Kesedihan dapat dihapus, trauma dapat dipindahkan, dan kenangan tentang seseorang yang meninggal dapat disimpan di ruang penyimpanan eksternal, lalu dimatikan kapan saja seperti aplikasi yang tidak lagi dibutuhkan.
Teknologi itu bernama Neurovault.
Awalnya, Neurovault diciptakan untuk membantu pasien dengan trauma berat. Namun, seperti hampir semua teknologi yang mampu mengubah manusia, batas antara pengobatan dan kenyamanan perlahan menghilang.
Orang-orang mulai mengunggah kesadaran mereka ke dalam jaringan digital. Mereka menyebutnya kehidupan kedua.
Dan bagi mereka yang ingin tetap berada di tubuh fisik, tersedia layanan penghapusan memori emosional. Tidak perlu lagi menangisi kematian, tidak perlu lagi merasakan patah hati, dan tidak perlu lagi takut. Cukup datang ke pusat Neurovault, pilih kenangan yang ingin dilenyapkan, kemudian biarkan mesin bekerja.
Alicia Veylan adalah salah satu teknisi yang bertugas memastikan proses tersebut berjalan tanpa kesalahan. Pekerjaannya sederhana. Masuk ke sistem klien, menemukan memori yang ditandai, menghapus muatan emosionalnya, dan keluar.
Tidak boleh membaca isi kenangan, tidak boleh bertanya, dan tidak boleh ikut merasakan.
Selama enam tahun, Alicia mematuhi semua aturan itu. Sampai suatu malam, sistem memberinya sebuah peringatan.
ANOMALI MEMORI TERDETEKSI.
Alicia mengernyit. Ia sedang memeriksa ruang penyimpanan seorang klien bernama Evan Wiliam ketika menemukan sebuah folder yang tidak seharusnya ada. Namanya hanya terdiri dari satu kata.
ALICIA.
Jari Alicia berhenti di atas panel. Itu mustahil. Ia pun membuka informasi pemilik folder.
Nama: Evan Wiliam.
Usia: 27 tahun.
Riwayat Neurovault: penghapusan trauma ringan, tiga kali.
Tidak ada hubungan dengan Alicia. Namun folder itu memiliki enkripsi tingkat tertinggi, jenis enkripsi yang bahkan tidak digunakan untuk klien biasa.
Alicia membuka log aktivitas. Di sana terdapat sebuah catatan yang membuat dadanya terasa sesak.
Memori ditanam: 17 tahun lalu.
Pemilik asli: Alicia Veylan.
Alicia mundur dari layar. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun bekerja, ia melanggar protokol. Ia membuka file tersebut. Layar berubah menjadi hitam. Kemudian sebuah suara terdengar. Suara anak perempuan yang merupakan dirinya sendiri.
"Kalau suatu hari aku lupa semuanya, jangan kembalikan ingatanku."
Alicia membeku.
Video muncul. Seorang anak perempuan berusia sekitar sepuluh tahun duduk di sebuah ruangan putih. Matanya merah karena menangis. Di sampingnya berdiri seorang perempuan dewasa. Wajahnya tidak terlihat jelas. Namun Alicia mengenal suaranya.
"Kenapa harus dihapus?"
Anak itu mengusap matanya.
"Karena kalau aku terus mengingatnya, aku nggak akan bisa hidup."
Perempuan itu terdiam.
"Dan kalau suatu hari kamu ingin mengingat?"
Anak perempuan itu menatap kamera.
"Kalau suatu hari aku cukup kuat, aku akan mencari file ini sendiri."
Video berhenti. Alicia menatap layar dengan napas berat. Ia tidak pernah mengingat ruangan itu, tidak pernah mengingat perempuan tersebut, dan tidak pernah mengingat apa pun tentang masa kecilnya selain beberapa potongan kecil: rumah tua, suara hujan, dan tangan seseorang yang menggenggam tangannya.
Kemudian sistem menampilkan satu pesan terakhir.
PROTOKOL HATI: AKTIF.
Alicia menelan ludah. Ia membuka arsip berikutnya. Seketika seluruh ruangan dipenuhi suara.
Tawa, tangisan, jeritan, suara hujan, dan suara seorang perempuan yang menyebut namanya berulang kali, serta sebuah kalimat yang membuat tubuhnya terasa dingin.
"Alicia, jangan percaya pada mereka."
