M. Reza Sulaiman | Athar Farha
Poster The WONDERfools (Netflix)
Athar Farha

Punya kekuatan super ibarat jawaban atas semua masalah hidup. Siapa yang nggak pernah membayangkan bisa menyembuhkan penyakit, menghentikan waktu, atau mengubah nasib hanya dengan kemampuan luar biasa? Dunia film dan series pun sudah lama menjual fantasi itu. Begitu seseorang memperoleh kekuatan, hidupnya perlahan berubah menjadi lebih baik dan menemukan tujuan baru sebagai pahlawan.

Namun, Series The WONDERfools agaknya mengambil jalur cerita yang cukup unik, lho. Series original Netflix asal Korea Selatan yang tayang pada 15 Mei 2026 ini disutradarai Yoo In-shik, dengan naskah gubahan Heo Da-joong berdasarkan konsep yang dikembangkan Kang Eun-kyung. Proyek ini diproduksi NANGMANCREW dan Kakao Entertainment, dengan FANTAGIO sebagai co-producer. Deretan pemainnya juga kece-kece, mulai dari Park Eun-bin, Cha Eun-woo, Choi Dae-hoon, Im Seong-jae, hingga aktris senior Kim Hae-sook.

Alih-alih menjadikan kekuatan super sebagai pusat cerita, series delapan episode ini menggunakan elemen fantasi tersebut untuk membicarakan sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Apa itu? Yup, luka manusia yang nggak bisa diselesaikan hanya dengan keajaiban.

Ceritanya membawa penonton ke Haeseong pada akhir tahun 1999, ketika dunia dilanda kepanikan menjelang masuknya tahun 2000 akibat isu Y2K. Di tengah berbagai spekulasi tentang kekacauan global, banyak orang hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian

Di tengah suasana itu, Eun Chae-ni (Park Eun-bin) menerima kenyataan pahit. Dia mengidap gagal jantung kongestif dan dokter menyatakan hidupnya mungkin tinggal menghitung waktu. Vonis tersebut menghancurkan semangatnya. Chae-ni memilih menikmati sisa hidup dengan melakukan perjalanan, seolah-olah nggak lagi memiliki alasan untuk memikirkan masa depan.

Di kota yang sama, Lee Un-jeong (Cha Eun-woo), pegawai pemerintahan yang baru dipindahkan dari Seoul, berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Dia kerap menerima laporan-laporan aneh dari warga, termasuk tuduhan Son Kyung-hoon (Choi Dae-hoon) tentang adanya limbah beracun di tempat pembuangan sampah. Bersama Kang Ro-bin (Im Seong-jae), mereka kemudian terlibat dalam insiden yang membuat tubuh mereka bersentuhan dengan cairan misterius.

Peristiwa itu mengubah hidup mereka. Masing-masing memperoleh kemampuan super yang berbeda. Namun, alih-alih langsung menjadi penyelamat kota, mereka kebingungan memahami kekuatan baru tersebut sambil berusaha menghadapi ancaman yang perlahan mulai muncul. 

Menarik banget, ya, kisahnya, Sobat Yoursay?

Kekuatan Super yang Nggak Mampu Menghapus Semua Persoalan Hidup

Scene dalam The WONDERfools (Netflix)

Begitulah. Chae-ni mungkin memperoleh kesempatan baru setelah insiden tersebut, tapi rasa takut atas kematian nggak langsung menghilang. Penyakit yang selama ini membentuk cara pandangnya terhadap hidup meninggalkan luka psikologis yang jauh lebih dalam ketimbang kondisi fisiknya. Dia tetap harus belajar menerima dirinya sendiri, menerima kemungkinan kehilangan, sekaligus menemukan alasan untuk kembali berharap.

Hal yang sama juga berlaku pada karakter lain. Mereka membawa kegagalan, rasa frustrasi, dan persoalan masing-masing. Setelah memiliki kemampuan luar biasa, masalah-masalah itu tetap ada. Mereka hanya memperoleh kemampuan super, bukan kehidupan baru.

Inilah kritik halus yang terasa relevan dengan kehidupan sekarang. Banyak orang sering berharap hidup berubah karena satu momen besar. Ada yang menunggu promosi jabatan, berharap kaya mendadak, memenangkan undian, viral di media sosial, atau menemukan keajaiban lain yang diyakini bisa menghapus seluruh beban hidup.

Padahal, kenyataannya jarang sesimpel itu. Seseorang yang tiba-tiba kaya belum tentu terbebas dari rasa kesepian. Orang yang terkenal pun masih bisa mengalami kecemasan. Mereka yang berhasil meraih pekerjaan impian tetap harus menghadapi tekanan baru. Perubahan keadaan memang bisa membantu, tapi nggak otomatis menyembuhkan luka yang sudah lama bersarang dalam diri.

Series The WONDERfools seolah-olah nyuruh ‘kita’ ngaca, manusia sering salah menempatkan harapan. Kita menganggap solusi selalu datang dari luar, padahal persoalan terbesar seringkali berasal dari dalam diri sendiri. Karena itu, series ini berbeda dibanding banyak kisah superhero

Film-film superhero biasanya fokus pada ancaman besar, pertarungan spektakuler, atau musuh yang ingin menghancurkan dunia. Series The WONDERfools memang memuat unsur aksi dan misteri, tapi konflik yang paling menarik berasal dari pergulatan para karakternya. 

Ibaratnya, aku nggak hanya diajak bertanya bagaimana mereka (para karakter) menggunakan kekuatan, tapi juga bagaimana mereka menghadapi ketakutan, rasa bersalah, dan harapan yang sempat hilang. Oleh sebab itu, setiap kemampuan super terasa memiliki makna emosional, nggak sebatas efek visual yang memanjakan mata.

Park Eun-bin menjadi sosok yang paling berhasil membawa gagasan tersebut. Dia mampu menampilkan Chae-ni sebagai perempuan yang rapuh tanpa membuatnya kehilangan semangat hidup. Perubahan emosinya alami sehingga aku bisa memahami perjuangan terbesar dirinya bukanlah melawan musuh, melainkan melawan rasa takut dalam dirinya sendiri.

Komedi yang disisipkan sepanjang cerita juga membantu menjaga intensitas. Kelucuan muncul dari interaksi para karakter yang sama-sama kikuk menghadapi kekuatan baru. Humornya nggak menghilangkan bobot cerita, malah membuat perjalanan mereka lebih manusiawi.

Inti dari semuanya, Series The WONDERfools nggak lagi bercerita tentang bagaimana manusia menjadi pahlawan super. Malah lagi mempertanyakan mengapa kita begitu yakin kekuatan luar biasa mampu menyelesaikan seluruh persoalan hidup. Kemampuan boleh saja mengubah apa yang bisa dilakukan seseorang, tapi nggak otomatis mengubah siapa dirinya. Luka, trauma, ketakutan, dan harapan tetap membutuhkan keberanian untuk dihadapi, bukan sekadar keajaiban.

Sobat Yoursay sepakat denganku, atau punya kesan-kesan lainnya? Share, yuk!