Ada hari-hari ketika kepala terasa seperti puluhan tab yang terbuka bersamaan. Notifikasi menumpuk, pekerjaan mengantre, dan kita terus berlari tanpa sempat bertanya sedang berlari ke mana.
Karena itulah Yoursay Class #EveryMindMatters mengajak peserta menekan tombol jeda. Bertema "Pause, Reflect, and Create", kelas via daring ini menghadirkan psikolog Putri Hafisyah, S.Psi., Psikolog, dan editor Yoursay.id Bimo Aria Fundrika untuk menunjukkan bahwa jeda bukan tanda menyerah, melainkan awal dari refleksi. Dan refleksi, ternyata bisa dituangkan dalam tulisan.
Hidup Serba Cepat, Pikiran Ikut Penuh
Kelas dibuka dengan pertanyaan ringan: kabar hari ini lebih mirip cuaca apa? Peserta dari Jakarta, Semarang, hingga Kalimantan menjawab di kolom komentar. Ada yang mendung karena sedang mencari kerja, ada yang hujan karena pusing mengerjakan skripsi, ada pula yang mengaku sedang mengantuk. Menurut Putri, tidak ada jawaban yang salah. Apa pun kabarnya, rasakan saja, asal jangan sampai berlarut-larut.
Ia lalu mengajak peserta menengok keseharian yang akrab bagi banyak orang: notifikasi berdatangan bahkan sebelum aplikasi dibuka, makan sambil menatap layar ponsel, dan satu orang memegang tiga sampai empat pekerjaan sekaligus. Dalam kondisi begitu, otak terus waspada dan kepala mudah penuh. Ujungnya bisa berupa overthinking, kelelahan kerja, atau hilangnya semangat.
Kuncinya, kata Putri adalah mindful, yang berarti sadar, bukan menghindar. Ia membedakannya dengan hidup dengan pilot otomatis (auto pilot), ketika seseorang makan tanpa tahu rasanya, mengobrol tanpa benar-benar menyimak, atau tersesat dalam kekhawatiran. Tidak apa-apa jika pikiran sesekali menyerang, selama kita mau menariknya kembali ke saat ini.
Mindfulness pun tidak melulu soal menarik napas. Ia bisa hadir lewat langkah kaki yang benar-benar dirasakan saat berjalan, atau mandi yang tidak dikejar waktu. Putri mencontohkan Squidward (karakter dalam kartun Spongebob) yang tampak menikmati mandinya, lalu menyarankan peserta mencoba mandi 10 sampai 15 menit seminggu sekali dengan sabun beraroma favorit, tanpa gangguan sebagai bentuk menyayangi diri.
Beda Rumination dan Refleksi
Setelah berhenti sejenak, langkah berikutnya adalah refleksi. Di titik ini Putri menarik garis yang tegas antara rumination dan refleksi. Rumination terpaku pada masa lalu dan berujung menyalahkan diri, seperti "kenapa aku gagal, kenapa aku bodoh". Refleksi tetap mengakui rasa sedih, tetapi melangkah lebih jauh dengan bertanya apa yang bisa dipelajari dan ditingkatkan.
Salah satu cara refleksi yang ia sukai adalah jurnal.Tulisannya tidak perlu estetik, catatan di ponsel pun cukup. Menurutnya, jurnal membantu mengurai pikiran yang bertumpuk, menentukan mana yang perlu diselesaikan lebih dulu, mengingatkan bahwa kita sebenarnya sudah melangkah, dan memisahkan pikiran dari perasaan yang sering menyatu tanpa disadari.
Dalam sesi tanya jawab, Putri menambahkan bahwa rumination biasanya berkutat pada masa lalu, sedangkan overthinking lebih sering menyangkut masa depan yang belum pasti. Kalau rasa tidak nyaman terus berulang meski sudah mencoba refleksi mandiri, ia menganjurkan peserta mendatangi profesional. Layanan konseling, katanya, kini bisa dijumpai di berbagai kota dengan biaya yang terjangkau.
Dari Isi Kepala ke Tulisan
Lalu bagaimana refleksi itu dituangkan menjadi karya? Jawabannya datang di sesi kedua bersama Bimo. Ia membedah tulisan reflektifnya sendiri tentang kebiasaan makan "yang penting kenyang" di masa kecil, seperti nasi yang dipadukan dengan mi instan.
