Pasti selalu ada masa ketika kita merasa menjadi orang yang paling biasa di dunia.
Tidak cukup pintar untuk disebut hebat. Tidak cukup cantik untuk diperhatikan. Tidak cukup percaya diri untuk berani bicara. Bahkan ketika berada di tengah banyak orang, rasanya seperti keberadaan kita tidak pernah benar-benar dianggap.
Mungkin karena itu, drama yang diadaptasi dari webtoon, Spirit Fingers terasa begitu dekat dan relate. Drama Korea yang dibintangi Park Ji Hu dan Cho Jun Young ini memang dikemas sebagai kisah coming-of-age dengan sentuhan romance dan komedi.
Namun, setelah menontonnya sampai selesai, saya merasa drama ini sebenarnya sedang membicarakan sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit, bagaimana caranya kita belajar menyukai diri sendiri?
Park Ji Hu memerankan Song U Yeon, seorang siswi SMA yang pemalu dan memiliki kepercayaan diri rendah. U Yeon terbiasa merasa bahwa dirinya tidak memiliki sesuatu yang istimewa. Di rumah pun, pendapat dan keberadaannya kerap terasa seperti berada di urutan belakang dibandingkan saudara-saudaranya.
Sampai suatu hari, ia bertemu dengan sekelompok orang dari klub menggambar bernama Spirit Fingers.
Awalnya, U Yeon hanya diminta menjadi model untuk mereka. Namun, pertemuan itu perlahan membawa dirinya masuk ke dalam sebuah lingkungan yang sama sekali berbeda dari kehidupannya selama ini. Di Spirit Fingers, semua orang punya warna masing-masing.
Ada yang percaya diri. Ada yang aneh. Ada yang terlalu berisik. Ada yang terlihat sempurna. Ada yang menyimpan luka sendiri. Tetapi tidak ada yang berusaha menjadi sama. Dan justru di tempat itulah U Yeon perlahan belajar bahwa mungkin selama ini masalahnya bukan karena dirinya tidak memiliki warna.
Ia hanya belum menemukan warnanya sendiri. Saya suka sekali gagasan tersebut. Karena bukankah kita sering melakukan hal yang sama?
Kita melihat orang lain yang lebih cantik, lebih pintar, lebih populer, lebih berhasil, lalu mulai bertanya, “Kenapa aku tidak seperti mereka?”
Tanpa sadar, kita menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mencari kekurangan diri sendiri. U Yeon juga begitu. Perubahannya pun tidak terjadi dalam semalam. Ia tidak tiba-tiba menjadi perempuan super percaya diri hanya karena bertemu dengan teman-teman baru.
Percaya diri memang bukan sesuatu yang bisa muncul hanya karena seseorang mengatakan bahwa kita berharga. Kadang kita harus mengalaminya sendiri. Harus jatuh, harus mencoba, dan harus gagal. Baru kemudian perlahan kita memahami bahwa ternyata kita tidak seburuk yang selama ini dipikirkan.
Di sisi lain, ada Nam Gi Jeong yang diperankan Cho Jun Young. Karakter ini memiliki energi yang sangat berbeda dari U Yeon. Gi Jeong percaya diri, ekspresif, dan penuh tingkah. Ia juga perlahan mulai menyadari perasaannya kepada U Yeon dan untuk pertama kalinya merasakan sesuatu yang benar-benar membuatnya ingin berubah.
Saya menikmati hubungan mereka bukan semata-mata karena unsur romantisnya. Justru karena Gi Jeong tidak hadir sebagai seseorang yang “menyelamatkan” U Yeon. Ia memang mendukung U Yeon, tetapi proses U Yeon untuk menemukan dirinya sendiri tetap menjadi miliknya.
Dan menurut saya, itu penting. Karena cinta yang sehat seharusnya bukan tentang seseorang yang datang lalu memperbaiki seluruh hidup kita. Melainkan seseorang yang membuat kita merasa cukup aman untuk tumbuh menjadi versi diri yang lebih baik.
Pada akhirnya, Spirit Fingers mengingatkan saya bahwa setiap orang memiliki warna sendiri. Ada yang baru terlihat ketika kita bertemu orang yang tepat. Ada yang muncul setelah melewati masa sulit. Ada pula yang baru kita temukan setelah bertahun-tahun merasa kehilangan arah.
Jadi, kalau sekarang kamu sedang berada di fase hidup ketika merasa tidak cukup baik, mungkin kamu tidak benar-benar kehilangan warna. Mungkin kamu hanya belum menemukan tempat yang membuatmu berani menunjukkannya.
Dan mungkin, seperti U Yeon, kita semua hanya perlu sedikit waktu untuk akhirnya menyadari bahwa kita tidak harus menjadi warna orang lain untuk terlihat indah. Sudah nonton Spirit Fingers? Pelajaran apa yang kamu ambil dari drama ini?
Baca Juga
-
Kim Garam Unggah Foto Profil Baru, Siap Comeback dan Debut Jadi Aktris
-
Mantra untuk Cinta dan Brengseknya Dunia: Ketika Sebuah Buku Jadi Penyelamat
-
Memaknai The Stoic Way of Not Giving A Damn: Kita Terlalu Banyak Peduli
-
1 Kakak 7 Ponakan: Saat Menjadi Dewasa Bukan Lagi Sebuah Pilihan
-
Ulasan Love Untangled: Pentingnya Mencintai Diri Sendiri Sebelum Orang Lain
Artikel Terkait
Ulasan
-
Habis Rp100 Ribuan, Puas Gak Ya Makan Kimchi Karubi Nikudon di Kimukatsu? Ini Pengalaman Aslinya!
-
Through the Darkness: Mengurai Criminal Profiling dan Psikologi Kejahatan
-
5 Pesan Moral Bisa Dipelajari dari Karakter Je Moon-jae di Drakor Mousetrap
-
Ketika Cinta Bertemu Realitas: Ulasan Film Before Sunset yang Mengiris Hati
-
Bukan Sekadar Film Anak, Iyus Jenius Hadirkan Kembali Lagu Legendaris Papa T.Bob yang Dirindukan
Terkini
-
Tak Perlu Mesin POS Mahal, 5 Tablet LTE Ini Cocok untuk Kasir Cafe dan UMKM
-
Tone Deaf Berkedok Self-Care: Tak Semua Orang Bisa Menjauh dari Bad News
-
Sinopsis Whalefall, Kisah Mencekam Bertahan Hidup di Perut Paus
-
Ironis! Guru Dipaksa Jadi "Pencicip Racun" Akibat Amputasi Logika Program MBG
-
Disebut "Jamet" hingga Difatwa Haram, Mengapa Sound Horeg Tetap Digemari?