Mencari kebahagiaan tidak harus ke tempat yang jauh. Cukup menempuh perjalanan beberapa jam kita sudah dapat menikmati jalan yang berliku, lalu membiarkan angin laut menyambut kedatangan kita.
Itulah yang saya rasakan ketika kembali mengunjungi Utama Raya Beach bersama istri dan anak perempuan saya. Ini merupakan kunjungan kedua kami, pada Minggu, 26 Juli 2026 kemarin. Meski pernah datang sebelumnya, rasa kagum itu ternyata masih sama, bahkan terasa lebih dalam.
Perjalanan kami dimulai dari rumah, Ledokombo Kabupaten Jember. Sejak pagi, kami telah menyiapkan segala keperluan agar perjalanan berlangsung nyaman. Mobil melaju meninggalkan hiruk-pikuk kota kecil, melewati hamparan sawah, perkampungan, hingga akhirnya memasuki kawasan Arak-Arak Bondowoso.
Bagi saya yang berada di balik kemudi, jalur Arak-Arak selalu menghadirkan pengalaman tersendiri. Jalan yang berkelok-kelok mengikuti kontur pegunungan, diapit jurang yang cukup curam, benar-benar menguji konsentrasi dan keberanian.
Sesekali saya menarik napas panjang ketika berpapasan dengan kendaraan besar di tikungan sempit. Namun di balik tantangan itu, tersaji panorama pegunungan yang begitu indah. Hamparan pepohonan hijau dan udara yang sejuk seolah menjadi hadiah bagi setiap pengendara yang melintasinya.
Letak Sangat Strategis
Kurang lebih tiga jam perjalanan akhirnya terbayar ketika kami tiba di Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo. Pantai Utama Raya berada tepat di jalur Pantura yang menghubungkan Probolinggo dengan Situbondo. Letaknya memang sangat strategis sehingga banyak pelancong menjadikannya tempat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan menuju Banyuwangi atau Bali.
Pantai ini berada di balik kawasan rest area yang cukup besar. Dari luar mungkin tidak banyak orang menyangka bahwa di baliknya tersembunyi hamparan laut yang begitu menawan. Tidak berlebihan jika banyak wisatawan menyebutnya sebagai surga tersembunyi di jalur Pantura.
Ombak Tenang di Pantai Utama Raya
Untuk menikmati keindahan pantai ini, pengunjung hanya perlu membayar tiket masuk sebesar Rp5.000 per orang. Harga yang sangat terjangkau dibandingkan pengalaman yang diperoleh.
Begitu memasuki kawasan pantai, suasana langsung berubah. Deretan pohon palem yang tertata rapi, taman yang bersih, jalan berpaving, serta kursi-kursi menghadap laut menghadirkan kesan modern sekaligus nyaman. Sekilas suasananya mengingatkan saya pada kawasan wisata pantai di luar negeri.
Kami datang setelah waktu Zuhur. Matahari memang masih cukup terik, tetapi semilir angin laut membuat udara terasa sejuk. Ombak di Pantai Utama Raya relatif tenang karena berada di pesisir utara Pulau Jawa.
Anak saya pun tampak begitu senang bermain di tepi pantai tanpa rasa khawatir berlebihan. Melihat tawa kecilnya berlarian mengejar ombak menjadi kebahagiaan sederhana yang sulit digantikan oleh apa pun.
Utama Raya Destinasi Wisata Keluarga
Sementara itu, saya dan istri memilih duduk di salah satu kursi yang menghadap laut. Tidak banyak percakapan yang kami lakukan. Rasanya kami lebih menikmati suara ombak yang datang silih berganti. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Semua penat setelah rutinitas mengajar, menulis, dan berbagai kesibukan sehari-hari perlahan larut bersama hembusan angin laut.
Pantai Utama Raya memang dirancang sebagai destinasi wisata keluarga. Fasilitasnya sangat lengkap. Di kawasan ini tersedia hotel, vila, cottage, restoran, kafe, musala, area parkir yang luas, hingga berbagai wahana air. Pengunjung dapat mencoba kano, banana boat, donat boat, band wagon, jet ski, speed boat, snorkeling, bahkan paket memancing menggunakan kapal. Bagi yang ingin menikmati suasana santai, tersedia pula penyewaan sepeda untuk berkeliling kawasan pantai.
Kami memang tidak mencoba seluruh wahana tersebut. Bagi kami, menikmati suasana bersama keluarga jauh lebih berharga daripada sekadar mengejar permainan. Sesekali kami berjalan menyusuri bibir pantai, mengabadikan momen melalui kamera, lalu berhenti ketika menemukan sudut yang menarik untuk berfoto. Hampir setiap sudut pantai terasa fotogenik dengan latar laut biru yang membentang luas.