Menurut Bimo, cara paling mudah memulai adalah dari hal yang paling personal. Cerita pribadi membuat pembaca lebih mudah peduli, sehingga persoalan yang tampak rumit terasa lebih dekat. Perbedaan kecil, misalnya kebiasaan makan yang dianggap aneh oleh keluarga pasangan, bisa menjadi pintu masuk sekaligus sumber konflik yang membuat pembaca penasaran ke mana tulisan akan bermuara.
Dari situ, penulis perlu membangun karakter dengan prinsip "show, don't tell". Alih-alih menulis bahwa keluarganya hidup terbatas, Bimo memilih menggambarkan keterbatasan itu lewat detail konkret agar pembaca bisa merasakannya sendiri.
Agar tulisan tidak berhenti sebagai curhat, Bimo menyarankan penulis menambahkan konteks atau data. Dengan begitu, pengalaman pribadi terlihat sebagai bagian dari persoalan yang lebih besar, karena banyak keluarga berpenghasilan rendah memang lebih mengandalkan nasi dan makanan olahan yang murah dan mengenyangkan ketimbang protein hewani dan sayur segar.
Setelah itu, penulis dapat menawarkan cara pandang baru. Melihat anak kecil makan mi instan dengan nasi, misalnya, tidak lagi sekadar soal kebiasaan buruk, tetapi soal akses pangan bergizi dan kondisi ekonomi keluarga yang belum terselesaikan. Terakhir, beri ruang bagi pembaca untuk merefleksikan sendiri, tanpa perlu menggurui.
Kedua sesi terasa saling melengkapi. Jeda membantu kita mengenali apa yang sebenarnya dirasakan, dan menulis memberi bentuk pada perasaan itu. Tidak perlu menunggu pengalaman yang besar. Mulai saja dari hal terdekat dan termudah, seperti kejadian sederhana yang masih terpikir berhari-hari setelahnya.
Baca Juga
-
Menelisik Pameran 'On Equal Grounds": Saat Hierarki di Dunia Seni Diruntuhkan
-
Bukan Sekadar Belajar Bahasa Inggris, Ini Cerita Dua Ibu Merawat Kewarasan di Tengah Kesibukan
-
Kisah Juni Bangun Fun English for Ladies, Bukti Nyata Semangat Women Support Women
-
Dari Akihabara ke Jakarta: Mengintip Uniknya Budaya Maid Cafe yang Lagi Naik Daun
-
Dari Nongkrong di Warnet Sampai Punya Event Maid Cafe: Ini Cerita di Balik AniEvo ID
Artikel Terkait
-
Quality Time Keluarga Tak Harus Lama, yang Penting Hadir Sepenuhnya
-
Generasi Self-Diagnosis: Saat VT TikTok Jadi Pengganti Psikolog
-
Career Break bagi Perempuan: Jeda Karier atau Tanda Kehilangan Arah?
-
Ubah Keresahan Jadi Karya, Ayu Rianna Berbagi Tips di Yoursay Writing Class
-
Bukan Oversharing, Tulisan yang Jujur dan Personal Tetap Punya Batasan
News
-
Mengenal TRIPTIS: Ruang 'Haha-Hihi' Buat Dewasa Muda yang Mulai Kehilangan Teman Nongkrong
-
Unik! Festival Musik 'Padepopan: Sweet Escape' Siap Guncang Terminal Jatijajar Depok
-
Hidup Jadi Terasa Seperti Konten: Personal Branding atau Personal Pressure?
-
Euforia Harvest Moon dan Ironi Warga Kota Besar yang Dijajah 'Polusi Cahaya'
-
Diminta OTP dan Pasang APK Saat Melamar Kerja? Fix, Itu Loker Palsu!
Terkini
-
Skenario Sang Jenderal: Runtuhnya Tembok Kebohongan Ferdy Sambo
-
Skin Barrier Kuat! 4 Moisturizer Aman Dipakai Kulit Kering Pasca Eksfoliasi
-
Novel Zero Byte: Ketika Deadline Skripsi dan Perjodohan Datang Bersamaan
-
Plot Twist Mengejutkan di 'The Handmaiden', Ketika Cinta Sesama Jenis Jadi Simbol Perlawanan
-
Tulang dan Nadi: Lagu Tiara Andini yang Bikin Saya Sadar Cinta Itu Ujian