Geram karena melihat hutan dan sungai mereka mulai hancur, Eliana bersama rekan-rekan karibnya membentuk kelompok "Empat Buntal". Awalnya terdiri dari Eliana, Hana, Damdas, dan Marhotap, mereka melakukan misi pengintaian dan sabotase ala anak-anak untuk mengusik aktivitas alat berat. Perjuangan ini mencapai titik nadir yang mengharukan saat Marhotap gugur secara heroik demi merusak mesin pengeboran. Pengorbanan nyawa temannya itu menjadi luka sekaligus api semangat bagi Eliana. Posisi Marhotap kemudian digantikan oleh Anton, dan mereka melanjutkan perlawanan hingga sebuah titik di mana alam seolah ikut bicara memberikan pembelaan melalui banjir besar yang meluluhlantakkan tambang tersebut.
Namun, di balik aksi heroik itu, bagian paling menyentuh bagi saya adalah hubungan Eliana dengan Mamaknya. Sering kali sebagai anak, kita merasa begitu membenci atau tidak memahami alasan di balik ketegasan orang tua. Butuh perspektif orang dewasa lain, seperti Wak Yati, untuk meruntuhkan ego Eliana. Potongan dialog berikut ini benar-benar membuat saya tersentuh dan terdiam:
"Jangan pernah membenci Mamak kau, Eliana. Karena kalau kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang Ibu lakukan untukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian. Maksud Wawak, pernahkah kau memperhatikan, bukankah Mamak kau orang terakhir yang bergabung di meja makan? Bukankah Mamak kau orang terakhir yang menyendok sisa gulai atau sayur? Bukankah mamak kau yang kehabisan makanan di piring? Bukankah Mamak yang terakhir kali tidur? Baru tidur setelah memastikan kalian semua telah tidur? Bukankah Mamak yang terakhir kali beranjak istirahat? Setelah kalian semua istirahat? Bukankah Mamak kau selalu yang terakhir dalam setiap urusan."
"Dan Mamak kau juga yang selalu pertama dalam urusan lainnya. Dia yang yang pertama bangun, dia yang pertama membereskan rumah, dia yang pertama kali mencuci, mengelap, mengepel, dia yang pertama kali ada saat kalian terluka, menangis, sakit. Dia yang pertama kali memastikan kalian baik-baik saja. Mamak kau yang selalu pertama dalam urusan itu, Amel. Tidak pernahkah kau memperhatikannya?"
Mendengar itu, Eliana (dan mungkin kita semua sebagai pembaca) hanya bisa terdiam memeluk bantal erat-erat. Separuh hatinya membantah, namun separuhnya lagi dipaksa mengakui kebenaran pahit bahwa selama ini Mamak memang selalu menjadi orang terakhir yang memikirkan dirinya sendiri. "Camkan itu, Eli. Pikirkan baik-baik. Maka semoga kau paham, tidak pernah ada Ibu yang membenci anaknya sendiri, darah dagingnya sendiri. Kau saja yang salah paham. Aku dulu juga menyesal, aku tidak pernah memperhatikan, aku hanya tahu, melihat dan mendengar," pungkas Wak Yati.
Kekuatan novel ini terletak pada keseimbangannya. Ada ketegangan saat Geng Empat Buntal beraksi, ada keceriaan dari tokoh Pukat dan Burlian, serta kecerdasan si bungsu Amelia yang membuat saya jatuh cinta. Saya sering membayangkan jika kisah ini diangkat menjadi animasi seperti Upin & Ipin, agar pesan moralnya bisa menjangkau lebih banyak orang. Novel ini mengingatkan kita bahwa keberanian sejati adalah menjaga apa yang kita cintai—baik itu alam tempat kita berpijak, maupun cinta tulus dari seorang Mamak yang sering kali kita abaikan kehadirannya.
Terlebih lagi, kutipan Tere Liye di dalam buku ini terasa seperti "ramalan" yang mengerikan bagi alam Indonesia; beliau pernah menyinggung bahwa besok lusa bisa jadi Papua yang akan digunduli hutannya seperti desa Eliana sepuluh tahun lalu. Kini, hal itu benar-benar menjadi nyata dan bisa kita saksikan dalam film Pesta Babi, membuktikan bahwa apa yang ditulisnya bukan sekadar cerita, melainkan peringatan keras bagi kita semua.
Identitas Buku
Judul: Si Anak Pemberani (Dahulu judulnya Eliana: Serial Anak-Anak Mamak)
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika Penerbit
Tahun Terbit: 2018 (Edisi sampul baru/re-branding)
Kota Terbit: Jakarta
Tebal Buku: 420 Halaman
Baca Juga
-
Max Havelaar! Novel Legendaris Pelajaran SMA yang Mengguncang Belanda
-
Menyelami 150 Tahun Sejarah Indonesia dalam Semalam Bersama Lembu Semar
-
Sembunyi di Bawah Meja Demi Nyawa: Tragedi Mei 1998 Lewat Mata Bocah Cina
-
Rahasia Gelap Mantan Tunawisma di Balik Minimarket yang Merepotkan!
-
Seteru dengan Pramoedya hingga Si Oyen: Sisi Lain Buya Hamka dalam Ayah
Artikel Terkait
Ulasan
-
Big, Buku Anak yang Mengingatkan Bahaya Body Shaming Sejak Dini
-
The 5 Second Rule: Buku yang Wajib Dibaca Mahluk Overthinking!
-
Buku One Day This Tree Will Fall, Kisah Indah Tentang Hutan dan Kehidupan
-
Novel Negeri 5 Menara: Kisah Perjuangan Meraih Mimpi dari Pesantren
-
Ulasan Novel Cinta di Dalam Gelas, Keberanian Maryamah Menantang Juara Catur
Terkini
-
Bakar Semangat Belajar Siswa Desa, KKN Unisri Sukses Gelar Aksi Inspiratif di SDN 1 Slogo Tanon
-
MBG-Kopdes dalam APBN: Benarkah Negara Sedang Menciptakan Lapangan Kerja?
-
Nostalgia! NCT 127 Renungkan Perjalanan 10 Tahun di Video Trailer Call 127
-
Bukan Pajeon Biasa! Ini 5 Fakta Menarik Padakjeon, Pancake Korea Tinggi Protein yang Lagi Viral
-
4 Toner Pad Solusi Tenangkan Kemerahan Akibat Sinar UV pada Kulit Sensitif