Topik seputar tragedi kemanusiaan tahun 1965–1966 merupakan salah satu wilayah narasi yang paling menantang sekaligus paling penting untuk terus dieksplorasi. Karya-karya besar seperti Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari hingga Laut Bercerita karya Leila S. Chudori telah menunjukkan bagaimana sastra mampu menjadi medium penyampai kebenaran yang melampaui dokumen sejarah formal.
Novel "Katri" karya Adeste Adipriyanti hadir sebagai sebuah kontribusi literatur yang sangat berharga. Ditulis dengan kepekaan emosional yang tinggi, novel ini menawarkan sudut pandang yang sangat intim mengenai ketahanan fisik dan psikologis seorang perempuan di tengah badai politik yang kejam.
Sinopsis Novel Katri
Novel ini membawa pembaca kembali ke Desa Trunuh pada bulan Oktober tahun 1965. Katri (atau Sukatri), berada dalam kondisi yang sangat rentan. Ia tengah mengandung anak pertamanya dengan usia kehamilan yang sudah memasuki bulan ketujuh. Dunianya yang damai seketika runtuh ketika suaminya tiba-tiba menghilang tanpa jejak selama tiga hari berturut-turut.
Di tengah kepanikan mencari sang suami, nasib buruk yang jauh lebih mengerikan justru menghampiri Katri. Seorang oknum tentara mendatangi dirinya dan menembakkan timah panas tepat ke arah pipinya dari jarak yang sangat dekat. Penembakan brutal ini dirancang sedemikian rupa agar hidup Katri benar-benar berakhir seketika itu juga.
Namun, takdir berkata lain. Melalui sebuah keajaiban yang sulit dinalar, Katri berhasil bertahan hidup dari luka tembak yang mengerikan tersebut. Tragedi yang dialami Katri ternyata tidak hanya berakar pada pergolakan politik nasional semata, melainkan juga dipicu oleh motif keserakahan ekonomi yang sangat personal. Katri ditembak karena ia terus-menerus menagih uangnya yang dipinjam atau diambil oleh oknum tentara tersebut.
Nilai uang itu sangat fantastis untuk ukuran zamannya, yakni setara dengan satu juta rupiah pada era tahun 1965. Demi membungkam tuntutan finansial Katri dan menutupi tindakan korup mereka, aparat militer memilih jalan kekerasan untuk melenyapkannya. Dengan kondisi fisik yang terluka parah, wajah yang cacat, dan trauma psikologis yang mendalam, Katri tidak memiliki pilihan selain terus bertahan hidup. Narasi novel ini pun berpusat pada perjuangan sunyi Katri dalam mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya demi bayi di dalam kandungannya dan demi menuntut keadilan yang tak kunjung datang.
Kelebihan
Salah satu nilai paling penting dari novel Katri adalah landasan historisnya yang sangat kuat. Karya ini tidak lahir dari imajinasi kosong, melainkan ditulis berdasarkan kisah nyata dari seorang korban sekaligus saksi sejarah bernama Sukatri. Proses penulisan novel ini memiliki kaitan emosional yang sangat mendalam dengan latar belakang pribadi sang penulis, Adeste Adipriyanti. Sebagai generasi ketiga dari korban pembantaian tahun 1965, Adeste tumbuh dalam bayang-bayang sejarah keluarga yang diselimuti kabut rahasia.
Penulis berhasil menghindari jebakan penulisan fiksi sejarah yang sering kali terasa kaku, kering, atau terlalu dipenuhi jargon politik era Orde Baru maupun Orde Lama. Sebaliknya, Adeste menitikberatkan penceritaan pada aspek kemanusiaan yang sangat intim.
Novel ini berhasil membongkar dimensi lain dari kekerasan tahun 1965 yang selama ini jarang disorot dalam narasi sejarah arus utama. Dengan mengangkat motif penembakan yang disebabkan oleh urusan utang piutang uang senilai satu juta rupiah, novel ini memperlihatkan bagaimana kekacauan politik makro sering kali dijadikan alat legitimasi oleh individu-individu oportunis untuk melakukan kejahatan kriminal demi keuntungan pribadi.
