Lintang Siltya Utami | Tarassa Q.
As Long as the Lemon Trees Grow (Mizan)
Tarassa Q.

Sebelum membaca As Long as the Lemon Trees Grow karya Zoulfa Katouh, saya mengira novel ini hanya akan menjadi kisah romansa berlatar perang. Namun, setelah menutup halaman terakhir, saya menyadari bahwa buku ini jauh lebih dalam daripada sekadar cerita cinta. Novel ini menyajikan potret tentang kehilangan, trauma, harapan, dan kemanusiaan yang dibalut dengan sangat emosional. Bahkan, saya sempat berhenti membaca beberapa kali karena ceritanya terasa begitu menghantam perasaan.

Latar cerita berada di Homs, Suriah, ketika perang saudara menghancurkan kehidupan jutaan orang. Tokoh utamanya adalah Salama Kassab, gadis berusia delapan belas tahun yang semestinya menjalani kehidupan sebagai mahasiswi farmasi. Akan tetapi, situasi perang memaksanya mengambil peran sebagai tenaga medis di sebuah rumah sakit darurat yang setiap hari dipenuhi korban luka dan kematian. Setelah kehilangan kedua orang tua serta saudara iparnya, satu-satunya keluarga yang masih ia miliki hanyalah kakaknya, Layla, yang sedang mengandung.

Hari-hari Salama dipenuhi pemandangan yang tidak seharusnya dialami seorang remaja. Ia harus menyaksikan orang-orang meregang nyawa, mendengar tangisan keluarga korban, sekaligus menghadapi rasa bersalah karena tidak mampu menyelamatkan semua pasien. Tekanan tersebut melahirkan sosok metaforis bernama Khawf, personifikasi rasa takut yang terus membisikkan agar ia meninggalkan Suriah bersama Layla melalui jalur pengungsian. Namun, di sisi lain, Salama merasa mengkhianati tanah kelahirannya apabila memilih pergi.

Konflik batin itu menjadi salah satu kekuatan terbesar novel ini. Zoulfa Katouh berhasil menggambarkan bagaimana perang bukan hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga merusak kesehatan mental para penyintasnya. Pembaca diajak memahami bahwa trauma tidak selalu tampak secara fisik. Kadang, luka terdalam justru hidup di dalam pikiran seseorang.

Harapan mulai hadir ketika Salama bertemu Kenan, seorang pemuda yang gemar merekam kehancuran Suriah menggunakan kameranya. Alih-alih mengangkat senjata, Kenan memilih melawan dengan menyebarkan dokumentasi kepada dunia agar tragedi yang terjadi tidak diabaikan. Dari pertemuan itu tumbuh hubungan yang hangat dan perlahan menghidupkan kembali semangat Salama. Kehadiran Kenan memperlihatkan bahwa mencintai tanah air dapat dilakukan melalui berbagai cara, bukan hanya dengan tetap bertahan di garis depan.

Bagian yang paling membekas bagi saya adalah plot twist di pertengahan cerita. Saat kebenaran mengenai keluarga Salama akhirnya terungkap, saya benar-benar terkejut. Selama ini saya mengira beberapa tokoh yang hadir dalam kehidupan Salama masih hidup, tetapi kenyataannya mereka telah meninggal akibat serangan perang. Sosok Khawf dan percakapan dengan orang-orang terdekat ternyata merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri yang muncul akibat trauma berat yang ia alami. Di bagian inilah saya sempat menangis karena penyajiannya begitu menyayat hati sekaligus masuk akal secara psikologis.

Menjelang akhir cerita, Salama akhirnya menerima kenyataan pahit yang selama ini berusaha ia sangkal. Ia belajar berdamai dengan traumanya dan tidak lagi membiarkan rasa takut mengendalikan setiap keputusan. Bersama Kenan, ia memilih tetap berada di Suriah. Salama meneruskan perjuangannya dengan merawat korban yang membutuhkan pertolongan, sedangkan Kenan terus menggunakan kameranya sebagai alat untuk menyuarakan kebenaran kepada dunia.

Bagi saya, As Long as the Lemon Trees Grow bukan hanya novel tentang perang, tetapi juga tentang keberanian untuk tetap memiliki harapan ketika segalanya terasa runtuh. Simbol pohon lemon yang terus tumbuh menjadi pengingat bahwa kehidupan selalu menyimpan kemungkinan baru, bahkan di tengah kehancuran sekalipun. Kisah Kenan juga menunjukkan bahwa tindakan sederhana, seperti mendokumentasikan fakta atau menyebarkan informasi melalui media sosial, dapat memberikan dampak besar bagi kesadaran masyarakat.

Setelah selesai membaca novel ini, saya tidak hanya merasa terharu, tetapi juga lebih menghargai arti kebebasan, pentingnya empati terhadap korban konflik kemanusiaan, serta besarnya pengorbanan yang harus dihadapi seseorang ketika dihadapkan pada pilihan antara mempertahankan tanah air atau menyelamatkan hidupnya. Novel ini adalah bacaan yang sulit dilupakan dan layak dinikmati oleh siapa pun yang ingin memahami sisi paling manusiawi dari sebuah perang.

Identitas Buku

Judul: As Long as the Lemon Trees Grow
Penulis: Zoulfa Katouh
Penerbit: Mizan Pustaka
Tahun Terbit: Mei 2023
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786024413903