Ia menutup file itu. Namun semuanya sudah terlambat. Kenangan yang selama ini dikunci mulai kembali. Ia melihat dirinya sebagai anak kecil, melihat seorang perempuan yang ternyata adalah Ibunya, melihat ruang bawah tanah Neurovault, melihat manusia-manusia yang terbaring di dalam kapsul, dan melihat layar besar bertuliskan:
PROJECT REST — TRANSFER KESADARAN MANUSIA.
Lalu ia melihat dirinya sendiri. Bukan sebagai pasien, melainkan sebagai korban percobaan.
Alicia menyadari sesuatu yang jauh lebih buruk. Enam tahun terakhir dalam hidupnya bukanlah kehidupan yang ia jalani sepenuhnya. Beberapa bagian memorinya telah diganti. Kenangan tentang rasa takut, kenangan tentang keluarganya, dan kenangan tentang orang-orang yang pernah ia cintai juga dihapus. Bahkan alasan mengapa ia memilih bekerja di Neurovault telah dihapus.
Ia tidak pernah melamar pekerjaan itu. Ia justru ditempatkan di sana.
Seseorang telah membuatnya menjadi teknisi yang bertugas menghapus ingatan orang lain karena hanya orang yang kehilangan ingatannya sendiri yang tidak akan mempertanyakan sistem.
Tetapi ada satu hal yang tidak berhasil mereka hapus. Dirinya yang dulu telah meninggalkan pesan. Sebuah pesan yang disimpan di dalam memori orang asing.
Evan Wiliam.
Alicia membuka identitas laki-laki itu. Foto pun muncul di layar, membuatnya terdiam. Evan bukan orang asing. Ia adalah laki-laki yang ada di dalam rekaman masa kecilnya, dan juga laki-laki yang selama ini ia cari tanpa pernah tahu bahwa ia sedang mencarinya. Evan ternyata adalah sahabat masa kecilnya. Dan orang terakhir yang melihat keluarganya sebelum semuanya dihancurkan.
Alicia segera mengakses kesadarannya, namun sistem menolak.
AKSES DILARANG.
Ia mencoba lagi.
AKSES DILARANG.
Kemudian sebuah pesan muncul.
JIKA KAU MEMBACA INI, BERARTI MEREKA BELUM BERHASIL MENGHAPUSMU SEPENUHNYA.
Alicia menatap tulisan itu. Pesan berikutnya muncul perlahan.
JANGAN BANGUNKAN AKU.
Ia mengerutkan kening. Lalu satu kalimat terakhir muncul.
BANGUNKAN DIRIMU SENDIRI.
Alicia terdiam lama. Untuk pertama kalinya, ia mengerti mengapa dirinya menyimpan kenangan itu di kepala orang lain. Bukan karena ia tidak mempercayai dirinya sendiri. Melainkan karena ia tahu suatu hari dirinya akan menjadi bagian dari sistem yang harus dihancurkan.
Ia telah meninggalkan jejak. Sebuah jalan pulang, yang sekaligus sebuah protokol terakhir. Protokol hati yang rehat. Bukan untuk menghapus rasa sakit. Melainkan untuk memberinya waktu sampai ia cukup kuat untuk merasakannya kembali.
Alicia menutup seluruh sistem Neurovault.
Di luar gedung, jutaan manusia masih hidup tanpa rasa takut, tanpa kesedihan, tanpa luka, dan mereka menyebutnya kebahagiaan.
Alicia menatap pantulan wajahnya di kaca, kemudian ia pun tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh sistem.
Takut, sedih, marah, dan lega. Semuanya datang bersamaan.
Dan anehnya, Alicia tidak ingin menghapusnya satu pun. Sebab akhirnya ia mengerti.
Hati tidak pernah benar-benar membutuhkan istirahat dari rasa sakit. Ia hanya membutuhkan tempat yang aman untuk merasakannya kembali.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Hukum Kok Butuh FYP? Ketika Viralitas Jadi Syarat Menindak Turis Nakal
-
Tayang 10 September, Crew Girl Hadirkan Kisah Atlet Remaja Penuh Romansa
-
Tren Job Hugging di Kalangan Gen Z: Saat Bertahan Jadi Pilihan Paling Aman
-
Keindahan Visual dan Hangatnya Surat Masa Lalu dalam Animasi Your Letter
-
Sinopsis Film Paket Santet: Ketika Sebuah Kiriman Membawa Teror Mematikan