Hayuning Ratri Hapsari | Athar Farha
Scene Series Human Vapor (Netflix)
Athar Farha

Monster sering digambarkan sosok yang lahir dengan niat jahat. Meneror, membunuh, dan menjadi ancaman bagi siapa pun yang berada di dekatnya. Namun, ‘Human Vapor’, series dari Netflix yang tayang pada 2 Juli 2026 dengan total 8 episode, tampak mengajukan pertanyaan yang jauh lebih rumit. Bagaimana jika monster itu sebenarnya merupakan korban yang diciptakan manusia?

Series ini merupakan hasil kolaborasi Netflix, Toho, dan WOW POINT yang mengadaptasi film klasik Jepang ‘The Human Vapor’ (1960). Naskahnya ditulis Yeon Sang-ho, kreator di balik Film Train to Busan dan Series Parasyte: The Grey, bersama Ryu Yong-jae, sementara penyutradaraannya dipercayakan kepada Shinzo Katayama. Deretan pemainnya nggak main-main, lho: Shun Oguri, Yu Aoi, Suzu Hirose, UTA, Kento Hayashi, dan Yutaka Takenouchi.

Meski berangkat dari film lawas, Series Human Vapor sama sekali nggak terasa seperti tontonan nostalgia. Sebaliknya, series ini mengubah kisah klasik tersebut menjadi thriller fiksi ilmiah yang kelam dibalut ‘body horror’, sekaligus sarat kritik terhadap penyalahgunaan ilmu pengetahuan dan kekuasaan.

Cerita dibuka dengan siaran langsung televisi yang berubah menjadi mimpi buruk. Seorang ilmuwan mendadak kehilangan kendali atas tubuhnya setelah terpapar uap misterius. Tubuhnya membengkak, berubah bentuk, lalu meledak di depan jutaan penonton. Peristiwa mengerikan itu menjadi awal kemunculan sosok yang dijuluki Human Vapor, manusia dengan kemampuan mengubah tubuhnya menjadi gas sehingga dapat menembus ruangan, menghilang, sekaligus membunuh tanpa jejak.

Setiap aksinya selalu mengundang kepanikan. Anehnya, Human Vapor bahkan kerap mengumumkan kejahatannya lebih dulu, seolah-olah sengaja menantang aparat. Di sisi lain, ada detektif bersama reporter berusaha mengungkap siapa sebenarnya sosok di balik kemampuan mustahil tersebut. 

Penyelidikan mereka perlahan membuka tabir mengenai eksperimen rahasia yang melibatkan pemerintah dan pihak-pihak berkepentingan. Dari sanalah terungkap, teror yang terjadi bukan sekadar ulah monster, melainkan konsekuensi dari ambisi manusia sendiri.

Makin Sulit Menilai Human Vapor Sebagai Sosok Jaha

Poster Series Human Vapor (Netflix)

Inilah bagian yang menurutku paling menarik. Banyak cerita fiksi ilmiah menjadikan monster sebagai ancaman yang harus dihentikan. Human Vapor memang memiliki sosok seperti itu, tapi series ini nggak berhenti pada pertanyaan bagaimana cara mengalahkannya.

Semakin jauh cerita berjalan, makin sulit menilai Human Vapor sebagai sosok jahat dalam pengertian yang biasa. Ya, dia membunuh. Ya, tindakannya menimbulkan korban. Namun, series ini terus mengingatkan pada kita, sebelum menjadi ancaman, Human Vapor' terlebih dahulu adalah manusia yang kehilangan hidupnya akibat eksperimen yang nggak pernah dipilihnya. 

Di sinilah Human Vapor mengaburkan batas antara pelaku dan korban. Kita terbiasa menganggap keduanya berada di sisi yang berbeda. Padahal, kehidupan seringkali jauh lebih rumit. Seseorang bisa menjadi korban dari sistem, lalu berubah menjadi pelaku karena trauma, kemarahan, atau keputusasaan. 

Menurutku, series ini nggak lagi membenarkan tindakan Human Vapor. Pembunuhan tetaplah pembunuhan. Korban yang berjatuhan tetap nggak bisa diabaikan. Namun, Series Human Vapor ngajak penonton melihat satu lapisan yang sering terlupakan, yaitu tanggung jawab mereka yang menciptakan kondisi hingga tragedi itu terjadi.

Ironinya jelas, lho. Yang lebih mengerikan adalah orang-orang yang memandang manusia sebagai bahan eksperimen, angka statistik, atau alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Mereka mungkin nggak pernah mengotori tangan secara langsung, tapi keputusan merekalah yang melahirkan bencana.

Hal itu terasa semakin kuat melalui penggunaan ‘body horror’. Tubuh yang membengkak, meledak, atau berubah menjadi uap memang mengundang rasa jijik. Namun, bagiku semua itu bukan sekadar efek visual. Tubuh yang kehilangan bentuk menjadi gambaran seseorang telah kehilangan hak atas dirinya sendiri. Ketika tubuh manusia dapat dimanipulasi sesuka hati, yang hilang bukan hanya wujud fisik, tapi juga martabat dan kemanusiaannya.

Aku juga menyukai bagaimana series ini nggak membiarkan Human Vapor sepenuhnya kehilangan sisi manusianya. Menjelang akhir cerita, hubungan emosional yang dia miliki dengan perempuan yang selama ini dia lindungi memperlihatkan masih ada rasa cinta, penyesalan, dan pengorbanan di balik sosok yang selama ini diburu. 

Sayangnya, Series Human Vapor nggak akan cocok untuk semua orang. Ritmenya cenderung slow-burn dengan porsi investigasi yang cukup besar. Beberapa episode di bagian tengah berjalan lebih lambat karena dijejali banyak dialog dan penyelidikan. Penonton yang mengharapkan aksi tanpa henti mungkin akan merasa kesabarannya diuji.

Meski begitu, menurutku pendekatan tersebut ngasih ruang bagi cerita untuk membangun dilema moral yang menjadi daya pikat utamanya. 

Mungkin itulah alasan mengapa pertanyaan terbesar setelah menamatkan delapan episodenya bukanlah apakah Human Vapor pantas dihukum. Pertanyaan yang justru terus terngiang adalah: jika seseorang dihancurkan oleh sistem hingga kehilangan dirinya sendiri, bisakah kita begitu saja menyebutnya monster, sementara orang-orang yang menciptakan penderitaan itu tetap bebas disebut manusia? Series ini berhasil bikin aku merenung sedalam-dalamnya. 

Bila Sobat Yoursay penasaran bisa langsung cek Netflix, ya. Selamat menonton.