Kekurangan
Fokus cerita yang sangat mendalam pada ruang lingkup domestik di Desa Trunuh membuat dinamika konflik politik dalam skala nasional kurang tergambar secara eksplisit. Pembaca yang mengharapkan penjelasan mendetail mengenai peta kekuatan politik vertikal, persaingan ideologi tingkat tinggi, atau analisis militer makro mungkin akan merasa latar belakang sejarahnya terasa agak sempit.
Selain itu, karena novel ini mengusung tema trauma sejarah dan kekerasan fisik yang sangat brutal, suasana yang dibangun di sepanjang cerita terasa sangat kelam dan penuh tekanan. Deskripsi luka tembak pada wajah Katri serta ketakutan konstan yang ia alami dapat menimbulkan rasa tidak nyaman atau memicu kecemasan (triggering) bagi pembaca yang sensitif terhadap isu kekerasan terhadap perempuan dan trauma kehamilan.
Alur penceritaan yang bergerak lambat karena lebih menekankan pada refleksi batin tokoh utama juga berpotensi membuat pembaca yang menyukai fiksi sejarah dengan tempo cepat dan penuh ketegangan fisik merasa jenuh di beberapa bagian tengah buku.
Kesimpulan
Novel Katri karya Adeste Adipriyanti merupakan sebuah pencapaian sastra yang sangat penting dalam upaya merawat ingatan kolektif bangsa Indonesia terhadap salah satu lembaran paling hitam dalam sejarahnya.
Melalui penulisan yang emosional namun tetap terkendali, buku ini berhasil mengangkat martabat para korban tragedi 1965 dari sekadar angka statistik dalam buku sejarah menjadi sosok manusia utuh yang memiliki nama, cinta, dan hak untuk diingat.
Katri tidak hanya berkisah tentang rasa sakit dan pengkhianatan, tetapi juga tentang kekuatan luar biasa dari cinta seorang ibu serta keteguhan jiwa manusia yang menolak untuk tunduk pada ketakutan. Buku ini adalah sebuah undangan terbuka bagi pembaca untuk merefleksikan kembali arti penting keadilan, kemanusiaan, dan keberanian untuk terus bersuara di tengah kesunyian sejarah yang dipaksakan.
Identitas Buku
Judul: Katri
Penulis: Adeste Adipriyanti
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tanggal Terbit: 31 Mei 2025
Tebal: 264 Halaman
Baca Juga
-
Novel The Arson Project, Dilema Antara Keadilan Hukum dan Pembalasan Pribadi
-
Ulasan Dating in the Kitchen, Drama Kuliner yang Dibintangi Zhao Lusi
-
Ulasan Drama Pro Bono, Perjalanan Jung Kyung-ho Melawan Ketidakadilan
-
Ulasan Drama Unnatural Fire, Tiga Detektif Kebakaran Penyingkap Tabir Kelam
-
Novel The Infinite Quest, Rahasia Mengerikan di Balik Eksperimen Ilegal
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review The Motorcycle Diaries: Awal Mula Lahirnya Sang Che Guevara
-
Review Buku "Tentang Dewasa": Teman Renungan dalam Menjalani Kehidupan
-
Dunia yang Menghakimi Sebelum Memahami: Pelajaran Berharga dari Film Saat Aku Bersuara
-
Bukan Sekadar Buku Nasihat, Ini Alasan "4 You, Ladies" Berasa Seperti 'Teman Ngobrol' Sehari-hari
-
Ahmad Tohari dan Realisme Magis yang Sunyi dalam Lintang Kemukus Dini Hari
Terkini
-
Fokus Pemulihan Kesehatan, Moka ILLIT Kembali Hiatus dari Kegiatan Grup
-
Fakta Menarik Trofi Emas Piala Dunia: Pernah Dicuri, Bukan Milik Sang Juara
-
Tecno Spark 50 Pro Hadir Bawa Sensor Sony LYTIA 600, Siap Gebrak Pasar Indonesia
-
Sinopsis Toy Story 5, Usaha Woody dan Mainan Hidup Lawan Kehadiran Gadget
-
Lamine Yamal Jadi Starter, Prediksi Lini dan Taktik Spanyol vs Arab Saudi