Sekar Anindyah Lamase | Ardina Praf
Buku Popo the Xolo (goodreads.com)
Ardina Praf

Popo the Xolo karya Paloma Angelina Lopez adalah buku bergambar tentang kehilangan melalui kisah Nana dan anjing kesayangannya, Popo. Ceritanya lembut, hangat, dan tidak menjadikan perpisahan sebagai sesuatu yang menakutkan. 

Sebaliknya, buku ini menghadirkan gagasan bahwa kasih sayang tetap hidup melalui kenangan. 

Nana adalah seorang nenek yang dikelilingi keluarga dan banyak cucu. Ia menikmati kebersamaan dengan orang-orang yang dicintainya, tetapi tubuhnya mulai lelah dan merasakan sakit. Kehadiran Popo menjadi sumber kenyamanan sekaligus teman setia dalam perjalanan Nana.

Hubungan Nana dan Popo menjadi salah satu kekuatan cerita ini. Popo bukan sekadar hewan peliharaan, melainkan sosok yang menemani Nana melewati perjalanan penting. Ikatan keduanya membuat kisah terasa personal, dekat, dan mudah dipahami pembaca muda.

Ketika Nana memulai perjalanan menuju Mictln, Popo berada di sisinya. Perjalanan tersebut terinspirasi oleh sembilan tingkatan Mictln dalam pemahaman budaya masyarakat adat Meksiko. Unsur budaya ini membuat buku menjadi jendela untuk mengenal tradisi dan pandangan tentang kematian.

Menariknya, perjalanan Nana tidak hanya berbicara tentang perpisahan. Pembaca diajak melihat kenangan, cinta, keberanian, dan penerimaan yang membentuk kehidupan Nana. Semua itu membuat tema kehilangan terasa lebih manusiawi dan penuh harapan.

Paloma Angelina Lopez berhasil menjadikan Nana sebagai karakter yang utuh. Nana bukan hanya seorang nenek yang berfungsi sebagai pengasuh atau penjaga tradisi keluarga. Ia memiliki kenangan, pengalaman, rasa lelah, kasih sayang, serta perjalanan batinnya sendiri.

Salah satu kelebihan buku ini adalah cara penulis membicarakan kematian dengan bahasa yang ramah anak. Topiknya memang berat, tetapi penyampaiannya tidak terasa menggurui. Buku ini membuka ruang bagi orang tua dan anak untuk berbicara tentang kehilangan.

Ilustrasi karya Abraham Matias menjadi daya tarik besar. Warna-warna cerah dan kaya menghadirkan dunia Nana dengan suasana magis sekaligus emosional. Perjalanan yang berat menjadi lebih mudah didekati karena visualnya indah dan penuh imajinasi.

Ilustrasi tersebut juga memperkuat nuansa budaya dalam cerita. Setiap halaman membantu pembaca merasakan perjalanan Nana di ruang yang berbeda dari kehidupan sehari-hari. Perpaduan warna dan bentuk membuat pengalaman membaca terasa hidup bagi anak-anak.

Kehadiran kata-kata Spanyol menjadi tambahan yang menarik. Pembaca yang belum mengenalnya tetap dapat memahami makna melalui konteks yang diberikan. Bagian belakang buku juga menyediakan informasi tentang Mictln, anjing Xolo, kehilangan, serta glosarium kata-kata Spanyol.

Popo the Xolo menyampaikan pesan bahwa orang yang telah tiada tetap hadir dalam ingatan. Keluarga Nana merayakan tahun-tahun cinta yang mereka bagikan, sementara seorang cucu kemudian merawat Popo. Peralihan tersebut memperlihatkan bahwa cinta dapat diteruskan melalui kenangan keluarga.

Buku ini cocok dibaca bersama anak yang mulai memiliki pertanyaan tentang kehilangan. Orang tua atau guru dapat menggunakannya sebagai pembuka percakapan mengenai keluarga, kenangan, budaya, dan perasaan.

Untuk anak usia sekolah awal, kisah ini dapat menjadi pengalaman membaca yang lembut dan bermakna.

Kekurangan buku ini mungkin terletak pada tema yang cukup emosional bagi sebagian pembaca muda. Anak yang belum pernah membicarakan kehilangan mungkin membutuhkan pendampingan agar memahami perjalanan Nana dengan nyaman.

Karena itu, buku ini lebih tepat dinikmati bersama orang dewasa.

Sebagai karya debut, tulisan Lopez terasa penuh perhatian terhadap karakter dan tema yang diangkat. Ia tidak sekadar menceritakan perjalanan menuju kematian, tetapi menekankan kehidupan, hubungan keluarga, dan kenangan yang tertinggal.

Pesan tersebut membuat cerita terasa menghangatkan hati.

Secara keseluruhan, Popo the Xolo adalah buku bergambar tentang keluarga, kehilangan, keberanian, budaya, dan cinta yang terus dikenang. Kisah Nana dan Popo disampaikan dengan teks sederhana, ilustrasi memikat, serta latar budaya Mictln yang kuat.

Buku ini layak dibaca bersama keluarga yang mencari cerita anak bermakna, hangat, edukatif, dan penuh harapan tentang kenangan serta kasih sayang, dan cocok dibaca bersama keluarga tercinta di rumah.