Tahukah kau, sungguh tidak banyak buku bertema ketuhanan yang mampu membuat saya tersenyum, merenung, sekaligus merasa sedang diajak mengobrol santai di sebuah warung kopi.
Inilah kesan pertama yang saya rasakan setelah membaca buku Tuhan Maha Asyik karya Sujiwo Tejo dan Dr. M. N. Kamba. Buku setebal 245 halaman ini tidak menggurui saya, apalagi memaksa menerima satu cara pandang tertentu. Tidak.
Sebaliknya, buku ini mengajak kita menikmati perjalanan mengenal Tuhan melalui kisah-kisah sederhana, dialog anak-anak, dunia pewayangan, dan berbagai analogi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bahkan semenjak halaman pembuka, buku ini sudah terasa berbeda. Saya disambut oleh lirik lagu berbahasa Jawa berjudul Nadian yang ditulis sekaligus dinyanyikan oleh Sujiwo Tejo. Terdapat barcode yang bisa dipindai sehingga pembaca dapat mendengarkan lagu tersebut. Rasanya seperti diajak memasuki suasana batin sebelum benar-benar memulai perjalanan membaca.
Perjalanan itu kemudian dibuka oleh prolog karya Mpu Jaya Prema yang mengisahkan seorang sanyasin atau pendeta. Kisah singkat tersebut mengingatkan bahwa Tuhan tidak dapat dibatasi oleh ruang, bentuk, maupun nama. Ke mana pun kita memandang, di sanalah wajah Tuhan dapat ditemukan. Prolog itu menjadi jembatan yang sangat indah menuju pembahasan-pembahasan berikutnya.
Bab pertama berjudul Wayang (1) menjadi bagian yang paling membekas bagi saya. Melalui percakapan Buchori, Kapitayan, Christine, Parwati, dan teman-temannya, Sujiwo Tejo mengibaratkan kehidupan manusia layaknya sebuah pertunjukan wayang.
Wayang kulit tidak dapat bergerak tanpa dalang. Semua geraknya merupakan kehendak sang dalang. Namun ketika pembahasannya bergeser pada wayang orang, muncul ruang improvisasi. Meski begitu, improvisasi tersebut tetap tidak keluar dari alur cerita yang telah ditentukan.
Yang membuat buku ini semakin menarik ialah hadirnya sekitar 27 bab lain dengan judul-judul sederhana seperti Cacing, Zat, Gincu, Antareja, hingga Bahasa. Judulnya mungkin terdengar biasa, tetapi makna yang disimpan di baliknya luar biasa dalam.
Pada bab Cacing, saya diajak memahami bahwa hanya Tuhan yang benar-benar kekal. Kebiasaan manusia yang tampak permanen ternyata dapat berubah sewaktu-waktu. Membaca bagian ini justru mengingatkan saya pada nasihat salah seorang dosen semasa kuliah, "Terpaksa, dipaksa, terbiasa." Kalimat sederhana itu terasa sejalan dengan pesan bahwa perubahan merupakan bagian dari kehidupan.
Sementara itu, bab Zat mengingatkan saya pada pepatah Arab yang mengatakan bahwa tidak selamanya angin bertiup sesuai harapan para pelaut. Hidup memang tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Namun setiap peristiwa menyimpan hikmah apabila kita mau melihatnya dengan hati yang lebih lapang.
Bab Gincu juga menarik perhatian saya. Melalui kisah yang tampak sederhana, penulis mengingatkan bahwa manusia memang makhluk sosial, tetapi bukan berarti memiliki hak untuk menghakimi orang lain.
Sedangkan dalam bab Antareja, saya belajar bahwa sesuatu yang tampak kotor belum tentu buruk. Kotoran sapi misalnya, justru menjadi pupuk yang bermanfaat. Sebaliknya, sesuatu yang dianggap suci belum tentu benar apabila diperoleh dengan cara yang salah. Saya menyukai cara Sujiwo Tejo membalik sudut pandang pembaca tanpa membuatnya terasa menggurui.
Ada pula bab Bahasa (1) yang menurut saya menjadi salah satu bagian paling filosofis. Percakapan sederhana tentang perasaan dan bahasa berkembang menjadi pembahasan mengenai keterbatasan bahasa manusia dalam memaknai firman Tuhan. Saya akhirnya memahami bahwa bahasa hanyalah alat, sedangkan makna Tuhan jauh lebih luas daripada kata-kata yang dapat kita susun.
"Tuhan mewahyukan teori hukum gravitasi, misalnya kepada Isaac Newton, bukan kepada orang-orang yang hafal firman-firman-Nya. Karena Newton-lah yang paling potensial secara intelektual, memiliki kemampuan teknis untuk menjabarkannya." (Halaman 79).
Petikan ini membuka cara pandang saya bahwa wahyu Tuhan tidak selalu hadir dalam bentuk kitab suci, tetapi juga melalui ilmu pengetahuan yang membawa manfaat bagi umat manusia.
