Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Novel Ex karya Dodi Prananda (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Setiap orang mungkin memiliki satu benda yang sebenarnya sederhana, tetapi menyimpan kenangan luar biasa. Sebuah jam tangan, boneka, buku, foto, atau bahkan benda kecil pemberian mantan bisa menjadi pengingat terhadap seseorang yang pernah mengisi kehidupan. Pertanyaannya, ketika hubungan itu berakhir, apakah benda tersebut harus disimpan, dibuang, atau dikembalikan?

Pertanyaan semacam itulah yang menjadi pintu masuk novel Ex (Ketika Masa Lalu Menyapa) karya Dodi Prananda. Diterbitkan oleh MediaKita, novel setebal sekitar 300 halaman ini membawa pembaca pada kisah tentang barang-barang peninggalan mantan sekaligus proses manusia dalam berdamai dengan masa lalu.

Sinopsis Novel

Bre memiliki pandangan sederhana: setiap barang menyimpan kenangan pemiliknya, tetapi tidak semua kenangan harus terus disimpan. Dari pemikiran tersebut, ia membuka Toko Ex, sebuah tempat yang didedikasikan bagi orang-orang yang ingin melepaskan kenangan tentang mantan kekasih melalui barang-barang yang pernah diberikan.

Mereka yang menyerahkan barang tersebut kemudian disebut Friends. Salah satunya adalah Sahda, yang sedang berusaha merelakan mantan kekasihnya. Alih-alih sekadar menjual atau menukar barang, Toko Ex menjadi semacam ruang untuk memproses perasaan. Ada kenangan, luka, kemarahan, bahkan cerita yang belum benar-benar selesai.

Sahda kemudian membantu Bre mengurus Toko Ex untuk mengisi waktu luangnya. Dari aktivitas tersebut, keduanya semakin sering berinteraksi. Mereka mendengarkan curhatan para Friends, mengetahui kisah di balik benda-benda peninggalan mantan, dan berbicara mengenai hubungan masa lalu.

Menariknya, cerita para pelanggan Toko Ex tidak semuanya menyedihkan. Ada yang membuat terharu, ada pula yang justru membuat pembaca naik pitam. Setiap barang memiliki cerita sendiri. Benda yang bagi orang lain tampak tidak berharga bisa menjadi simbol sebuah hubungan bagi pemiliknya.

Konsep tersebut membuat novel ini terasa cukup relate dengan kehidupan anak muda. Kita sering menganggap move on sebagai perkara sederhana: berhenti menghubungi mantan, menghapus foto, membuang barang pemberian, lalu melanjutkan hidup. Kenyataannya, melepaskan seseorang tidak sesederhana menghapus percakapan dari ponsel.

Justru karena itulah hubungan Bre dan Sahda perlahan menjadi menarik. Di antara berbagai cerita mantan yang mereka dengarkan, muncul percikan perasaan di antara keduanya. Mereka kemudian memiliki gagasan untuk membuat sebuah acara bernama “Hari Mengenang Mantan”. Acara tersebut bukan dibuat untuk merayakan kegagalan hubungan. Sebaliknya, mereka ingin mengajak para Friends berdamai dengan masa lalu dan memaafkan orang-orang yang pernah melukai mereka. Bahkan ketika perbuatan mantan sangat buruk, masa lalu tetap perlu diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Namun, gagasan tersebut justru membawa persoalan baru. Sebelum acara berlangsung, Bre menerima paket misterius berisi rekaman suara. Paket tersebut membuka kembali sesuatu dari masa lalu Bre yang selama ini seolah telah selesai. Bagi Sahda, kemunculan rekaman itu menjadi pukulan yang membuatnya mempertanyakan perasaannya sendiri.

Pertanyaan kemudian berbalik kepada Bre. Apakah seseorang benar-benar sudah berdamai dengan masa lalu hanya karena tidak lagi membicarakannya? Atau sebenarnya ada luka yang sengaja disimpan dan sewaktu-waktu dapat kembali muncul?

Kelebihan dan Kekurangan

Menurut saya, kekuatan Ex berada pada gagasan sederhananya. Novel ini tidak hanya menjadikan mantan sebagai tokoh yang harus dilupakan, tetapi melihat masa lalu sebagai sesuatu yang perlu dihadapi. Barang pemberian mantan menjadi simbol bahwa kenangan tidak selalu bisa dipisahkan begitu saja dari kehidupan seseorang.

Meski demikian, dari segi tampilan, sampul bukunya menurut saya memang cantik, tetapi belum cukup kuat untuk langsung menarik perhatian. Padahal, konsep ceritanya sebenarnya memiliki daya jual yang menarik karena sangat dekat dengan pengalaman emosional banyak pembaca. Ex mengingatkan saya bahwa masa lalu tidak selalu harus dilawan. Ada kalanya ia datang kembali bukan untuk mengajak kita mengulang cerita, melainkan untuk mengajarkan sesuatu.

Ketika masa lalu menyapa, kita memang bisa memilih untuk menutup pintu. Namun, mungkin pilihan yang lebih bijaksana adalah membukanya sebentar, memahami apa yang ingin disampaikan, mengambil hikmahnya, lalu menutupnya kembali dengan hati yang lebih lapang.

Sebab berdamai dengan masa lalu bukan berarti melupakan semuanya. Berdamai berarti mampu menerima bahwa sesuatu pernah terjadi, mengambil pelajaran darinya, dan tetap memilih melangkah ke depan.

Identitas Buku

  • Judul: Ex 
  • Penulis: Dodi Prananda
  • Penerbit: mediakita
  • Tahun Terbit: 2020
  • Tebal: 300 halaman
  • ISBN: 978-979-794-606-7