Begitu membuka halaman pertama, pandangan saya tertuju pada satu kalimat yang menggambarkan keseluruhan isi novel ini: sebuah novel tentang masyarakat pedalaman Papua yang bertahan agar tetap menjadi tuan di tanah sendiri. Novel berjudul Bia dan Kapak Batu karya Tan Andari ini banyak mengingatkan saya pada film Pesta Babi yang saya tonton bulan lalu. Ini adalah novel pertama tentang Papua yang saya baca; sangat langka menemukan novel yang memotret kehidupan Papua secara utuh.
Sinopsis
Perjalanan hidup Pascalina, sang tokoh utama, tergambar dengan jelas dalam prolognya—mulai dari kepolosan masa kecil dan kekaguman pada pendatang, hingga titik di mana ia mulai mempertanyakan arti segalanya. Pascalina memiliki pemikiran yang maju. Meski hidup di pedalaman, ia ingin mengubah nasibnya; ia ingin memiliki kios sendiri, menggunakan handphone, dan hidup normal seperti para pendatang.
Ada dua keinginan yang bergejolak dalam diri remaja ini: pertama, menjadi wanita yang cantik secara adat, pandai menganyam, piawai memangkur sagu, serta mampu memberikan motivasi dan berbicara di depan banyak orang seperti ibunya yang menjadi tour guide. Kedua, ia ingin menjadi seperti ibu guru yang memiliki penghasilan sendiri, hidup bersih, dan mandiri. Penghambat utamanya adalah orang tua yang kurang open-minded, terlalu terpaku pada aturan leluhur yang kuno, serta keterbatasan ekonomi.
Masa kecil Pascalina dihabiskan dengan bersekolah dan membantu mamanya mencari makan atau bermain dengan kawan-kawannya. Mamanya sering marah jika Pascalina terlalu dekat dengan pendatang. Kakak kandungnya, Aloysa, meninggal dunia karena penyakit kelamin yang ditularkan suaminya setelah berhubungan dengan seorang pelacur asal Jawa. Masalah serupa juga menghantui keluarga lain, seperti keluarga Kosmas; sang ayah selalu menghabiskan uang bantuan pemerintah untuk berjudi dan berujung memukuli istrinya yang bekerja seharian. Pernikahan yang berakhir tragis seperti itulah yang membuat Pascalina bertekad untuk tidak menikah muda.
Cinta remaja pun mulai berkembang dengan polosnya. Bagian saat Pascalina kaget saat mengalami menstruasi pertama dan saat ibu guru mengajarkan kebersihan sangat membekas. Bersama temannya, Mawar, ia tahu aktivitas orang dewasa yang dengan polosnya mereka sebut "baku tindih". Bahkan, mamanya pun melakukan hal serupa dengan ayah temannya. Lingkungan sekitar sangatlah kotor; mamanya dan bayi-bayinya jarang mandi, kain yang dimiliki hanya ada empat dan dibersihkan hanya dengan dicelup ke sungai. Dengan pola hidup seperti itu, jika ada bayi sakit yang meninggal, para orang tua hanya berpikir itu adalah kehendak leluhur.
Setelah lulus SMA, ia pergi ke distrik utama meski ditentang mamanya yang selalu ingin menjodohkannya dengan Urbanus, anak kepala suku yang menjadi pemuda idaman para ibu. Namun, Pascalina tidak ingin hidupnya terus seperti itu. Di pusat distrik, ia melihat ketimpangan yang nyata: orang asli berjualan kecil di pinggir jalan, sementara semua kios besar milik pendatang. Ia pun sulit mencari kerja di tanahnya sendiri, sampai akhirnya bekerja sebagai tukang cuci kain linen di rumah sakit. Di sana, ia bertemu banyak orang, termasuk Suster Li, dan belajar banyak hal baru.
Sekali waktu, ia pulang saat wabah campak menyerbu Papua. Banyak anak kecil meninggal dunia. Antar desa saling menyalahkan dan menganggap itu kutukan leluhur, padahal semua itu berawal dari pola hidup kotor. Saat kampungnya yang dekat dengan kali akan dibangun dermaga besar, warga terpecah menjadi dua kubu. Teman masa kecilnya yang sudah menjadi anggota dewan, yang diharapkan bisa membantu, justru meminta warga menjual tanah mereka.
