Ada hari-hari di mana tubuh saya tidak melakukan banyak hal, tapi pikiran terasa sangat lelah. Isi kepala berputar tanpa henti, mengulang percakapan, membayangkan kemungkinan, dan mempertanyakan hal-hal yang bahkan belum tentu terjadi.
Dan anehnya, semua itu terasa nyata. Saya pernah berpikir kalau overthinking hanya soal kebiasaan berpikir berlebihan. Tapi semakin saya mengalaminya, semakin saya sadar kondisi ini bukan sekadar “terlalu banyak mikir”.
Ini tentang bagaimana saya memproses dunia dan sering kali terlalu dalam. Seolah perempuan dan overthinking tidak pernah terpisahkan dan menjadi permasalahan yang tak pernah selesai.
Pikiran yang Tidak Pernah Benar-benar Diam
Saya bisa memikirkan satu hal berulang-ulang. Hal kecil bisa menjadi besar. Hal sederhana bisa terasa rumit. Satu kalimat dari orang lain bisa saya ingat seharian, bahkan berhari-hari.
Saya sempat mencoba mengalihkan perhatian, tapi pikiran itu selalu kembali. Seolah-olah, kepala saya tidak pernah benar-benar istirahat. Pikiran menjadi sangat penuh dan berisik sampai bikin hati capek sendiri.
Perempuan dan Beban yang Tidak Selalu Terlihat
Saya tidak bisa berbicara untuk semua perempuan, tapi saya melihat pola yang cukup sering terjadi. Perempuan cenderung memikirkan banyak hal sekaligus. Bukan hanya tentang diri sendiri, tapi juga orang lain.
Apakah yang saya katakan tadi sudah tepat? Apakah saya menyakiti perasaan orang lain? Bagaimana jika keputusan saya salah? Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul, bahkan tanpa diminta. Dan lama-lama, itu melelahkan.
Antara Peduli dan Terlalu Peduli
Saya menyadari bahwa overthinking sering berakar dari kepedulian. Saya ingin melakukan yang terbaik. Saya ingin tidak menyakiti siapa pun. Saya ingin semuanya berjalan baik.
Tapi ketika kepedulian itu berlebihan, ia berubah menjadi beban. Saya mulai takut salah. Takut dinilai. Dan takut tidak cukup baik, entah itu untuk orang lain ataupun diri sendiri.
Kepala Penuh, Hati Ikut Lelah: Kapan Bisa "Merdeka"?
Yang paling terasa bukan hanya di pikiran, tapi juga di perasaan. Saya bisa merasa cemas tanpa alasan yang jelas. Merasa lelah meski tidak banyak aktivitas. Dan merasa kehilangan energi tanpa tahu kenapa.
Di situ saya sadar, overthinking tidak hanya menguras pikiran, tapi juga hati. Dan itu membuat saya merasa “penuh” dalam arti yang tidak nyaman.
Kalau sudah seperti ini, saya benar-benar tidak bisa berpikir dengan logis. Seolah otak tidak bisa benar-benar bebas. Apakah sesulit itu pikiran bisa merdeka?
Mencari Jawaban yang Tidak Selalu Ada
Salah satu hal yang membuat overthinking sulit dihentikan adalah keinginan untuk menemukan jawaban. Saya ingin memastikan semuanya benar. Ingin memahami semua kemungkinan. Ingin mengontrol hasil.
Padahal, tidak semua hal bisa dipastikan. Tidak semua pertanyaan punya jawaban. Dan menerima itu ternyata tidak mudah. Semakin saya berusaha, jawaban yang dibutuhkan seolah semakin sulit ditemukan.
Belajar Memberi Jeda pada Pikiran
Saya mulai mencoba hal sederhana: memberi jeda. Tidak langsung menanggapi setiap pikiran yang muncul. Tidak selalu mencari solusi untuk semua hal. Dan tidak selalu menganggap semua pikiran itu benar. Saya belajar untuk berkata pada diri sendiri: “Tidak apa-apa jika belum tahu.”
Awalnya tentu terasa sulit. Tapi perlahan, saya mulai merasakan ruang dan mulai menerima bahwa saya tidak harus memahami semuanya. Saya paham kalau saya tidak harus selalu mengerti segalanya.
Tidak harus tahu alasan di balik setiap hal. Tidak harus memikirkan semua kemungkinan. Dan tidak harus selalu benar.
Overthinking Tidak Benar-benar Hilang
Bukan berarti saya berhenti peduli, tapi saya belajar untuk peduli dengan cara yang lebih sehat. Overthinking mungkin tidak akan benar-benar hilang. Ia datang dan pergi, tergantung situasi.
Namun, saya belajar untuk tidak lagi membiarkannya menguasai semuanya. Karena pada akhirnya, saya juga butuh ruang untuk bernapas. Butuh waktu untuk istirahat. Dan tentunya butuh kesempatan untuk merasa tenang meski tidak semua hal sudah terjawab.
Kepala saya mungkin masih sering penuh, tapi saya sedang belajar agar hati saya tidak ikut kelelahan. Sedikit demi sedikit. Meski overthinking masih sering datang, tapi setidaknya saya mulai mengatasinya dengan tenang.
Baca Juga
-
Merdeka dari Standar Cantik: Perlawanan Perempuan terhadap Beauty Pressure
-
Fenomena Kerja "Serabutan" di Era Modern: Cari Fleksibilitas atau Terpaksa?
-
Punya Karier, Urus Keluarga, dan Tetap Waras? Mitos "Harus Bisa Semuanya" yang Menghantui Perempuan
-
Saya Pernah Merasa Bahagia Saat Checkout Sampai Tagihan Datang, Kamu Juga?
-
Portofolio Digital Jadi Ijazah Baru, Senjata Gen Z Tembus Dunia Kerja?
Artikel Terkait
-
Merdeka dari Standar Cantik: Perlawanan Perempuan terhadap Beauty Pressure
-
The 5 Second Rule: Buku yang Wajib Dibaca Mahluk Overthinking!
-
Salah Kaprah Soal Independent Woman: Kemandirian yang Terjebak Bias Kelas
-
Punya Karier, Urus Keluarga, dan Tetap Waras? Mitos "Harus Bisa Semuanya" yang Menghantui Perempuan
-
Semester I 2026, PNM Perluas Pemberdayaan 12,4 Juta Perempuan Pelaku Usaha Ultra Mikro
Kolom
-
HUT RI Milik Siapa? Ketika Negara Merayakan dengan APBN, Warga dengan Iuran
-
MBG-Kopdes dalam APBN: Benarkah Negara Sedang Menciptakan Lapangan Kerja?
-
Skill Serba Bisa, Bayaran Seadanya: Pergeseran Makna UMR di Dunia Kerja
-
Ironi Perayaan Kemerdekaan: Pejabat Pakai Anggaran, Warga Bayar Patungan
-
Salah Kaprah Soal Independent Woman: Kemandirian yang Terjebak Bias Kelas
Terkini
-
Vivo S2 5G Resmi Hadir, Usung Baterai 7.050 mAh dan Bodi Tangguh untuk Aktivitas Ekstrem
-
J.C. STAFF Garap Anime Wound & Bandage, Romcom Putri Yakuza dan Pengasuhnya
-
Pilih Gabung Ducati, Pedro Acosta Ogah Pakai Motor KTM yang Tak Kompetitif
-
A Love Other Than Yours Rilis Still Cuts Perdana, Ada Bau-Bau Sad Ending?
-
Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah: Kisah Cinta, Perjuangan, dan Makna Kehidupan