Selama ini, kita terbiasa menganggap fiksi ilmiah ialah genre yang identik dengan kota futuristik, robot canggih, hingga perang antargalaksi. Rasanya sulit membayangkan alien tersesat di Madura.
Kerennya, melalui Film Foufo, Sutradara Bayu Skak ngajak kita mempertanyakan anggapan itu. Film ini kayak lagi pamer, ‘masa depan dalam fiksi ilmiah’ nggak selalu harus berkutat dengan teknologi canggih atau kota-kota futuristik, melainkan bisa dari keberanian menjadikan lokalitas sebagai pusat cerita.
Film buatan Skak Studios yang berkolaborasi dengan SinemArt, Legacy Pictures, Tretan Universe Production, dan Advan ini resmi tayang di bioskop pada 9 Juli 2026. Film berdurasi sekitar 120 menit ini dibintangi Tretan Muslim, Bayu Skak, Benedictus Siregar, Hari Otong, Fuad Sasmita, Anggun Dwi Lestari, Siti Kamariyah, Mieke Shahir, Habib Ja'far, Karina Afandi, hingga Ade Kurniawan yang mengisi suara karakter Foufo.
Ceritanya mengikuti Muslim (Tretan Muslim) pengepul besi bekas di Kampung Rombeng, Madura. Kehidupannya jauh dari kata mapan. Dia masih berjuang melunasi biaya keberangkatan haji sang ibu, Saiqonah (Siti Kamariyah), tatkala ada UFO jatuh dan mempertemukannya dengan alien kecil bernama Foufo.
Bukannya menjadikan alien itu sebagai ancaman, Muslim malah menolongnya pulang ke kapal induk. Dari situlah lahir sederet kekacauan, komedi, sekaligus dilema emosional ketika impian keluarganya bertabrakan dengan nasib makhluk asing yang kini bergantung kepadanya.
Lumayan menarik, lho, kisah yang ditawarkan.
Semenarik apa Sci-fi yang Sepenuhnya Berakar pada Lokalitas?
Selama bertahun-tahun, persepsi penonton dibentuk oleh Hollywood untuk percaya fiksi ilmiah harus identik dengan gedung pencakar langit, laboratorium super canggih, robot, kecerdasan buatan, atau perang antar galaksi. Seolah-olah masa depan hanya bisa lahir dari kota metropolitan dengan teknologi mutakhir.
Inilah keputusan paling penting yang diambil Film Foufo. Alih-alih memindahkan cerita Indonesia ke dunia sci-fi, Bayu membawa sci-fi masuk ke dalam kehidupan masyarakat Madura.
Keputusan ini mungkin terdengar sepele, tapi dampaknya besar. Ketika budaya lokal menjadi pusat cerita, genre nggak lagi terasa asing. Alien memang datang dari luar bumi, tapi dunia yang ditemuinya Indonesia banget deh.
Bahasa Madura mendominasi dialog, kendati ada bahasa jawa timuran dan bahasa Indonesia. Tradisi keluarga hadir secara natural. Persoalan ekonomi menjadi konflik utama. Bahkan pekerjaan tokoh utamanya sebagai pengepul rongsok sangat membumi. Semua elemen itu membuat Film Foufo memiliki ciri khas yang sulit ditemukan pada film genre lain di Indonesia.
Menurutku, inilah arah yang seharusnya mulai lebih sering diambil perfilman Indonesia. Selama ini, ketika berbicara soal genre sci-fi, kita sering terjebak pada pertanyaan, “Apakah efek visualnya sudah setara Hollywood?" Padahal pertanyaan yang lebih penting, "Apakah film ini punya ciri khas atau minimal identitasnya?"
Teknologi suatu hari akan berkembang. CGI akan semakin murah. Kamera akan semakin canggih. Namun, identitas budaya nggak bisa dibeli dengan anggaran produksi sebesar apa pun.
Film Foufo memahami hal itu. Film ini memang nggak menawarkan efek visual semegah film-film Hollywood. Namun, kekurangan tersebut tertutupi oleh sesuatu yang jauh lebih sulit diciptakan, yakni rasa memiliki terhadap dunia yang dibangun.
Penonton (aku) percaya, tiap karakter yang terlibat benar-benar hidup di Madura. Bahkan alien bernama Foufo ibaratnya jadi bagian dari lingkungan tersebut, bukan sebatas karakter tempelan demi membuat film terlihat unik.