Perlawanan mereka memang berhasil, namun pola pikir mayoritas orang desa tetap sulit berubah. Mereka merasa tidak butuh dermaga, yang mereka butuhkan hanyalah pendatang. Mereka merasa tidak butuh kios karena makanan bisa dicari di hutan, namun mereka sendiri terus mengeluhkan kesusahan mencari makan dan harga bahan pokok yang mahal. Di sisi lain, mereka menolak fasilitas kemajuan seperti dermaga yang bisa membawa listrik. Sangat sulit memahami dinamika masyarakat di sana.
Lina memang menyesal sedikit karena tidak jadi menikah dengan Urbanus dan tidak menjadi pemajang "Bia dan Kapak Batu". Namun, akhirnya Urbanus justru menjadi pelindung desa. Keterbatasan tetap tidak mampu didobrak sepenuhnya; Lina tidak bisa menjadi orang kuliahan dengan gelar sarjana, namun prinsipnya tetap teguh: ia akan tinggal di distrik bersama para pendatang, bekerja sebagai pegawai rumah sakit, namun tetap mengingat kampung halamannya.
Alur novel ini tersusun dengan sangat rapi, di mana setiap bab dilengkapi dengan quotes yang merangkum isi cerita melalui penggalan paragraf yang tepat. Membaca novel ini membuat perasaan saya campur aduk sekaligus menyisakan tanda tanya besar terkait benturan antara modernitas dan kearifan lokal. Saya sering dibuat bingung oleh dinamika masyarakat di sana; mereka mendambakan kenyamanan yang dimiliki pendatang, namun di saat yang sama, mereka cenderung menutup diri terhadap akses pembangunan yang sebenarnya dapat memutus rantai kemiskinan dan ketidaktahuan.
Muncul pertanyaan reflektif: apakah mungkin menjaga kelestarian hutan serta adat leluhur tanpa harus terjebak dalam pola hidup berburu dan meramu selamanya, sementara kebutuhan akan fasilitas pendidikan dan kesehatan kian mendesak? Novel ini memang tidak menawarkan jawaban yang mudah, tetapi ia berhasil memotret dilema pelik masyarakat pedalaman Papua sebuah pilihan sulit antara bertahan menjadi 'tuan' di tanah sendiri dengan segala keterbatasannya, atau merangkul kemajuan namun harus bersiap kehilangan jati diri yang telah dijaga selama turun-temurun.
Identitas Buku
Judul: Bia dan Kapak Batu
Penulis: Tan Andari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2025
ISBN: 9786020685373
Baca Juga
-
The Cat Who Saved Books: Sindiran Menohok untuk Tren Literasi Masa Kini
-
Di Balik Bullying Mahasiswi Populer: Teror Bangkawarah yang Menjemput Nyawa
-
Keluarga Pejabat Mau Berkarier: Antara Hak Individu atau Praktik Nepotisme?
-
Biaya Hajatan Membengkak? Bukan Salah Tamu, tapi Kebocoran di Dapur Rewang
-
Debur Timba dan Rahasia yang Menikam Jiwa
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Afire: Masterpiece Christian Petzold yang Penuh Subteks dan Emosi
-
Misteri Kamar 402: Ekspedisi Horor Tim Live Streaming di Rumah Sakit Korea
-
Bahaya Oligarki dan Kekuasaan Tanpa Batas di Novel 1984 karya George Orwell
-
Ulasan Let Go: Kisah Persahabatan Remaja yang Tetap Hangat Meski Dibaca Ulang
-
Ulasan To the Moon: Mimpi Naik Kelas di Tengah Kerasnya Dunia Kerja
Terkini
-
Beredar Rumor Samsung Akhiri Lini Galaxy Z Flip, Flip8 Jadi yang Terakhir?
-
Tak Punya Gelar Piala Dunia, Apakah Cristiano Ronaldo Sah Disebut Legenda Terbesar Portugal?
-
Film Okay! Madam 2 Tayang 12 Agustus, Kapal Pesiar Jadi Medan Aksi Baru
-
Bukan Malas, Ini Alasan Logis Mengapa Generasi Sekarang Sulit Punya Rumah di Usia 25
-
Manga Populer Darwin's Game Resmi Jadi Film Live Action, Tayang Maret 2027