Saya juga sangat menyukai penjelasan mengenai manusia yang hidup di dalam ruangan gelap. Ruangan itu sebenarnya penuh, tetapi belum diterangi cahaya. Ketika wahyu hadir, cahaya itu mulai membuka apa yang sebelumnya tidak terlihat. Analogi sederhana ini membuat pembahasan tentang ketuhanan terasa jauh lebih mudah dipahami.
Menjelang akhir, saya merasa seolah-olah seluruh pembahasan kembali diarahkan kepada satu titik, yakni mengenal diri sendiri. Saya teringat ungkapan yang sering didengar, bahwa siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya. Tanpa pernah mengucapkannya secara langsung, pesan itu berulang kali saya temukan dalam berbagai kisah di buku ini.
Hal lain yang saya sukai adalah adanya ilustrasi karya Sujiwo Tejo di hampir setiap bab. Lukisan-lukisan tersebut memang abstrak, tetapi mampu memperkuat nuansa kontemplatif selama membaca.
Meski demikian, buku ini tetap memiliki beberapa kekurangan. Bahasa yang digunakan sering berupa simbol dan kiasan sehingga memerlukan konsentrasi lebih. Alur yang maju-mundur juga terkadang membuat saya harus mengulang beberapa bagian agar tidak kehilangan benang merahnya.
Selain itu, dialog anak-anak kadang terasa terlalu filosofis untuk ukuran usia mereka. Ilustrasi yang abstrak pun mungkin tidak cocok bagi semua pembaca.
Namun, kekurangan tersebut tidak mengurangi kualitas isi buku. Justru saya merasa buku ini memang sengaja ditulis agar pembaca berhenti sejenak, merenung, lalu menemukan maknanya sendiri.
Bagi saya, Tuhan Maha Asyik bukan sekadar buku tentang agama. Buku ini adalah undangan untuk melihat Tuhan dari sudut pandang yang lebih luas, lebih ramah, dan lebih membumi. Sujiwo Tejo dan Dr. M. N. Kamba berhasil menghadirkan percakapan tentang Tuhan tanpa membuat pembaca merasa digurui. Mereka mengajak kita menikmati setiap peristiwa sebagai bagian dari skenario Sang Dalang, sekaligus menyadari bahwa Tuhan tidak pernah jauh dari kehidupan kita.
Identitas Buku
Judul: Tuhan Maha Asyik
Penulis: Sujiwo Tejo dan Dr MN Kamba
Penerbit: Imania
Cetakan: XVIII, Mei 2021
Tebal: 245 Halaman
ISBN: 978-602-7926-29-5
Baca Juga
-
Samsung Galaxy A07s Resmi Meluncur, Bawa Helio G99+, Baterai 5.000 mAh dan Update OS 6 Tahun
-
Ingin Beli Galaxy S26 FE Lebih Hemat? Ini Cara Dapat Potongan Rp500 Ribu
-
Redmi Note 17 Series Siap Hadir di Indonesia, Apa yang Membuatnya Istimewa?
-
Ponsel Lipat Harga Mulai Rp30 Juta! Apa Saja Kehebatan iPhone Duo?
-
Buku Islam & Kebangsaan: Menemukan Wajah Islam dalam Rumah Kebangsaan
Artikel Terkait
-
Review Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan: Tujuh Kisah Tentang Sepi dan Kehilangan
-
Misi Menyelamatkan Dunia di Balik Sikap Jutek Cranky, Crabby Crow
-
5 Manfaat Terapi Cerita untuk Anak Kanker: Cegah Trauma dan Self-Blame
-
Melihat Wajah Asli Jakarta Lewat Buku Tiada Ojek di Paris Karya Seno Gumira Ajidarma
-
Dubliners: Kisah 15 Cerpen yang Mengungkap Sisi Gelap Kehidupan Dublin
Ulasan
-
Memaknai Cinta Bagi Orang Dewasa di Novel Hingga Ujung Cakrawala
-
Ujian Hubungan Jangka Panjang: Mengapa "Before Midnight" Adalah Film Paling Jujur Tentang Pernikahan
-
Distraksi Patah Hati: Belajar Melepaskan dan Terluka Sewajarnya
-
Bukan Hanya Romance: Bagaimana Trilogi 'Before' Memotret Realisme Hubungan
-
Spirit Fingers: Menemukan Warna Diri di Tengah Ramainya Perbandingan
Terkini
-
Manga Shojo In the Clear Moonlit Dusk Akan Tamat di Volume ke-12 pada 2027
-
Karnaval Pekalongan Jadi Sorotan, Budaya berkedok Ritual di Ruang Publik?
-
Samsung Galaxy A07s Resmi Meluncur, Bawa Helio G99+, Baterai 5.000 mAh dan Update OS 6 Tahun
-
Kontradiksi Gaya Komunikasi Prabowo: Singa Domestik, Kucing Imut di Panggung Internasional?
-
Di Era AI dan Digital, Mengapa Belajar Filsafat Justru Semakin Penting?