Yang juga patut diapresiasi adalah keberanian Bayu Skak memilih pendekatan praktikal untuk menghadirkan karakter Foufo. Alih-alih sepenuhnya mengandalkan CGI, tim produksi menggabungkan kostum fisik dengan penyempurnaan digital agar interaksi karakter terasa lebih nyata. Pendekatan ini menunjukkan, keterbatasan anggaran nggak selalu menghambat kreativitas jika diimbangi dengan solusi yang cerdas.
Meski begitu, bukan berarti pendekatan seperti ini tanpa risiko. Menggabungkan budaya lokal dengan genre sci-fi membutuhkan keseimbangan yang sangat tipis. Sedikit saja terlalu menonjolkan unsur komedi, sci-fi bisa kehilangan bobotnya. Sebaliknya, jika terlalu fokus pada alien, identitas lokal bisa tenggelam.
Untungnya, Film Foufo cukup berhasil menjaga keseimbangan tersebut. Alien hanyalah pintu masuk. Yang menjadi pusat cerita tetap keluarga, pengorbanan, dan kehidupan masyarakat Madura.
Aku berharap keberhasilan langkah Bayu Skak ini dapat menjadi pemantik bagi sineas lain. Indonesia memiliki banyak budaya, bahasa daerah, dan cerita rakyat yang belum banyak dieksplorasi dalam genre fiksi ilmiah. Bayangkan jika suatu hari kita melihat sci-fi berlatar Toraja, Minangkabau, Papua, atau Kalimantan tanpa kehilangan akar budayanya.
Bukankah itu jauh lebih menarik ketimbang terus mencoba menjadi ‘versi Indonesia’ dari film Hollywood?
Film Foufo membuktikan satu hal yang sangat penting. Masa depan film fiksi ilmiah Indonesia mungkin bukan terletak pada seberapa canggih teknologinya, melainkan pada seberapa berani para pembuat film menjadikan lokalitas sebagai daya pikat utama.
Nah, Sobat Yoursay tertarik nonton Film Foufo? Buruan ke bioskop sebelum turun layar, ya. Selamat menonton.
Baca Juga
-
Pencarian Identitas yang Menyayat Hati: Mengapa Abandoned di Disney+ Lebih dari Sekadar Dokumenter
-
Review Film Moana: Saat Disney Kembali Berlayar dalam Balutan Live-Action
-
Review Color Book: Meramu Duka Menjadi Perjalanan Cinta yang Begitu Tulus
-
Film Shelter Membuktikan Jason Statham Bisa Berhenti Menjadi Mesin Pembunuh
-
Gintama: Yoshiwara in Flames Menebas Cara Kita Memandang Korban Penindasan
Artikel Terkait
-
Batal Tayang di Bioskop, Film Soulm8te akan Rilis dalam Format Digital
-
Ulasan Foufo: Kisah Persahabatan Alien Luar Angkasa dan Pengepul Rongsok
-
Review Film Yadang: The Snitch, Sudut Pandang Baru Agen Rahasia yang Seru!
-
Pencarian Identitas yang Menyayat Hati: Mengapa Abandoned di Disney+ Lebih dari Sekadar Dokumenter
-
The Forbidden Kingdom: Sinergi Jet Li dan Jackie Chan Angkat Budaya China
Ulasan
-
Ulasan The 100-Year-Old Man: Petualangan Seorang Kakek yang Absurd dan Penuh Makna
-
Fenomena Pempek Tumpah di Bawah Jembatan Ampera: Sarapan Mewah Cuma Rp1.000!
-
Perpisahan Tak Menunggu Kita Siap: Pelajaran dari Novel You've Reached Sam
-
Ulasan Foufo: Kisah Persahabatan Alien Luar Angkasa dan Pengepul Rongsok
-
Review Novel Every Day: Ketika Tokoh Utama Berganti Tubuh Setiap Hari
Terkini
-
Piala Dunia 2026: Jangan Biarkan Rivalitas Sepak Bola Merusak Pertemanan
-
6 Smartwatch Terbaik 2026, Ada yang Bisa Jadi Smartphone Mini
-
Kylian Mbappe Tunda Euforia usai Prancis ke Semifinal Piala Dunia 2026
-
Usai Raih Oscar, Youn Yuh Jung Berpeluang Bawa Pulang Penghargaan Emmy 2026
-
Live-Action Naruto Mulai Casting Pemeran Naruto, Sasuke, dan Sakura