Lintang Siltya Utami | Athar Farha
Poster Film Lastri: Arwah Kembang Desa (Instagram/abelle_pictures)
Athar Farha

Film horor Indonesia beberapa tahun terakhir semakin berani mengangkat persoalan sosial sebagai akar lahirnya teror. Film Lastri: Arwah Kembang Desa yang rilis di bioskop sejak 16 Juli 2026 termasuk salah satunya.

Diproduksi Abelle Pictures dan disutradarai Hendry Tivo dengan naskah karya Puji Lestari, film ini dibintangi Hana Saraswati sebagai Lastri, Gary Iskak (almarhum)—dalam salah satu penampilan layar lebar terakhirnya—serta Audy Bella dan sejumlah pemain lainnya.

Alih-alih hanya menawarkan sosok hantu yang mengejar korban dari balik gelapnya desa, film ini mencoba ngajak penonton melihat bagaimana luka yang diciptakan manusia dapat melahirkan dendam yang bahkan nggak selesai setelah kematian. Sentuhan horor klasiknya begitu kuat melalui atmosfer pedesaan, pencahayaan yang temaram, hingga kemunculan arwah yang lebih mengandalkan suasana dibanding rentetan jumpscare, lho. 

Ceritanya tentu saja mengenai Lastri, si kembang desa dengan kehidupan rumah tangga yang semula tampak bahagia. Namun, kebahagiaan itu perlahan runtuh ketika dirinya tak kunjung memiliki anak. Lastri kemudian menjadi sasaran tuduhan mandul, sementara suaminya, Turenggo (Renggo) mulai berpaling pada perempuan lain bernama Atmi. 

Fitnah, pengkhianatan, dan perlakuan yang tak adil membuat hidup Lastri berubah menjadi tragedi. Setelah kematiannya, arwah Lastri dipercaya terus bergentayangan dan menjadi bagian dari mitos yang menyelimuti desa, bahkan dikaitkan dengan praktik pesugihan. 

Di tengah teror tersebut, berbagai rahasia masa lalu perlahan terungkap dan membuka tabir tentang siapa yang sebenarnya paling bertanggung jawab atas kehancuran hidup Lastri.

Mengapa dalam Masalah Pasutri, Perempuan Jadi Pihak Pertama Dipersalahkan?

Scene dalam Film Lastri: Arwah Kembang Desa (Instagram/ abelle_pictures)

Tuduhan mandul jadi contoh paling jelas. Ketika ‘pasangan’ belum memiliki keturunan, masyarakat seringkali lebih cepat menunjuk perempuan sebagai penyebabnya. Padahal secara medis, persoalan kesuburan bisa berasal dari kedua belah pihak. Sayangnya, kebiasaan menyalahkan perempuan masih begitu mengakar hingga seolah-olah menjadi sesuatu yang lumrah.

Film ini tampak menarik problem dan persoalan tersebut. Lastri tak cuma kehilangan kebahagiaan rumah tangganya, tapi juga kehilangan martabatnya karena stigma yang dilekatkan kepadanya. Dia dihakimi bukan berdasarkan siapa dirinya, melainkan berdasarkan ekspektasi masyarakat tentang bagaimana istri ‘seharusnya’. 

Yang membuat persoalan itu lebih menyakitkan, terkait tekanan yang datang dari satu orang. Yup, lingkungan sekitar ikut menjadi hakim. Gosip, prasangka, dan fitnah perlahan membentuk vonis sosial yang sulit dipatahkan. Dalam situasi seperti itu, perempuan bukan hanya menghadapi konflik dengan pasangannya, tapi juga dengan masyarakat yang merasa berhak mengatur hidupnya.

Di sinilah film Lastri: Arwah Kembang Desa lebih dari sekadar film horor. Arwah Lastri boleh saja menjadi sosok yang menebar ketakutan, tapi akar dari semua teror itu berasal dari manusia. Dendam lahir karena ketidakadilan. Hantu muncul karena ada luka yang dibiarkan membusuk.

Sayangnya, film ini juga memasukkan begitu banyak persoalan sekaligus, mulai dari fitnah, perselingkuhan, relasi kuasa, kekerasan, rahasia keluarga, hingga balas dendam. Semua itu memang menarik karena membuat cerita penuh kejutan. Namun, terlalu banyak konflik juga berisiko membuat fokus narasi terpecah sehingga isu utama yang sebenarnya sangat relevan jadi kurang mendapat ruang digali lebih dalam.

Padahal tema mengenai perempuan yang selalu dijadikan kambing hitam sudah cukup kuat untuk menopang keseluruhan cerita. Isu ini bukan hanya dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia, tapi juga masih sering terjadi hingga sekarang. Banyak perempuan yang dipaksa memikul beban atas persoalan rumah tangga, sementara laki-laki atau sistem sosial yang melanggengkan ketidakadilan luput dari sorotan.

Meski demikian, aku tetap mengapresiasi keberanian film ini mengangkat tema tersebut dalam balutan horor klasik. Di tengah tren horor yang semakin bergantung pada efek kejut dan visual menyeramkan, film Lastri: Arwah Kembang Desa mencoba ngasih tahu kalau monster paling mengerikan seringkali bukan makhluk gaib. Monster itu bisa berupa stigma, fitnah, pengkhianatan, dan kebiasaan orang-orang yang terus menyalahkan korban.

Yang jelas, film Lastri: Arwah Kembang Desa bukan hanya mengisahkan arwah yang bangkit untuk menuntut balas. Film ini juga membuka ruang diskusi mengenai cara masyarakat memperlakukan perempuan ketika ada rumah tangga mengalami masalah. Selama perempuan masih menjadi sasaran tuduhan pertama setiap kali terjadi kegagalan, selama itu pula kisah seperti Lastri akan selalu relevan.

Bukankah begitu, Sobat Yoursay?