Pee Nak 5 merupakan kelanjutan dari franchise horor komedi Thailand yang telah sukses sejak film pertama pada 2019. Disutradarai oleh Phontharis Chotkijsadarsopon (juga dikenal sebagai Mike Phontharis), film ini tayang perdana di Thailand pada 3 Maret 2026 dan resmi dirilis di bioskop Indonesia mulai hari ini, 24 Juni 2026. Dengan durasi sekitar 120 menit dan rating usia 17+ (atau D17+), film ini menggabungkan elemen jump scare, aksi supernatural, serta komedi slapstick khas Thailand yang telah menjadi ciri khas seri ini. Distributor di Indonesia seperti CGV, Cinepolis, dan lainnya membawa film ini ke layar lebar, lengkap dengan subtitle Bahasa Indonesia
Dendam Hantu yang Mengancam Ikatan Keluarga dan Teman
Sinopsis film berfokus pada kelompok teman utama—termasuk Balloon (Witthawat Rattanaboonbaramee), First (Bhuripat Vejvongsatechawat), dan Nott—yang setahun setelah mengalahkan hantu Nak Tinn kini menghadapi ancaman baru. Sebuah hantu Pee Nak yang lebih kuat muncul, didorong oleh dendam keluarga dan karma buruk. Nott tiba-tiba menghilang dan menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan mengerikan. Kelompok ini pun terpaksa bersatu kembali untuk menghadapi teror yang kali ini tidak hanya menargetkan Nott, melainkan semua orang yang dicintainya. Tagline “Whoever you love will perish!” menjadi pengingat bahwa taruhannya jauh lebih tinggi. Cerita mengeksplorasi tema persahabatan, ikatan keluarga, serta karma, sambil mempertahankan elemen mitologi Thailand seperti ular naga dan kuil suci.
Ulasan Film Pee Nak 5
Secara keseluruhan, Pee Nak 5 berhasil mempertahankan formula yang membuat seri ini populer: keseimbangan antara ketegangan horor dan humor ringan. Visual effects, khususnya penampilan hantu dengan CGI yang semakin halus, serta desain makhluk supernatural seperti figur naga, mendapat pujian. Pencahayaan dan efek suara ambient (termasuk suara hutan) mendukung atmosfer yang mencekam, meski beberapa adegan malam awal agak kurang jelas. Akting para pemeran utama tetap energik; chemistry antar karakter lama memberikan rasa nostalgia sekaligus kelucuan alami. Skor musik dan timing komedi juga mendukung ritme film yang dinamis.
Salah satu kekuatan utama film ini adalah kemampuan mengubah momen horor menjadi komedi secara mendadak. Adegan paling kocak menurutku adalah saat kelompok teman berusaha melawan hantu dengan senjata seadanya di lokasi suci. Salah satu karakter berteriak panik, “Stop! Stop doing that to my brother!” diikuti respons absurd dari hantu yang justru membuat situasi semakin chaotic. Adegan di mana karakter mencoba mantra atau ritual yang gagal total, diakhiri dengan slip dan jatuh yang tidak disengaja, dan ini memicu tawa keras di bioskop. Komedi fisik dan dialog sarkastik antar teman, terutama lelucon tentang ukuran tubuh atau persahabatan “kami semua sama saja”, menjadi highlight yang meringankan ketegangan.
Untuk adegan yang paling kuingat setelah nonton filmnya adalah melibatkan twist emosional dan visual yang kuat. Pertikaian utama di tempat suci yang melibatkan naga legendaris menjadi salah satu bagian dari cerita ini. Momen di mana hantu muncul secara tiba-tiba di depan wajah karakter, disertai cipratan darah atau efek jump scare yang diikuti punchline lucu, meninggalkan kesan mendalam. Aku pun mengingat dengan jelas bagaimana film beralih dari ketakutan murni menjadi tawa histeris dalam hitungan detik—seperti adegan darah menyembur ke wajah yang berubah menjadi keluhan konyol. Elemen persaudaraan dan pengorbanan juga memberikan sentuhan emosional yang membuatku merenung setelah film usai, meski dibalut komedi. Menurutku bagian ending twist-nya mengejutkan dan membuka kemungkinan sekuel.
