Sekolah sering menjadi tempat pertama bagi anak untuk belajar tentang disiplin. Rambut tidak boleh terlalu panjang, sepatu harus mengikuti model tertentu, seragam harus dikenakan dengan cara tertentu, atribut harus lengkap, dan berbagai aturan lain yang mudah ditemukan dalam keseharian siswa.
Semua itu dianggap penting untuk membentuk pribadi yang tertib. Namun, apakah disiplin cukup hanya dengan membuat siswa patuh pada aturan?
Pengalaman saya sendiri menunjukkan bahwa aturan sekolah kadang membuat hal sederhana terasa menakutkan. Dulu, saya takut membawa novel ke sekolah karena khawatir buku tersebut disita guru jika ketahuan.
Padahal, novel yang saya bawa bukan bacaan aneh-aneh dan saya membacanya ketika jam istirahat, bukan ketika pelajaran berlangsung. Bukankah sekolah semestinya mendorong siswa yang suka membaca, termasuk memberi ruang untuk membaca buku di luar bahan pelajaran?
Dari situ saya mulai bertanya-tanya, mengapa sekolah lebih panik melihat rambut gondrong atau sepatu warna-warni daripada siswa yang tidak punya minat baca?
Mendidik atau Sekadar Menertibkan?
Menurut saya, disiplin bukan sekadar soal mengikuti perintah. Siswa juga perlu memahami alasan di balik setiap aturan dan belajar bertanggung jawab atas tindakannya. Sayangnya, di sekolah disiplin sering kali hanya diukur dari seberapa patuh siswa terhadap aturan.
Siswa sering dianggap disiplin jika datang tepat waktu, mengenakan seragam sesuai aturan, menjaga panjang rambut, memakai sepatu yang ditentukan, dan tidak melakukan pelanggaran.
Hal-hal tersebut memang penting dalam membentuk keteraturan di sekolah. Namun, jika kepatuhan pada aturan justru menjadi ukuran utama kedisiplinan, sementara kemampuan siswa untuk berpikir mandiri tidak mendapat perhatian yang sama, itu akan jadi masalah.
Sebab, ada perbedaan antara mematuhi aturan karena memahami alasannya dan mematuhi aturan karena takut mendapat hukuman.
Saya justru khawatir jika sejak sekolah siswa terlalu sering diajarkan bahwa anak yang baik adalah anak yang selalu menurut dan tidak banyak bertanya. Kebiasaan seperti ini bisa terbawa hingga dewasa. Kita bisa tumbuh menjadi orang yang terbiasa menerima perintah tanpa berpikir ulang.
Membaca Seharusnya Tidak Menjadi Pelanggaran
Pengalaman saya soal novel mungkin terlihat sepele. Namun, bagi saya, justru dari hal-hal kecil seperti itulah kita bisa melihat bagaimana budaya membaca diperlakukan di lingkungan sekolah.
Bayangkan seorang siswa membawa novel ke sekolah. Seharusnya, respons pertama sekolah bukan langsung menganggap buku itu sebagai gangguan, melainkan melihat bahwa ada seorang siswa yang memilih menghabiskan waktu luangnya dengan membaca.
Tentu, ada batasan soal bacaan yang layak dibawa siswa ke sekolah. Namun, rasanya kurang tepat jika novel yang tidak mengandung konten bermasalah justru dilarang hanya karena tidak termasuk dalam bahan ajar.
Menurut saya, sekolah seharusnya menjadi tempat yang membuat siswa semakin dekat dengan buku, bukan semakin takut membaca.
Siswa tidak hanya perlu membaca buku yang diwajibkan guru. Mereka juga perlu menemukan bacaan yang membuat mereka penasaran, memperkenalkan sudut pandang baru, atau sekadar membuat mereka menikmati aktivitas membaca.
Lebih Mudah Merazia Rambut daripada Mengajarkan Nalar
Rambut gondrong bisa langsung membuat sekolah panik, tetapi rendahnya minat baca siswa tidak mendapat respons yang sama.
Mungkin salah satu alasan sekolah begitu fokus pada aturan penampilan adalah karena aturan semacam itu mudah diawasi. Guru bisa langsung melihat siswa yang rambutnya terlalu panjang, pelanggaran sepatu bisa diketahui hanya dengan melihat kaki siswa, seragam yang tidak lengkap juga mudah ditemukan.
Sebaliknya, kemampuan berpikir kritis tidak bisa diukur hanya dengan satu kali pemeriksaan. Guru perlu menciptakan ruang diskusi, memberi kesempatan siswa bertanya, membiasakan mereka membaca berbagai sumber, dan mengajarkan cara membedakan informasi yang benar dari yang menyesatkan. Semua itu membutuhkan waktu, tenaga, dan kesabaran.
Saya tidak mengatakan aturan soal rambut, sepatu, atau seragam harus dihilangkan. Yang perlu dipertanyakan adalah porsinya. Jangan sampai sekolah terlalu sibuk memastikan siswanya terlihat tertib, tetapi lupa mengajarkan mereka cara berpikir.
Siswa memang perlu belajar disiplin, tetapi siswa juga perlu belajar berpikir. Jangan sampai sekolah terlalu sibuk merapikan rambut siswa, sementara isi kepalanya justru terlupakan.
Baca Juga
-
Bos-bos Kecil di Negeri Besar: Potret Gagal Negara Membuka Lapangan Kerja
-
He Is Psychometric: Menyingkap Misteri Kejahatan dengan Kekuatan Psikometri
-
Influencer Pamer Kekayaan di Tengah Krisis, Masihkah Layak Jadi Tontonan?
-
Kerja Keras Tak Menjamin Naik Kelas, tapi Si Miskin Dianggap Kurang Berusaha
-
Rakyat Didorong Berwirausaha, Pungli Menghadang di Depan Mata
Artikel Terkait
-
5 Siswa SMP Ditabrak Kereta, 4 Langsung Tewas dan 1 Kritis
-
Sekolah Gratis Hanya untuk SPP? Ini Penjelasan Lengkap Mendikdasmen Soal Seragam dan Ekskul
-
Gus Ipul Pesan kepada Wali Asuh dan Wali Asrama: Jalankan Tugas dengan Hati
-
Kumpulkan Para Menteri, Prabowo Matangkan Rencana Gratiskan Sekolah hingga PTN
-
Siswa SD Tewas Tersedak Menu MBG, JPPI Soroti SOP Keamanan Makanan hingga Penanganan Darurat
Kolom
-
Jebakan Gaji Tinggi: Saat Korban Loker Palsu Dipaksa Jadi Sindikat Love Scamming
-
Dari Ngajar Jadi Tukang Endus: Ironi di Balik MBG
-
Bukan Buat Perang, Ini Alasan RI Butuh Kapal Induk
-
Slow Dating: Tak Mau Terburu-buru atau Menghindari Hubungan Intens di Awal?
-
Peran AI di Dunia Kepenulisan: Ancaman atau Partner Kerja bagi Penulis?
Terkini
-
Dilema Memburu Pemangsa: Eksekusi Jurnalisme Investigasi yang Tergilas Bumbu Supranatural
-
Sinopsis Take Charge of My Heart: Romansa Fantasi, Tayang 9 Oktober
-
Review Kaiji: Final Game, Ketika Hidup Hanya Bisa Dimenangkan Orang Kaya
-
Intip Spek Huawei Mate 90 RS Ultimate: Kamera Periskop 200 MP dan Zoom Optik 12x Jadi Sorotan
-
Review Film Resurrection: Sajikan Keindahan Sinematik dalam Balutan Misteri