Mencicipi menu baru di restoran Jepang selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan, terutama ketika hidangan tersebut menawarkan kombinasi rasa yang berbeda dari menu pada umumnya. Kali ini, saya mencoba menu nikudon baru dari Kimukatsu, yaitu Kimchi Karubi Nikudon. Dari namanya, sudah terlihat bahwa hidangan ini menggabungkan karubi nikudon dengan kimchi sebagai pelengkap utama. Perpaduan tersebut ternyata menghasilkan rasa yang cukup menarik dan cocok untuk pilihan makan siang.
Karubi nikudon merupakan salah satu jenis donburi khas Jepang yang menyajikan irisan daging sapi bagian karubi atau short ribs di atas nasi hangat. Bagian daging ini dikenal memiliki tekstur yang empuk dan juicy karena terdapat lemak yang membuatnya tetap lembut ketika dimasak. Daging karubi biasanya dipanggang hingga menghasilkan aroma smoky, kemudian disajikan bersama nasi, saus gurih, dan pelengkap seperti telur setengah matang.
Saat mencicipi Kimchi Karubi Nikudon, hal pertama yang paling menarik perhatian saya adalah tekstur daging sapinya. Irisannya cukup tebal, tetapi tetap sangat lembut ketika dimakan. Daging tersebut terasa seperti meleleh di mulut sehingga tidak membutuhkan banyak usaha untuk mengunyahnya. Aroma smoky dari proses pemanggangan juga memberikan karakter tersendiri dan membuat rasa daging terasa semakin menggugah selera.
Nasi yang menjadi dasar hidangan juga memiliki porsi yang menurut saya pas. Untuk makan siang, porsinya cukup mengenyangkan bagi saya tanpa terasa terlalu berat. Nasi hangat tersebut menjadi pasangan yang tepat untuk daging sapi dengan rasa gurih. Ketika disantap bersama saus dan potongan daging, setiap suapan terasa cukup lengkap.
Daging Empuk Bertemu Kimchi Segar
Hal yang membuat varian ini berbeda adalah tambahan kimchi. Rasa kimchi yang segar memberikan kontras terhadap daging sapi yang gurih dan kaya rasa. Setelah beberapa suapan daging, kehadiran kimchi membuat mulut terasa lebih segar. Menurut saya, kombinasi ini justru membuat hidangan tidak terasa terlalu berat. Rasa asam dan sedikit pedas dari kimchi juga memberikan variasi sehingga saya tidak cepat bosan menyantapnya.
Telur setengah matang menjadi pelengkap lain yang tidak kalah menarik. Ketika kuning telurnya bercampur dengan nasi dan daging sapi, teksturnya menjadi semakin lembut dan creamy. Saya sangat menikmati perpaduan tersebut karena kuning telur membuat nasi terasa lebih kaya. Daging sapi yang tebal dan lembut juga semakin nikmat ketika disantap bersama telur dan nasi dalam satu suapan.
Satu porsi Kimchi Karubi Nikudon dibanderol Rp72.000. Harga tersebut sudah termasuk ochazuke soup dan Tokyo Milky Pudding. Soup disajikan secara terpisah dalam mangkuk kecil sehingga pengunjung dapat menentukan sendiri cara menikmatinya. Bisa diminum langsung sebagai pendamping atau dicampurkan ke dalam nikudon sesuai selera. Rasanya sangat ringan, segar, dan menurut saya cocok dipadukan dengan nikudon serta kimchi.
Untuk dessert, Tokyo Milky Pudding memiliki tekstur kenyal dengan rasa manis yang cukup menyenangkan. Saya menyarankan pudding dikeluarkan belakangan sebagai hidangan penutup agar tetap dingin ketika disantap. Saya juga memesan ocha dingin untuk menemani makanan. Setelah ditambah service dan tax, total pesanan saya menjadi Rp100.276.
Bagi yang tidak menyukai kimchi, Kimukatsu menyediakan pilihan lain, seperti Truffle Karubi Nikudon dan Karubi Nikudon. Ada pula varian ayam atau toridon bagi pengunjung yang lebih memilih daging ayam daripada sapi. Dengan begitu, pilihan nikudon yang tersedia cukup beragam dan dapat disesuaikan dengan selera masing-masing.
Menurut saya, karubi nikudon ini bisa menjadi alternatif bagi orang yang belum sempat mencicipi nikudon yang sempat viral di Blok M. Kimchi Karubi Nikudon menawarkan kombinasi daging sapi yang lembut, telur setengah matang yang creamy, nasi dengan porsi pas, serta kimchi yang memberikan sensasi segar. Setelah mencobanya, saya merasa menu ini cukup memuaskan dan saya pasti akan kembali memesannya jika makan di Kimukatsu.
Baca Juga
-
A Suspicious Secondhand Shop: Ketika Barang Bekas Menyimpan Kisah Manusia
-
Belajar Menjalani Hidup dengan Lebih Tenang melalui Hal-Hal yang Boleh dan Tak Boleh Kulakukan
-
Ulasan Dua Belas Pasang Mata: Kehangatan Guru di Tengah Kelamnya Perang
-
Ulasan Novel Good Wives: Perjalanan Empat Saudari March Menuju Kedewasaan
-
Kisah-Kisah Tengah Malam: Menelusuri Teror dan Kegelapan Jiwa Manusia
Artikel Terkait
-
Jelajah Rasa Sambil Menikmati Pemandangan Jakarta di Langit Nusantara
-
Tren Kuliner Terus Berkembang, dari Inovasi Bahan Pangan hingga Kreasi Chef
-
TikTok Kenalkan Must Eat ke Indonesia, Fitur Baru Buat Hunting Rekomendasi Kuliner
-
Menilik Bakso: Antara Sejarah, Akulturasi Budaya, dan Momen Bareng Keluarga
-
Pengalaman Kuliner Ini Mengajak Tamu Menyelami Cerita di Balik Hidangan
Ulasan
-
Kisah Cinta, Kutu Buku, dan Petualangan Surealis: Review Jagat Rajawali Karya Eko Darmoko
-
Ngeri Banget! Serial Carrie Buktikan Cyberbullying Jauh Lebih Kejam dari Kutukan
-
Pursuit of Jade: Drama dengan Role Reversal Baru Zhang Linghe & Tian Xiwei
-
Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru
-
The Lament of Autumn: Drama Republik dalam Vibes Love Hate yang Bikin Baper
Terkini
-
Viral Guru AI IELTS Mengamuk, Benarkah Kecerdasan Buatan Mulai Punya Perasaan?
-
Bukan Soal Anti Asing, Ini Alasan Standar Halal Indonesia Bikin Negara Maju Ketar-ketir!
-
Stop Scroll Medsos Seharian! Ini Terapi Paling Manjur Bebas dari Brain Fog
-
Warisan Resep Dapur Ibu
-
Laut Bercerita dan Ingatan yang Belum Selesai