M. Reza Sulaiman | aisyah khurin
Drama My Mister (mydramalist.com)
aisyah khurin

Pada lanskap industri drama televisi Korea Selatan tahun 2018, penayangan drama "My Mister" di saluran kabel tvN menandai sebuah momen pergeseran paradigma yang amat signifikan dalam genre drama kehidupan (slice-of-life) dan drama psikologis.

Disutradarai oleh Kim Won-seok dan ditulis oleh Park Hae-young, serial berjumlah 16 episode ini hadir bukan sekadar sebagai hiburan naratif konvensional, melainkan sebagai sebuah eksplorasi sinematik yang mendalam mengenai kondisi manusia di tengah himpitan modernitas, alienasi perkotaan, serta beban kelelahan struktural.

Sinopsis Drama My Mister

Cerita ini berpusat pada dua tokoh utama yang membawa beban hidup luar biasa di tengah hiruk-pikuk kota Seoul. Tokoh pertama adalah Park Dong-hoon (Lee Sun-kyun), seorang insinyur struktur bangunan berusia 40-an tahun yang bekerja di sebuah perusahaan konstruksi besar.

Secara lahiriah, Dong-hoon tampak memiliki kehidupan yang stabil dengan pekerjaan mapan, seorang istri yang berprofesi sebagai pengacara, serta seorang anak yang menempuh pendidikan di luar negeri. Namun, di balik tampilan luar tersebut, Dong-hoon mengalami krisis eksistensial yang parah.

Ia secara pasif menanggung beban finansial dari dua saudaranya yang menganggur, mengalami kebuntuan karier akibat politik kantor yang korup, serta menghadapi kenyataan pahit bahwa istrinya, Kang Yoon-hee (Lee Ji-ah), berselingkuh dengan Do Joon-young (Kim Young-min), CEO perusahaan tempat Dong-hoon bekerja yang juga merupakan juniornya semasa kuliah. 

Tokoh kedua adalah Lee Ji-an (Lee Ji-eun / IU), seorang wanita muda berusia 20-an awal yang hidup dalam kemiskinan. Ji-an bekerja sebagai karyawan kontrak sementara di perusahaan tempat Dong-hoon bekerja. Sejak kecil, Ji-an harus menanggung utang besar yang ditinggalkan oleh orang tuanya sambil merawat neneknya yang tuli dan lumpuh, Lee Bong-ae (Son Sook).

Kehidupan Ji-an diwarnai trauma masa lalu yang kelam, termasuk hukuman penjara yang pernah dijalaninya akibat membunuh seorang lintah darat secara tidak sengaja demi membela diri dan melindungi neneknya dari siksaan fisik. Pengalaman tersebut membuat Ji-an tumbuh menjadi sosok yang dingin, bersikap sinis, tidak percaya pada manusia lain, dan bertahan hidup dengan cara apa pun. 

Titik awal konflik dramatik terjadi ketika Ji-an secara tidak sengaja mencegat amplop berisi suap bernilai besar yang sebenarnya ditujukan untuk menjebak Dong-hoon dalam intrik politik eksekutif perusahaan. Melihat peluang untuk melunasi utangnya, Ji-an membuat kesepakatan rahasia dengan Do Joon-young untuk membantu menyingkirkan Dong-hoon dari perusahaan dengan cara memasang aplikasi penyadap pada telepon genggam Dong-hoon. 

Namun, alih-alih menemukan kelemahan untuk menghancurkan Dong-hoon, Ji-an justru menyaksikan integritas moral, kebaikan tanpa pamrih, dan penderitaan sunyi yang ditanggung oleh insinyur tersebut. Dong-hoon adalah orang pertama yang memperlakukan Ji-an dengan rasa hormat sebagai sesama manusia, memberinya bantuan tanpa syarat, dan membela dirinya dari ancaman lintah darat Lee Kwang-il (Jang Ki-yong).

Seiring berjalannya waktu, hubungan yang berawal dari tindak spionase parasitik berkembang menjadi sebuah ikatan emosional dan penyembuhan mutual. Ji-an berubah menjadi pelindung terkuat Dong-hoon di tengah konspirasi korporat, sementara Dong-hoon memberikan suaka emosional yang memungkinkan Ji-an merasakan kembali arti menjadi manusia. 

Kelebihan 

Salah satu kelebihan "My Mister" adalah keberhasilannya menolak formula romansa konvensional antara pria paruh baya dan wanita muda. Skenario yang ditulis oleh Park Hae-young secara konsisten menjaga hubungan antara Dong-hoon dan Ji-an berada pada tataran kasih sayang platonis, solidaritas kemanusiaan, dan empati murni.

Performa jajaran pemeran menjadi pilar utama kekuatan drama ini. Lee Ji-eun (IU) memberikan penampilan terbaik dalam karier aktingnya, membuang citra bintang pop glamor untuk menjelma menjadi sosok Ji-an yang kusam, letih, dan penuh trauma. Penampilannya yang mengandalkan tatapan mata tajam namun rapuh mendapatkan pujian luas dari para penonton.

Di sisi lain, mendiang Lee Sun-kyun menampilkan artikulasi karakter Dong-hoon dengan wibawa suara yang khas dan kehangatan yang bersahaja, berhasil menyampaikan penderitaan batin seorang pria yang mencoba bertahan di atas nilai-nilai etika. 

Kekurangan

Sebelum dan pada awal penayangannya, drama ini menghadapi tantangan besar terkait persepsi publik. Judul My Mister (My Ahjussi) beserta perbedaan usia yang terpaut jauh sekitar 20 tahun antara kedua pemeran utama memicu prasangka negatif dari sebagian calon penonton yang mengira serial ini akan menyajikan romansa yang kurang tepat secara sosial. 

Atmosfer cerita di beberapa episode pertama terasa sangat berat, claustrophobic, dan dipenuhi oleh kepedihan hidup yang intens. Penggambaran tindakan kekerasan fisik oleh lintah darat Lee Kwang-il terhadap Ji-an pada episode awal sempat memicu kontroversi terkait batasan penayangan di televisi.

Meskipun intrik politik di perusahaan konstruksi tempat Dong-hoon bekerja berfungsi sebagai penggerak alur yang melandasi tuduhan suap dan aksi penyadapan, beberapa sub-plot yang melibatkan jajaran direktur dan perebutan posisi kekuasaan terkadang terasa terlalu teknis dan kering dibanding dinamika hubungan antar-karakter yang sangat kaya.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, "My Mister" adalah salah satu drama televisi Korea Selatan yang berhasil melampaui batasan media hiburan biasa. Keberanian skenario dalam mengeksplorasi kedalaman trauma manusia, dipadukan dengan pengarahan visual yang magis serta kualitas akting tingkat tinggi, menjadikan serial ini sebuah karya seni yang menyentuh ranah eksistensial. 

Pesan yang ditinggalkan oleh "My Mister" adalah sebuah pengingat abadi tentang daya tahan jiwa manusia di tengah badai kehidupan. Drama ini menunjukkan bahwa di tengah kegelapan, rasa dingin, dan isolasi sosial yang paling pekat sekalipun, kehadiran satu orang saja yang bersedia mendengarkan, memahami, dan memberikan rasa hormat secara tulus sudah cukup untuk menjadi pijakan bagi seseorang untuk bangkit dan menemukan kembali alasan untuk hidup.