M. Reza Sulaiman | Ryan Farizzal
Poster film Jangan Buang Ibu (IMDb)
Ryan Farizzal

Film drama keluarga Indonesia berjudul Jangan Buang Ibu, yang disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu dan diproduksi oleh LEO Pictures, resmi tayang di bioskop Indonesia mulai hari ini, 25 Juni 2026. Film ini merupakan adaptasi dari novel populer berjudul Jangan Buang Ibu, Nak karya Wahyu Derapriyangga yang diterbitkan pada tahun 2014.

Dengan durasi 119 menit, film ini dibintangi oleh Nirina Zubir sebagai Ristina (atau Restiana), Refal Hady sebagai Tama, serta Amanda Manopo sebagai Dewi, didukung oleh pemeran pendukung seperti Saputra Kori, Dwi Sasono, Erika Carlina, dan lainnya.

Realitas Pahit tentang Ego Anak di Zaman Modern

Salah satu adegan di film Jangan Buang Ibu (IMDb)

Kisah berpusat pada perjuangan seorang ibu tunggal bernama Ristina yang harus membesarkan tiga anaknya sendirian setelah kepergian suaminya. Sepanjang hidupnya, ia mendedikasikan segala pengorbanan, baik materi maupun emosional, untuk memastikan anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang sukses. Namun, pada masa tuanya, Ristina justru mengalami pengabaian. Anak-anaknya yang telah mapan memutuskan untuk menitipkannya di panti jompo, meninggalkan luka mendalam tentang tanggung jawab keluarga dan arti pengorbanan yang sering kali terlupakan. Melalui pendekatan naratif yang intim, film ini mengeksplorasi dinamika hubungan antara orang tua dan anak, konflik antargenerasi, serta realitas sosial tentang perawatan lansia di tengah kesibukan anak muda modern.

Overall, Jangan Buang Ibu berhasil menyajikan drama keluarga yang menyentuh hati dengan kualitas produksi yang solid. Akting Nirina Zubir sebagai ibu yang tegar tetapi rapuh menjadi puncak kekuatan film ini. Ia mampu menyampaikan lapisan emosi yang kompleks, mulai dari keteguhan hati seorang ibu hingga kesedihan mendalam akibat pengkhianatan emosional dari anak-anaknya. Refal Hady dan Amanda Manopo juga memberikan penampilan yang meyakinkan, menggambarkan karakter anak-anak yang terjebak antara ambisi pribadi dan rasa bersalah. Sinematografi oleh Fachmi Jusuf Saad mendukung suasana dengan pencahayaan lembut dan komposisi bingkai yang memperkuat nuansa intim rumah tangga serta kesunyian panti jompo. Musik latar, termasuk soundtrack Jangan Buang Aku oleh Rizky Febian, makin memperdalam resonansi emosionalku sebagai penonton.

Ulasan Film Jangan Buang Ibu

Salah satu adegan di film Jangan Buang Ibu (IMDb)

Film ini unggul dalam membangun karakter yang relatable. Penonton Indonesia dapat dengan mudah mengidentifikasi diri dengan konflik yang dihadirkan karena tema pengabaian orang tua merupakan isu yang makin relevan di masyarakat urban. Sutradara Hadrah Daeng Ratu dengan apik merajut kehangatan nostalgia masa kecil dan kepedihan konflik masa kini menjadi satu kesatuan yang seimbang. Akan tetapi, beberapa bagian terasa sedikit bertele-tele dalam pengembangan subplot pendukung, yang dapat mengurangi ritme cerita di paruh kedua. Meski demikian, pesan moral yang kuat tentang menghargai orang tua sebelum terlambat tetap tersampaikan dengan efektif kok, Sobat Yoursay.

Salah satu adegan paling emosional terjadi menjelang pernikahan Dewi (Amanda Manopo). Dewi menginginkan ayahnya hadir sebagai wali nikah, yang membuka kembali luka lama keluarga. Puncak konflik terjadi saat Tama berhadapan dengan saudara-saudaranya dan mendesak mereka untuk menganggap ayah mereka sudah tiada demi menutupi skandal. Adegan ini diperkuat oleh ekspresi Nirina Zubir yang penuh kesedihan diam-diam, mencerminkan pengorbanan ibu yang tidak pernah menceritakan penderitaannya. Suasana hening yang diiringi musik instrumental yang menyayat membuat banyak penonton di bioskop tidak kuasa menahan air mata. Adegan ini bukan hanya tentang konflik keluarga, melainkan representasi bagaimana masa lalu yang tidak terselesaikan terus menghantui generasi mendatang.

Satu lagi adegan yang paling melekat setelah menonton film ini adalah momen Ristina sendirian di panti jompo, menerima kunjungan sporadis dari anak-anaknya yang sibuk. Di sini, ia tersenyum lemah sambil mengingat kenangan masa kecil anak-anaknya melalui foto-foto lama, sementara suara latar doa dan bisikan "Jangan buang ibu" bergema. Adegan ini sederhana tetapi powerful, meninggalkan kesan mendalam tentang kesepian lansia dan penyesalan anak yang datang terlambat. Adegan ini mendorongku untuk segera menghubungi orang tua setelah keluar dari bioskop, menjadikannya elemen paling berkesan dan reflektif dari film ini.

Jadi bisa kusimpulkan, Jangan Buang Ibu adalah film yang wajib ditonton bagi seluruh anggota keluarga. Dengan kekuatan akting, narasi yang humanis, dan tema universal, film ini berhasil menguras emosi sekaligus memberikan pelajaran berharga. Rating pribadi dariku: 8.5/10. Tayang mulai hari ini, 25 Juni 2026, di seluruh bioskop Indonesia, film ini berpotensi menjadi salah satu drama keluarga terbaik tahun ini. Sangat kusarankan untuk menontonnya dengan persiapan mental karena film ini tidak hanya menghibur, melainkan juga memaksa kita merefleksikan hubungan dengan orang tua.