Dibandingkan film-film sebelumnya, Pee Nak 5 terasa lebih matang dalam pacing dan produksi. Meski plotnya masih mengandalkan formula klasik franchise seperti pertemuan hantu, perjalanan aneh, resolusi supernatural, eksekusinya lebih polished dengan chaos yang lebih besar dan taruhan emosional yang lebih dalam. Kritikku mungkin mencakup beberapa bagian yang terasa sedikit berlarut, tetapi ini tidak mengurangi hiburan secara keseluruhan kok. Film ini cocok buat kamu penggemar horor ringan yang tidak terlalu menyeramkan, serta mereka yang mencari tawa bersama teman atau keluarga di bioskop.
Dengan rilisnya di Indonesia mulai hari ini, 24 Juni 2026. Pee Nak 5 menjadi pilihan menarik di tengah musim film musim panas. Ia menawarkan pengalaman sinematik yang menghibur, mendebarkan, dan penuh kejutan. Buat kamu yang telah mengikuti seri ini, film ini memberikan kepuasan nostalgia sekaligus penyegaran. Bagi penonton baru, ia tetap mudah diikuti sambil memperkenalkan dunia Pee Nak yang unik. Sangat aku rekomendasikan untuk ditonton di layar lebar guna merasakan efek suara dan visual secara maksimal. Dengan pengalaman menontonku ini meninggalkan kesan bahwa, di balik teror hantu, persahabatan dan tawa tetap menjadi senjata paling ampuh.
Film ini membuktikan bahwa franchise Pee Nak masih relevan dan mampu berkembang, menggabungkan budaya Thailand dengan hiburan universal yang menyenangkan. Jangan lewatkan kesempatan menyaksikannya di bioskop ya, Sobat Yoursay. Selamat menonton! Rating pribadi: 8/10.
Baca Juga
-
Review Sterling Point: Refleksi Kehidupan dan Romansa Remaja Masa Kini
-
The Last House: Pesan Moral Mendalam tentang Hubungan Manusia dan Alam
-
Review The Price of Confession: Kisah Misteri Gelap Penjara Korea Selatan!
-
Review Film The Ribbon Hero: Dongeng Klasik Tezuka dalam Balutan Modernitas
-
Review Film Dear You: Sinema Sejarah Bertema Diaspora yang Luar Biasa Indah
Artikel Terkait
-
Review Film Cocktail 2: Racikan Ego, Kesetiaan, dan Badai Asmara di Sisilia
-
Dunia yang Menghakimi Sebelum Memahami: Pelajaran Berharga dari Film Saat Aku Bersuara
-
Review Dukun Magang: Komedi Absurd yang Sukses Bikin Merinding Sekaligus Ngakak!
-
Review The Gangster, The Cop, The Devil: Adu Brutal Polisi Nekat dan Bos Mafia Melawan Sang Iblis
-
Review Cerita Lila: Horor Psikologis yang Lebih Menakutkan dari Sekadar Penampakan
News
-
Desa Les Buleleng: Saat Tradisi Garam Kuno Berpadu dengan Inovasi Modern
-
Merawat Syiar Islam Berkemajuan: Peringatan 666 Tahun Islam Masuk Papua di Fakfak
-
Ancaman El Nino 2026: Luas Area Terindikasi Terbakar Capai Tiga Kali Lipat Daratan Jakarta
-
Pariwisata Maju, Lalu Lintas Mundur: Sisi Gelap di Balik Viralnya Situ Kamojing Cikampek
-
Garam Palungan Desa Les: Menjaga Warisan Leluhur di Bawah Matahari Bali Utara
Terkini
-
Hasil MotoGP Inggris 2026: Kejutan dari Raul Fernandez yang Lama Menghilang
-
Mengulik Desa Les: Saat Tradisi Gerakkan Ekonomi, Anak Muda Siap Warisi?
-
Review Sterling Point: Refleksi Kehidupan dan Romansa Remaja Masa Kini
-
Intip Teaser Bad Lieutenant: Tokyo, Dibintangi Shun Oguri dan Lily James
-
Novel Tanjung Luka, Pencarian Kebenaran di Tengah Prasangka Masyarakat