Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Indonesia 1979 (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Bagaimana Indonesia memperkenalkan dirinya kepada dunia pada akhir dekade 1970-an? Pertanyaan tersebut dapat dijawab melalui Indonesia 1979: An Official Handbook, sebuah buku referensi resmi yang diterbitkan oleh Departemen Penerangan Republik Indonesia.

Berbahasa Inggris dan ditujukan bagi pembaca internasional, buku setebal 276 halaman ini menjadi semacam “kartu identitas” Indonesia di mata dunia pada masa Orde Baru.

Lebih dari sekadar buku statistik, Indonesia 1979: An Official Handbook merupakan dokumen penting yang menggambarkan bagaimana pemerintah Indonesia saat itu memandang dirinya sendiri, menampilkan pencapaian pembangunan nasional, sekaligus membangun citra negara yang stabil, berkembang, dan siap berperan dalam percaturan internasional.

Isi Buku

Buku ini diterbitkan oleh Direktorat Pelayanan Penerangan Luar Negeri, Departemen Penerangan Republik Indonesia. Isinya mencakup berbagai aspek kehidupan nasional, mulai dari sistem pemerintahan, kondisi geografis, demografi, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, hingga hubungan internasional.

Dilengkapi foto hitam-putih, foto berwarna, serta peta lipat berukuran besar, buku ini dirancang sebagai sumber informasi komprehensif bagi diplomat, peneliti, investor, maupun masyarakat internasional yang ingin mengenal Indonesia.

Salah satu bagian menarik dalam buku ini adalah pembahasan mengenai sejarah Indonesia. Pemerintah berupaya menyajikan narasi panjang perjalanan bangsa, mulai dari masa kerajaan Hindu-Buddha hingga era modern. Dalam salah satu bab, dijelaskan bagaimana pengaruh India masuk ke Nusantara dan membentuk peradaban kerajaan-kerajaan besar seperti Kutai, Sriwijaya, dan Majapahit.

Buku tersebut menyoroti bahwa budaya Hindu dan Buddha tidak diterima secara pasif oleh masyarakat Nusantara, melainkan mengalami proses akulturasi dengan budaya lokal. Kisah Mahabharata dan Ramayana, misalnya, diperkenalkan melalui pertunjukan wayang yang kemudian berkembang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Indonesia.

Penjelasan ini menunjukkan bagaimana pemerintah saat itu berusaha menampilkan Indonesia sebagai bangsa yang memiliki sejarah panjang, kaya budaya, dan berakar kuat pada tradisi peradaban Asia.

Namun inti utama buku ini terletak pada uraian mengenai pembangunan nasional. Tahun 1979 merupakan periode ketika pemerintah Orde Baru sedang gencar melaksanakan Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA). Oleh karena itu, sebagian besar isi buku menyoroti berbagai keberhasilan pembangunan di sektor pertanian, industri, pertambangan, perdagangan, dan infrastruktur.

Pada masa itu, Indonesia tengah menikmati peningkatan pendapatan negara akibat booming minyak dunia. Pemerintah memanfaatkan momentum tersebut untuk membangun jalan raya, pelabuhan, sekolah, rumah sakit, serta berbagai fasilitas publik lainnya. Buku ini menggambarkan optimisme besar terhadap masa depan Indonesia yang sedang bergerak menuju modernisasi.

Di bidang pertanian, misalnya, pemerintah menekankan program intensifikasi pertanian untuk meningkatkan produksi pangan nasional. Sementara di sektor industri, berbagai proyek industrialisasi diperkenalkan sebagai langkah mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah. Semua pencapaian tersebut dipresentasikan sebagai bukti keberhasilan pembangunan yang bertujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Kelebihan dan Kekurangan

Aspek yang mendapat perhatian adalah pendidikan dan kesejahteraan sosial. Buku ini menjelaskan perluasan akses pendidikan dasar, peningkatan fasilitas kesehatan, serta berbagai program sosial yang dirancang untuk mendukung pembangunan manusia Indonesia. Dalam perspektif pemerintah saat itu, pembangunan bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Indonesia 1979: An Official Handbook juga memperkenalkan posisi Indonesia dalam dunia internasional. Buku ini menegaskan prinsip politik luar negeri bebas dan aktif, keanggotaan Indonesia dalam ASEAN, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta keterlibatan dalam Gerakan Non-Blok. Pesan yang ingin disampaikan cukup jelas: Indonesia adalah negara berkembang yang stabil dan memiliki peran penting di kawasan Asia Tenggara.

Bagian yang tidak kalah menarik adalah profil 27 provinsi yang ada pada masa itu. Setiap daerah diperkenalkan melalui potensi ekonomi, kondisi geografis, dan karakteristik budayanya. Bahkan Timor Timur yang baru berintegrasi dengan Indonesia juga mendapat perhatian khusus sebagai bagian dari wilayah nasional.

Meskipun buku ini disusun dari sudut pandang pemerintah Orde Baru dan tentu mengandung narasi resmi negara, nilainya sebagai sumber sejarah tetap sangat penting. Melalui halaman-halamannya, pembaca dapat memahami bagaimana Indonesia ingin dilihat oleh dunia pada akhir 1970-an: sebagai negara yang sedang membangun, optimistis terhadap masa depan, dan bangga terhadap keberagaman budaya serta sejarahnya.

Karena itulah, Indonesia 1979: An Official Handbook bukan sekadar buku referensi. Ia adalah kapsul waktu yang menyimpan gambaran Indonesia pada sebuah periode penting ketika pembangunan, modernisasi, dan pencitraan nasional menjadi agenda utama negara. Membacanya hari ini berarti menengok kembali bagaimana bangsa ini pernah memandang dirinya sendiri di tengah perubahan besar abad ke-20.

Identitas Buku

  • Judul Buku: Indonesia 1979: An Official Handbook
  • Penerbit: Department of Information, Republic of Indonesia  (Departemen Penerangan Republik Indonesia)
  • Tahun Terbit: 1979 
  • Tebal: 276 halaman
  • Bahasa: Inggris
  • Kategori: Non Fiksi, Buku Saku, Politik