Setelah penantian panjang sejak rilis bukunya pada Desember 2025, novel kelanjutan dari semesta action Tere Liye ini akhirnya rilis dan langsung ludes diserbu pembaca.
Antusiasmenya luar biasa, bahkan membuat banyak pembaca rela mengantre berhari-hari bersama anak-anak MTs demi mendapatkan salinan fisiknya. Namun, pengorbanan itu terbayar tuntas. Buku ini diselesaikan hanya dalam satu kali duduk karena ketegangan yang ditawarkan berada di tingkat tertinggi.
Melalui novel ini, Tere Liye tidak sekadar menyajikan fiksi hiburan yang memicu adrenalin. Penulis menggunakan metafora yang sangat berani dan transparan untuk menelanjangi kebuntuan penegakan hukum di Indonesia saat ini.
Membaca lembar demi lembar halamannya akan membuat dada pembaca terasa panas karena kegeraman sosial, namun sekaligus memberikan kepuasan instan yang luar biasa.
Sinopsis
Cerita ini memperkenalkan kita pada sosok Anwar Van Rijn. Secara visual dan kharisma, ia digambarkan bertubuh tinggi besar, tampan, dominan, dan tidak kalah memikat jika dibandingkan dengan Thomas sang petarung atau Bujang si Jagal.
Anwar adalah sosok multitalenta yang berbasis di New York; ia pemilik sebuah kanal podcast dengan jutaan pengikut setia sekaligus bos media jurnalisme investigasi internasional yang memiliki nyali besar.
Keberaniannya teruji lewat rekam jejaknya yang pernah membongkar borok para pemimpin Amerika Serikat hingga menghadapi gembong bajak laut di Somalia.
Anwar muncul di Indonesia sebagai kawan lama dari Julia, wartawan ambisius yang menjadi rekan petualangan Thomas di buku sebelumnya. Namun, di mata Julia, Anwar adalah sosok yang sangat menyebalkan: sombong, gemar memamerkan kekayaan, dan bersikap acuh tak acuh pada penderitaan sekitar.
Plot mulai memanas secara drastis ketika Anwar tiba di Bali, bertepatan dengan kematian mendadak Menteri Bacok. Alih-alih berduka, kematian menteri ini justru disambut dengan sukacita dan pesta pora oleh para netizen di dunia maya.
Sebuah penggambaran satir yang sangat menyengat tentang betapa akutnya kebencian rakyat terhadap pejabat publik tertentu. Rentetan kematian misterius kemudian berlanjut dengan sangat cepat dan terarah.
Mulai dari Kapolri, hingga Hakim Drajat yang tewas mengenaskan tepat di tengah pesta ulang tahun pernikahan mewah Tuan Liem.
Kontras yang dihadirkan begitu mengerikan: di dalam gedung, para pejabat elit merayakan kemewahan, sementara di luar, massa sedang menggelar demonstrasi masif dengan narasi "Revolusi atau Mati", yang atmosfernya sangat mirip dengan gejolak nyata di Indonesia pada Agustus kemarin.
Sebagai jurnalis senior yang memiliki insting tajam, Julia mencium adanya kejanggalan. Semua korban tewas karena serangan jantung mendadak tanpa ada jejak racun ataupun indikasi pembunuhan medis.
Kecurigaan Julia mengarah pada Anwar, karena pria sombong itu selalu berada di radius dekat lokasi kejadian setiap kali kematian terjadi, meskipun ia terlihat tidak melakukan tindakan apa pun. Investigasi mandiri akhirnya memaksa Julia dan rekannya untuk membongkar arsip manual puluhan tahun lalu yang sempat buntu di Kota Kediri.
Benang merah yang sangat kelam akhirnya terkuak di Kediri. Semua korban yang mati secara misterius—Menteri Bacok, Kapolri, Hakim Drajat, hingga Jaksa Pinangka yang berpenampilan glamor nan kaya raya—ternyata adalah orang-orang yang puluhan tahun lalu bertugas mengurusi hukum di Kediri.
Di masa lalu, mereka semua bersekongkol menutupi kejahatan besar dari satu-satunya pihak yang mampu membayar mereka: keluarga konglomerat raksasa, Tuan Liem.
Tuan Liem ternyata adalah seorang predator anak-anak yang sangat keji di Kediri, dan salah satu korbannya adalah kakak kandung Anwar yang bernasib tragis hingga tewas. Keluarga Liem sempat menyewa Hotma Cornelius, pengacara top yang lihai memenangkan para koruptor dan penjahat, untuk memastikan dirinya tak tersentuh hukum. Namun, pengacara tersebut pun akhirnya tewas mengenaskan secara misterius.
Julia terlambat melangkah. Tepat pada hari pengesahan relief 100 tahun kedatangan keluarga Liem di Jawa, Tuan Liem ditemukan tewas tergantung secara mengerikan.
Di akhir kisah, identitas Anwar terbuka sepenuhnya sebagai "Sang Eksekutor". Ia adalah bayi yang dulu diadopsi oleh keluarga The House of the Rijn di Swiss, yang merupakan bagian gurita dari Shadow Economy.
