The Furious, disutradarai oleh Kenji Tanigaki, merupakan film aksi bela diri Hong Kong yang dirilis pada tahun 2026. Film ini menyajikan perpaduan sempurna antara plot sederhana akan tetapi efektif dengan koreografi pertarungan yang brutal dan inovatif.
Dibintangi Xie Miao sebagai Wang Wei, Joe Taslim sebagai Navin, serta aktor pendukung seperti Yayan Ruhian dan Jeeja Yanin, film dengan durasi 113 menit ini berhasil menghadirkan intensitas nonstop yang jarang ditemui di era film aksi modern yang sering mengandalkan CGI berlebihan.
Kisah Perburuan Anak Hilang yang Dramatis
Plot film ini sederhana namun efektif sebagai fondasi bagi adegan aksi yang menjadi inti utama. Wang Wei (Xie Miao) hidup sebagai pekerja biasa di kota yang dikuasai kejahatan. Ketika putrinya, Rainy (Yang Enyou), diculik dalam serangkaian penculikan anak, ia harus menghadapi realitas pahit bahwa jaringan perdagangan manusia ini memiliki pengaruh besar.
Navin (Joe Taslim), yang kehilangan istrinya saat menyelidiki kasus serupa, bergabung dengannya. Bersama, mereka menelusuri jejak para pelaku dengan kekuatan kung fu, silat, dan gaya bertarung lain yang mematikan. Cerita menekankan tema amarah seorang ayah dan tekad suami, meski narasi utamanya memang tipis demi memaksimalkan elemen aksi.
Film The Furious tayang perdana di bioskop Indonesia pada 17 Juni 2026, beberapa hari setelah rilis global pada 12 Juni 2026 di Hong Kong dan Amerika Serikat. Di Indonesia, film ini mendapat rating 17+ dan diputar di jaringan bioskop seperti CGV. Kehadiran aktor Indonesia Joe Taslim dan Yayan Ruhian menjadi daya tarik utama bagi penonton Indonesia, menciptakan antusiasme tinggi di kalangan penggemar aksi Asia.
Ulasan Film The Furious
Keunggulan terbesar film ini terletak pada adegan aksinya yang luar biasa. Tanigaki, sebagai sutradara dengan latar belakang stunt master, merekam pertarungan dengan kamera steady yang panjang, tanpa potongan berlebihan, sehingga aku pun dapat merasakan setiap pukulan, tendangan, dan benturan secara nyata. Aksi praktis mendominasi, dengan penggunaan lokasi gritty seperti pabrik es dan kantor polisi yang menambah rasa autentik dan berbahaya.
Salah satu adegan paling menegangkan terjadi pada awal film, ketika Wei menyaksikan putrinya diculik. Dalam kejar-kejaran brutal di jalanan, Wei mengejar mobil penculik dengan berlari kencang sambil bertarung melawan para algojo. Adegan ini penuh ketegangan karena menampilkan Wei yang awalnya tampak biasa saja berubah menjadi kekuatan yang tak terhentikan.
Setiap pukulan menggunakan palu atau objek improvisasi terasa menyakitkan secara visual, disertai suara benturan yang realistis dan ekspresi wajah aktor yang menyampaikan amarah mendalam. Aku pun sampai merasakan detak jantung meningkat seiring Wei yang terluka parah namun terus maju, menciptakan sensasi urgensi dan keputusasaan yang mendalam. Adegan ini tidak hanya menegangkan secara fisik, tetapi juga emosional, karena menjadi katalisator seluruh perjalanan Wei.
Adegan yang paling melekat di ingatanku adalah klimaks panjang di kantor polisi, yang memakan waktu sekitar 20 menit syuting selama 18 hari. Di sini, Wei dan Navin menghadapi multiple musuh dari pihak berbeda, termasuk antagonis kuat yang dimainkan Yayan Ruhian dan Brian Le. Pertarungan lima orang ini adalah mahakarya koreografi: gerakan akrobatik yang fluid, penggunaan lingkungan secara kreatif (meja, senjata, dinding), dan dinamika yang terus berubah saat pihak ketiga ikut campur.
Darah, keringat, dan benturan brutal disajikan tanpa kompromi, namun tetap terasa seperti balet kekerasan yang puitis. Adegan ini tidak hanya memamerkan keahlian bela diri para aktor, tetapi juga membangun klimaks emosional saat misi penyelamatan mencapai puncaknya. Jujur sih, adegan ini membuatku terpaku di kursi, dengan napas tertahan hingga akhir film.
Jadi bisa kusimpulkan, The Furious unggul sebagai film aksi murni yang tidak bergantung pada plot rumit. Karakter pendukung seperti Navin menambah lapisan emosi dan kolaborasi lintas budaya yang menarik, sementara penampilan Xie Miao sebagai ayah penuh amarah sangat meyakinkan.
Meski plotnya linier, eksekusi aksi yang brilian membuat film ini menjadi salah satu yang terbaik di genre-nya tahun 2026. Untuk kamu penggemar The Raid, John Wick, atau film bela diri klasik, The Furious wajib ditonton di bioskop untuk merasakan skala dan intensitasnya secara optimal. Kelemahan minornya menurutku ada pada kedalaman cerita yang tipis, tetapi ini tidak mengurangi kenikmatan visual dan adrenalin yang ditawarkan kok, Sobat Yoursay.
Film ini membuktikan bahwa aksi praktis dan koreografi cerdas masih mampu mendominasi layar lebar. Dengan pendapatan awal yang solid, The Furious berpotensi menjadi klasik modern. Sangat aku rekomendasikan untuk ditonton bersama teman atau keluarga yang menyukai genre aksi yang keras. Rating pribadi: 8.8/10.
Baca Juga
-
Review Film Cocktail 2: Racikan Ego, Kesetiaan, dan Badai Asmara di Sisilia
-
Ulasan Flat Girls: Menenun Luka, Kelas Sosial, dan Cinta Remaja yang Rapuh
-
Review Dukun Magang: Komedi Absurd yang Sukses Bikin Merinding Sekaligus Ngakak!
-
Review Cerita Lila: Horor Psikologis yang Lebih Menakutkan dari Sekadar Penampakan
-
Review Toy Story 5: Ketika Woody dan Buzz Harus Melawan Tablet Canggih Masa Kini!
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Film Cocktail 2: Racikan Ego, Kesetiaan, dan Badai Asmara di Sisilia
-
Tuhan, Aku Ingin Sembuh: Buku Healing Bernuansa Spiritual yang Menguatkan
-
Review Jodohku Om-Om: Konflik Tak Seberapa dengan Alur Manis bak Stevia
-
Review The Death of Robin Hood: Saat Sang Legenda Menepi di Pulau Terpencil
-
Apakah Semua Orang Berhak Mendapat Kesempatan Kedua? Menakar Film DOSA
Terkini
-
Kejutkan Publik! Anne Hathaway Pamer Baby Bump untuk Anak Ketiga
-
Piala Dunia 2026: Tunduk di Tangan Jepang, Tunisia Jadi Tim Ketiga yang 'Mudik'
-
Sisi Lain Piala Dunia 2026: Mengapa Fanwar di Media Sosial Susah Diredam?
-
Gaya Bahasa Jakselan di Kampus yang Bikin Logika Bahasa Baku Jadi Korban
-
Influencer Digital Hari Ini: Antara Pengaruh dan Tanggung Jawab