Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster film Dear You (IMDb)
Ryan Farizzal

Dear You (2026) adalah film drama keluarga Tiongkok yang disutradarai dan ditulis bersama oleh Lan Hongchun. Film ini dirilis secara luas di bioskop Indonesia pada 7 Agustus 2026, sehari setelah premiere di Jakarta yang dihadiri berbagai kalangan dari komunitas Tionghoa-Indonesia dan perwakilan budaya kedua negara.

Film berdurasi sekitar 118 menit ini sebagian besar menggunakan dialek Teochew (Tiochiu) dari wilayah Chaoshan, Guangdong, dengan elemen Mandarin dan Thai. Diproduksi dengan anggaran rendah sekitar 14 juta yuan, film ini menjadi fenomena sleeper hit di Tiongkok, meraup pendapatan box office domestik lebih dari 1,9 miliar yuan dan menduduki peringkat tinggi di antara film Tiongkok tahun 2026. Kisahnya berakar pada tradisi qiaopi—surat dan pengiriman uang dari perantau Tionghoa di Nanyang (Asia Tenggara) kepada keluarga di tanah air—yang menjadi benang merah emosional sepanjang cerita.

Jejak Surat dan Solidaritas Diaspora yang Menyentuh

Salah satu adegan di film Dear You (IMDb)

Di masa kini, nenek Iap Sogriu (Ye Shurou) di Shantou hidup tenang sambil menyimpan kenangan akan suami, Den Bhagseng (Zheng Musheng), yang pergi ke Asia Tenggara untuk menghindari wajib militer pada era perang saudara. Ia percaya suami telah menelantarkan keluarga setelah surat terakhir. Cucunya yang terlilit utang, Hiou-ui (Xiaowei), diam-diam pergi ke Thailand mencari kakek yang dikabarkan kaya raya. Yang ia temukan justru kebenaran mengejutkan: Bhagseng telah meninggal pada 1960, dan surat-surat qiaopi yang terus datang selama puluhan tahun dikirim oleh Zia Lamgi (Xie Nanzhi), seorang wanita Tionghoa-Thailand yang tidak dikenal keluarga.

Flashback ke tahun 1950-an di Bangkok menyingkap pertemanan mendalam antara Bhagseng dan Lamgi di wisma milik keluarga Zia. Mereka bersama-sama mengajarkan bahasa Tionghoa secara diam-diam kepada anak-anak setempat. Tragedi menyusul: Bhagseng tewas menolong orang lain, dan Lamgi, tak sanggup menyampaikan berita duka, melanjutkan pengiriman uang, surat, dan hadiah atas nama Bhagseng selama lebih dari 18 tahun. Kesalahpahaman muncul ketika sebuah foto tiba tanpa surat penjelasan yang hilang dalam badai, membuat Sogriu menyangka suami telah berkeluarga baru. Di akhir, kedua keluarga saling bertemu, dan papan arwah Bhagseng dibawa pulang.

Review Film Dear You

Salah satu adegan di film Dear You (IMDb)

Lan Hongchun berhasil membangun narasi yang sederhana namun berlapis melalui detail keseharian dan penampilan natural dari sebagian besar pemeran non-profesional. Li Sitong sebagai Lamgi muda memberikan penampilan yang meyakinkan dan menjadi penemuan baru, sementara Usha Seamkhum (dikenal dari How to Make Millions Before Grandma Dies) menyampaikan emosi melalui bahasa tubuh sebagai Lamgi tua yang menderita demensia. Wu Shaoqing dan Wang Xiaohui sebagai Sogriu di dua periode usia juga tampil terkendali. Gaya sutradara yang dipengaruhi realisme, dengan humor ringan di sela-sela kesedihan, mencegah film jatuh sepenuhnya ke dalam melodrama berlebihan, meskipun skor musik terkadang terasa menonjol.

Kekuatan film terletak pada penggambaran qingyi—rasa kasih sayang dan kewajiban moral—yang diwujudkan tanpa kata-kata bombastis. Tema migrasi, pengorbanan perempuan, dan ikatan keluarga lintas generasi terasa autentik karena banyak elemen diambil dari kisah nyata komunitas Chaoshan di Asia Tenggara. Bagi penonton Indonesia, terutama yang memiliki latar belakang Tionghoa perantauan, film ini membangkitkan resonansi historis tentang qiaopi dan hubungan dengan tanah leluhur.

Adegan Paling Berkesan dan Emosional

Salah satu adegan paling berkesan adalah saat Lamgi secara konsisten menulis dan mengirim qiaopi setelah kematian Bhagseng. Ia bekerja keras menjual makanan dan melakukan berbagai pekerjaan sambil menjaga janji, bahkan ketika kantor pengiriman mulai menutup. Adegan-adegan singkat di meja tulis atau kantor yinxinju menunjukkan keteguhan yang tenang, tanpa dramatiasi berlebihan, tapi meninggalkan kesan mendalam tentang kesetiaan yang melampaui kepentingan pribadi.

Adegan paling emosional terjadi pada pertemuan kedua perempuan tua di Thailand. Sogriu, setelah mengetahui kebenaran melalui telepon, datang menemui Lamgi yang sudah pikun. Tidak ada pelukan dramatatis atau pengakuan panjang. Lamgi dalam kebingungannya hanya bertanya tentang daging babi asin yang pernah dikirimnya. Pertanyaan sederhana itu, diiringi ekspresi wajah yang menahan air mata, menjadi puncak emosional yang menahan diri namun sangat menyentuh.

Kalau boleh jujur, aku menangis di adegan ini karena menggambarkan pengorbanan diam-diam yang baru terungkap di penghujung usia. Adegan lain yang mengena adalah reaksi Sogriu setelah mendengar kebenaran: ia hanya berkata hujan dan pergi memeriksa zaitun yang sedang dimasak—respons natural yang tidak terencana dan merekam ketabahan generasi itu.

Film ini bukan tanpa kekurangan ya, Sobat Yoursay. Beberapa loncatan naratif terasa dipaksakan oleh kebetulan, dan bagian akhir agak melambat. Akan tetapi, keseluruhan karya tetap berhasil menyampaikan pesan tentang cinta, kesalahpahaman, dan penyembuhan lintas waktu. Dear You layak ditonton sebagai penghormatan yang tulus terhadap sejarah perantauan Tionghoa dan kekuatan ikatan manusia yang tak terlihat. Dengan tayang di bioskop Indonesia mulai 7 Agustus 2026, film ini menawarkan pengalaman emosional yang relevan bagi penonton lintas generasi. Rating pribadi: 7.5/10.