Berbekal mandat dan wasiat dari mendiang ibunya yang bernama Nur, Anwar bergerak melakukan pembersihan. Tanpa rasa takut sedikit pun di tengah situasi negara yang sedang karam akibat demo revolusi, Anwar bahkan berhasil menemui Presiden Indonesia untuk menyampaikan pesan terakhir sang ibu lewat ancaman "pistol teracun".
Di sisi lain, gejolak politik mencapai puncaknya ketika bom yang disiapkan oleh Teuku Umar gagal meledak, membuat tokoh tersebut hilang tanpa jejak sampai sekarang, meninggalkan akhir cerita yang menggantung khas realitas hukum di Indonesia yang sering kali mengecewakan.
Kelebihan
Kekuatan utama dari novel ini adalah keberanian Tere Liye dalam melakukan kritik sosial yang sangat frontal. Karakter-karakter yang dihadirkan terasa sangat familiar bagi pembaca Indonesia; sosok Menteri Bacok, Jaksa Pinangka yang glamor, hingga pengacara Hotma Cornelius seolah menjadi cerminan langsung dari tokoh-tokoh nyata yang sering mondar-mandir di berita hukum kita.
Kehadiran tokoh-tokoh ini membuat kejengkelan pembaca terasa nyata, sehingga ketika Anwar mengeksekusi mereka satu per satu, muncul kepuasan tersendiri yang sangat melegakan.
Dari segi teknis, Tere Liye sangat genius dalam memberikan petunjuk atau spill informasi secara bertahap. Meskipun pembaca mungkin sudah bisa menebak bahwa Anwar adalah pelakunya, penulis tetap mampu menciptakan efek ledakan kejutan yang luar biasa di bagian akhir cerita dengan penjelasan medis dan logis yang sangat masuk akal tentang bagaimana pembunuhan tanpa jejak itu dilakukan.
Sebagai penutup yang manis, bab bonus yang memperlihatkan Anwar bergabung dengan rombongan Bujang, Thomas, dan Nona Ayako di Paris menjadi jaminan mutlak bahwa semesta Shadow Economy ini akan semakin luas dan seru di masa depan.
Kekurangan
Meskipun novel ini sangat memuaskan dari segi aksi dan pembalasan dendam, bagian akhir cerita atau ending utama dari petualangan Julia terasa cukup menggantung dan meninggalkan rasa sesak.
Kegagalan bom Teuku Umar dslam nove Teruslah Bodoh Jangan Pintar dan hilangnya karakter tersebut tanpa kejelasan bisa membuat sebagian pembaca merasa antiklimaks.
Namun, jika direfleksikan kembali, ending yang menggantung dan mengecewakan ini tampaknya sengaja dipilih oleh penulis sebagai bentuk satir tingkat tinggi untuk menggambarkan bagaimana akhir dari sebagian besar penegakan hukum yang berlaku di dunia nyata Indonesia: kerap kali buntu, menguap, dan mengecewakan masyarakat.
Identitas Buku
Judul: Sang Eksekutor (Teruslah Bodoh, Jangan Pintar)
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Penerbit Sabak Grip
Tanggal Terbit: 18 Februari 2026
Tebal Halaman: 368 Halaman
ISBN: 9786347046062
Bahasa: Indonesia
Baca Juga
-
Ironi Hukum: Menuju Indonesia Emas, Ternyata Emasnya Ada di Rumah Febrie!
-
Bia dan Kapak Batu: Potret Gagap Modernitas di Balik Adat Pedalaman Papua
-
The Cat Who Saved Books: Sindiran Menohok untuk Tren Literasi Masa Kini
-
Di Balik Bullying Mahasiswi Populer: Teror Bangkawarah yang Menjemput Nyawa
-
Keluarga Pejabat Mau Berkarier: Antara Hak Individu atau Praktik Nepotisme?
Artikel Terkait
Ulasan
-
The Diary of a Young Girl: Catatan Anne Frank yang Menjadi Saksi Kelam Holocaust
-
Ulasan Novel Romeo dan Juliet: Cinta Terlarang yang Berakhir Menjadi Tragedi
-
Ulasan Pemikat Jiwa: Kisah Tragis Jagal Ayam yang Terjebak di Ruang Gaib!
-
Review Sayap-Sayap Patah: Kisah Cinta yang Dihancurkan Tradisi dan Kekuasaan
-
Review Serial The Loyalty Game: Misteri Manipulasi Pernikahan yang Rumit
Terkini
-
Jaehyun NCT Rangkul Ketidaksempurnaan Cinta di Lagu Terbaru, 99 Degrees
-
Kekayaan Alam Diekspor, Tagihannya Dipulangkan kepada Rakyat
-
Argentina vs Swiss: Adu Kecerdasan Taktik Demi Semifinal Piala Dunia 2026
-
5 Tips Merawat Rambut agar Tetap Sehat dan Tidak Mudah Rusak
-
Spanyol Lolos ke Semifinal Piala Dunia 2026: Buktikan Tim Kelas Juara dan Siap Lawan Prancis