Ballroom Termegah dengan View Pantai
Menjelang sore, suasana pantai mulai berubah. Langit perlahan berganti warna dari biru cerah menjadi jingga keemasan. Inilah momen yang paling saya tunggu. Duduk di tepi pantai sambil memandangi matahari yang perlahan turun menuju cakrawala menghadirkan rasa syukur yang begitu besar.
Saya merasa seolah waktu berjalan lebih lambat. Tidak ada suara klakson kendaraan, tidak ada tenggat pekerjaan, tidak ada kesibukan yang mengejar. Yang ada hanyalah debur ombak, angin yang lembut, senyum istri, tawa anak, dan langit yang terus berubah warna.
Saat matahari benar-benar tenggelam, lampu-lampu di kawasan Utama Raya mulai menyala. Pantai yang semula didominasi cahaya alami kini berubah menjadi kawasan yang hangat dan romantis. Pantulan cahaya lampu di permukaan laut menciptakan pemandangan yang begitu memikat.
Restoran dan kafe mulai ramai oleh pengunjung yang menikmati makan malam dengan iringan suara ombak. Malam di Utama Raya benar-benar memiliki pesonanya sendiri. Tidak bising, tidak berlebihan, tetapi justru menghadirkan ketenangan yang membuat siapa pun betah berlama-lama.
Saya menyadari bahwa perjalanan ini bukan sekadar tentang mengunjungi sebuah pantai. Lebih dari itu, perjalanan ini menjadi kesempatan untuk mempererat kebersamaan bersama keluarga. Di tengah kesibukan yang sering menyita waktu, kami bisa kembali saling bercerita, bercanda, dan menikmati waktu tanpa tergesa-gesa.
Foto Bareng Sebelum Pulang
Ketika akhirnya kami memutuskan pulang, ada rasa enggan meninggalkan tempat ini. Namun perjalanan kembali ke Ledokombo justru dipenuhi perasaan puas. Rasanya seperti membawa pulang energi baru, hati yang lebih ringan, dan kenangan yang akan selalu kami ingat.
Utama Raya Beach bukan hanya menawarkan panorama laut yang indah, tetapi juga menghadirkan ruang bagi siapa saja untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Di sinilah saya belajar bahwa kebahagiaan sering hadir dalam bentuk perjalanan bersama keluarga, semilir angin pantai, tawa anak, senyum pasangan, dan matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat.
Oleh karena itu, saya yakin suatu hari nanti kami akan kembali lagi ke tempat ini, untuk ketiga kalinya, dan mungkin berkali-kali setelahnya.
Baca Juga
-
Buku Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?: Teman Anak-Anak yang Kehilangan Ayah
-
Hal Baik Berakhir Baik: Bukan Sekadar Motivasi, tapi Teman Menenangkan Hati
-
Buku Tuhan Maha Asyik: Menikmati Perjalanan Spiritual Bersama Sujiwo Tejo
-
Khutbah di Bawah Lembah: Melawan Tanpa Kebencian, Bertahan Demi Martabat
-
Melihat Wajah Asli Jakarta Lewat Buku Tiada Ojek di Paris Karya Seno Gumira Ajidarma
Artikel Terkait
-
Perkuat Lini Serang, Kendal Tornado FC Rekrut Winger Jepang Yushi Yamaya
-
Perkuat Sektor Wing Back, Kendal Tornado FC Datangkan Eks Pemain Timnas U-19
-
Naik Kereta untuk Liburan? Jangan Lupa Siapkan Antisipasi Jika Jadwal Berubah
-
Gabung Kendal Tornado FC, Diego Dalloca: Saya Ingin Menciptakan Sejarah!
-
Cari Sunscreen untuk ke Pantai yang Tak Bikin Mata Perih? Ini 5 Rekomendasi Sesuai Review
Ulasan
-
Review How to Say You're Sorry, Buku Anak tentang Arti Permintaan Maaf
-
Ip Man: Kung Fu Legend, saat Film Bela Diri Modern Hilang Momen Ikoniknya
-
Are You Afraid of the Dark? Ketika Ambisi Berubah Jadi Konspirasi Mematikan
-
Goldfinches, Buku Cantik tentang Kebahagiaan dalam Hal-Hal Sederhana
-
Oliver Twist: Perjuangan Anak Yatim Melawan Kemiskinan dan Eksploitasi
Terkini
-
Masih Enggan Naik Transportasi Umum? Sudah Saatnya Mengubah Cara Pandang
-
Naik Transportasi Umum, Langkah Sederhana yang Bisa Bikin Kota Lebih Nyaman
-
Magang Berkepanjangan: Bekal Karier atau Bentuk Eksploitasi Anak Muda?
-
Mengapa Transportasi Umum Adalah Jawaban Buat Bumi Kita
-
Healing Murah Meriah: Keliling Jakarta Naik Transum