M. Reza Sulaiman | Sherly Azizah
Raim Laode (instagram/raimlaode)
Sherly Azizah

Saya mulai dengar lagu ini gara-gara nama Raim Laode terus muncul di rekomendasi Spotify saya, padahal lagunya sendiri sudah rilis sejak Maret 2024. Awalnya saya kira ini cuma lagu senja generik seperti kebanyakan lagu indie lain yang isinya soal kopi, hujan, dan kerinduan receh.

Judulnya "Bersenja Gurau" pun sempat saya kira main-main saja, semacam permainan kata biar terdengar puitis. Tapi begitu bait pertama masuk dan langsung menyanggah dugaan saya sendiri, "banyak yang salah mengira senja bukan tentang kopi", saya jadi tersenyum sendiri.

Rasanya seperti ditegur halus sebelum lagu ini benar-benar dimulai, dan dari situ saya jadi penasaran mau dibawa ke mana arah ceritanya.

Soal konteks, lagu ini mengusung nuansa akustik yang syahdu dengan tema besar seputar harapan, kesabaran, dan keyakinan bahwa kesulitan selalu berujung pada kemudahan.

Menariknya, liriknya terinspirasi dari beberapa ayat Al-Qur'an, termasuk pesan terkenal soal kesulitan yang selalu diiringi kemudahan.

Relevansinya dengan situasi sekarang menurut saya masih sangat kuat, apalagi buat siapa saja yang sedang berada di fase hidup yang berat, entah soal pekerjaan, hubungan, atau sekadar rasa lelah menjalani rutinitas.

Secara garis besar, lagu ini bercerita dari sudut pandang seseorang yang sedang menemani orang lain melewati masa-masa sulit, dengan sikap tulus tanpa syarat.

Ada pergantian suasana hati yang terasa jelas, dari kegelisahan soal hidup yang terasa sempit, sampai keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja pada waktunya. Intinya, lagu ini mampu membawa pendengar melewati perjalanan emosi yang naik turun, namun tetap berakhir dengan nada penuh harapan.

Nah, kalau boleh saya kuliti sedikit, ada baris pembuka yang menurut saya jadi kunci pemahaman seluruh lagu, yaitu "senja adalah hadiah, pejalan kaki menjemput magribnya".

Baris tersebut menurut saya cerdas banget, sebab senja yang biasanya cuma dianggap latar estetik buat foto-foto, di sini diubah maknanya jadi simbol perjalanan hidup yang berujung pada waktu salat magrib, semacam pengingat bahwa setiap hari punya titik pulang yang harus disyukuri.

Lalu ada baris "selalu ada pelangi pada setiap mendungnya", yang menurut saya jadi metafora paling menenangkan di lagu ini, mengajarkan bahwa penderitaan bukan akhir dari segalanya.

Ada pula baris "kita miliknya, semua telah tertulis, dan akan kembali padanya", yang ternyata terinspirasi dari kalimat "inna lillahi wa inna ilaihi raji'un". Baris ini menurut saya jadi puncak emosional lagu ini, sebab ada kepasrahan yang tulus, bukan kepasrahan yang lemah, tapi kepasrahan yang justru menguatkan.

Soal kelebihan, lagu ini unggul di sisi kedalaman makna yang dibungkus lirik sederhana, sehingga mudah dicerna tapi tetap menyentuh. Musik akustiknya juga mendukung suasana reflektif tanpa terasa berlebihan.

Kekurangannya, mungkin bagi pendengar yang mencari lagu dengan tempo lebih dinamis, nuansa lagu ini yang cenderung tenang sepanjang durasi bisa terasa agak monoton di beberapa bagian.

Saya rasa "Bersenja Gurau" cocok didengarkan siapa saja yang sedang butuh pengingat lembut bahwa kesulitan tidak akan berlangsung selamanya.

Lagu ini juga pas untuk para perantau yang sedang lelah berjuang jauh dari rumah. Setelah selesai mendengarkan, saya pribadi merasa lebih tenang, seolah baru saja dipeluk lewat lirik, bukan lewat pelukan sungguhan. Yakin nggak mau dengerin?

Identitas Karya

  • Judul: Bersenja Gurau
  • Penyanyi: Raim Laode
  • Tahun rilis: 2024
  • Genre: Indie/Religi (Akustik)
  • Durasi: sekitar 3-4 menit