Sekar Anindyah Lamase | Oktavia Ningrum
Hingga Ujung Cakrawala (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Bagi sebagian orang, jatuh cinta mungkin menjadi sesuatu yang menyenangkan. Namun, bagi Anjani, cinta justru terasa seperti satu persoalan tambahan yang harus dihindari. Hidupnya sudah dipenuhi berbagai masalah. Setelah ayahnya meninggal, Anjani mengetahui bahwa sang ayah ternyata memiliki anak laki-laki dari perempuan lain.

Di sisi lain, ibunya menderita berbagai penyakit komplikasi hingga membutuhkan transplantasi ginjal dan harus menjalani cuci darah setiap minggu. Kondisi ekonomi keluarga pun membuat Anjani terbiasa hidup mandiri dan berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.

Situasi tersebut menjadi dasar cerita Hingga Ujung Cakrawala karya Titi Sanaria. Novel Metropop yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada Maret 2023 ini memiliki 376 halaman.

Novel ini menawarkan kisah romance dengan persoalan yang cukup dekat dengan kehidupan orang dewasa: keluarga, pekerjaan, kondisi ekonomi, perbedaan kelas sosial, serta pilihan untuk mencintai ketika hidup sendiri sedang tidak baik-baik saja.

Sinopsis Novel

Anjani bukan perempuan yang sedang mencari pasangan. Baginya, mengurus keluarga dan bertahan secara finansial sudah cukup menyita perhatian. Karena itu, kehadiran Dhyas, laki-laki dengan kondisi sosial jauh di atasnya, justru membuat Anjani semakin berhati-hati. Ia tahu bahwa hubungan mereka berpotensi menghadirkan persoalan baru, terutama ketika perbedaan status sosial bisa menjadi penghalang.

Sikap Anjani memang terkadang terasa terlalu pesimistis. Namun, pesimisme tersebut sebenarnya memiliki alasan. Ia bukan sekadar takut jatuh cinta, melainkan mencoba menghitung konsekuensi dari hubungan yang sedang dijalani. Anjani bahkan tidak merasa perlu membayangkan dirinya harus berjuang mati-matian demi mendapatkan restu keluarga Dhyas. Dalam hal ini, karakter Anjani terasa realistis sekaligus menyebalkan karena terlalu sering melihat kemungkinan buruk sebelum sesuatu benar-benar terjadi.

Hubungan Anjani dan Dhyas sendiri dibangun dengan pola slow burn. Tidak ada cinta yang langsung meledak dan membuat keduanya kehilangan logika. Sebagai orang dewasa, mereka mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan. Dhyas yang terus berusaha mendekati Anjani berhadapan dengan perempuan yang terbiasa mengurus semuanya sendiri.

Persoalan perempuan mandiri juga menjadi salah satu hal menarik dalam novel ini. Anjani terbiasa menyelesaikan persoalannya sendiri, sementara Dhyas ingin membantu dan hadir dalam kehidupannya. Perbedaan cara menghadapi kehidupan tersebut memunculkan pertanyaan penting: sampai sejauh mana seseorang yang mandiri bersedia menerima bantuan dari pasangannya?

Kelebihan dan Kekurangan

Menurut saya, persoalan semacam ini justru menarik dibicarakan dalam hubungan. Mandiri bukan berarti tidak membutuhkan siapa pun. Sebaliknya, menerima bantuan juga tidak otomatis membuat seseorang kehilangan kemandiriannya. Hubungan yang sehat membutuhkan komunikasi mengenai batas, kebutuhan, dan bentuk perhatian yang nyaman bagi kedua pihak.

Di luar romansa, pembahasan mengenai sandwich generation menjadi salah satu bagian yang paling menarik. Anjani berada dalam posisi harus memikirkan dirinya sekaligus keluarganya. Beban tersebut terasa realistis karena tidak selalu disajikan dengan drama berlebihan. Bahkan ketika Dhyas kesal karena Anjani berkali-kali menolak dijemput dan memilih mengendarai motor sendiri, konflik tersebut masih terasa seperti persoalan pasangan pada umumnya.

Justru hubungan Anjani dengan Rayyan, adik yang lahir dari perselingkuhan ayahnya, menjadi salah satu bagian yang paling berkesan. Pada awalnya, Rayyan bersikap dingin dan membuat hubungan mereka terasa canggung. Namun, seiring cerita berjalan, kepercayaan mulai tumbuh. Perkembangan Rayyan memperlihatkan bahwa hubungan keluarga tidak selalu langsung terbentuk hanya karena adanya ikatan darah. Kepercayaan membutuhkan waktu, pengalaman, dan pembuktian.

Sayangnya, perkembangan perasaan Anjani terhadap Dhyas terasa kurang kuat. Ada narasi yang menjelaskan apa yang dipikirkan Anjani ketika bersama Dhyas, tetapi sensasi jatuh cintanya sendiri terasa samar. Pembaca seperti tiba-tiba diajak menerima bahwa Anjani sudah memiliki perasaan, tanpa mendapatkan cukup momen yang benar-benar menunjukkan kapan perasaan tersebut mulai tumbuh.

Beberapa percakapan juga terasa berulang, terutama mengenai penyakit ibu Anjani, perselingkuhan ayahnya, dan kondisi ekonomi keluarga. Kelakar bernuansa seksual dari kelompok pertemanan Dhyas pun terasa cukup sering sehingga pada beberapa bagian justru mengganggu. Padahal, ruang tersebut sebenarnya bisa digunakan untuk memperdalam kemistri Anjani dan Dhyas atau mengembangkan karakter lain.

Meski demikian, Hingga Ujung Cakrawala tetap menawarkan romance dewasa yang menarik karena cinta tidak ditempatkan sebagai satu-satunya persoalan dalam hidup. Ada keluarga yang harus dipikirkan, pekerjaan yang harus dijalani, uang yang harus diatur, serta luka masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.

Novel ini mengingatkan bahwa mencintai seseorang bukan hanya soal perasaan. Ada realitas yang ikut masuk ke dalam hubungan: keluarga, kelas sosial, kemandirian, tanggung jawab, dan masa depan. Anjani mungkin terlalu pesimistis, tetapi kekhawatirannya menunjukkan bahwa cinta bagi orang dewasa memang tidak selalu sederhana. Kadang-kadang, sebelum memutuskan berjalan bersama seseorang hingga ujung cakrawala, kita perlu memastikan bahwa kita siap menghadapi jalan panjang yang ada di depannya.

Identitas Buku

  • Judul: Hingga Ujung Cakrawala
  • Penulis: Titi Sanaria
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tanggal Terbit: 23 Maret 2023
  • Tebal: 376 halaman
  • ISBN: 9786020670027
  • Genre: Metropop / Romance