Remake punya tantangan yang lebih rumit ketimbang sebatas mengulang cerita lama dengan wajah baru. Ketika Film Munafik: Melawan Iblis membawa film asal Malaysia, Munafik, besutan Syamsul Yusof ke Indonesia, film ini juga membawa pekerjaan besar untuk membuat dunianya lebih melokal.
Film ini memasukkan budaya Jawa, termasuk mantra Jawa kuno dalam adegan ritual. Unsur lokalnya kuat secara suasana, tapi belum sepenuhnya menjadi bagian dari struktur cerita. Kok bisa? Kepoin lebih lanjut, yuk!
Film berdurasi sekitar 103 menit ini disutradarai Guntur Soeharjanto dan diproduksi Unlimited Production bersama Skop Productions Sdn. Bhd. Skenarionya ditulis M. Ali Ghifari dan Syamsul Yusof, dengan Oswin Bonifanz dan Ayu Amirrol sebagai produser. Pemerannya antara lain Arya Saloka, Acha Septriasa, Dimas Aditya, Donny Damara, Nova Eliza, Muhammad Faqih Alaydrus, dan Widi Dwinanda. Film ini tayang pada 3 September 2026 dengan klasifikasi D17.
Ceritanya terkait Adam (Arya Saloka), peruqyah yang meninggalkan pekerjaannya setelah kecelakaan merenggut nyawa istrinya, Aini (Widi Dwinanda). Trauma membuat Adam menjauh dari dunia ruqyah sampai Anwar (Dimas Aditya) datang meminta bantuannya untuk Fitri (Acha Septriasa), perawat yang mengalami gangguan gaib. Fitri merupakan putri Haji Mansur (Donny Damara), sosok yang dihormati di lingkungan mereka. Adam akhirnya kembali melakukan ruqyah, lalu menemukan fakta mengerikan. Rupanya gangguan Fitri menyimpan rahasia yang jauh lebih rumit daripada kerasukan biasa. Apa itu? Sobat Yoursay bisa langsung tonton di bioskop, ya!
Budaya Jawa dalam Remake Munafik: Melawan Iblis
Aku suka usaha film ini menghadirkan wajah Indonesia melalui lingkungan pedesaan dan budaya Jawa. Penggunaan mantra Jawa kuno bahkan menjadi tantangan tersendiri bagi Donny Damara, yang dalam BTS film ini, dia harus menghafalkan mantra yang dalam cerita digunakan untuk memanggil makhluk gaib, lalu membekali diri dengan doa dan istighfar sebelum menjalani proses pengambilan adegan.
Secara atmosfer, pilihan itu efektif. Mantra Jawa memberi tekstur berbeda pada ritual dan membuat terornya lebih dekat dengan budaya Indonesia. Sensasi lokal langsung terasa ketika unsur itu muncul. Pendekatan ini sangat masuk akal.
Masalahnya muncul ketika budaya Jawa berhenti pada fungsinya. Jika unsur tersebut dilepas, sebagian besar konflik utama masih bisa berjalan dengan jalur yang serupa. Adam tetap mengalami kehilangan. Fitri toh bakal terus mengalami gangguan. Anwar tentunya kebagian plot meminta pertolongan. Haji Mansur menjadi bagian dari rahasia keluarga. Adam tetap harus menghadapi trauma sekaligus dunia ruqyah yang sudah dia tinggalkan.
Artinya, budaya Jawa belum mengubah cara cerita bergerak. Cuma sebatas, lebih banyak memperkaya tampilan, suara, dan nuansa horor.
Bagiku, lokalisasi seperti ini terasa setengah langkah. Film berani mengambil unsur budaya spesifik, tapi belum membiarkannya memengaruhi konflik karakter. Padahal, daya pikat horor Indonesia bisa lahir ketika kepercayaan lokal ikut menentukan pilihan manusia, hubungan keluarga, bahkan sumber masalahnya.
Aku membayangkan budaya Jawa bisa ditempatkan lebih jauh sebagai bagian dari konflik, bukan sekadar bahasa ritual. Tradisi dan keyakinan lokal bisa menjadi alasan seseorang mengambil keputusan. Dengan begitu, pengalaman menonton terasa khas Indonesia, bukan sekadar cerita lama dengan ornamen baru.
Posisi Munafik: Melawan Iblis sebagai remake sebenarnya menarik. Film ini membawa cerita ke lingkungan yang lebih dekat dengan penonton Indonesia. Namun, lokalnya masih lebih di kulit luar ketimbang masuk lebih dalam sampai tulang. Budaya Jawa membuat horornya punya warna, tapi belum menjadi daya pikat yang menggerakkan cerita.
Akhirnya, aku menghargai keberanian film ini memasukkan unsur Jawa ke dalam horor religi. Langkah tersebut jauh lebih menarik daripada sekadar mengganti nama karakter dan lokasi. Potensinya masih jauh lebih besar.
Yup, Film Munafik: Melawan Iblis berhasil membuat Munafik lebih Indonesia kok. Jadi kalau Sobat Yoursay mau nonton, jangan ragu ya. Selamat menonton.
Baca Juga
-
Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar
-
Review Film Siti Si Vampir: Satir Kelas Sosial yang Kurang Menggigit?
-
Review Paralyzed by Hope: The Maria Bamford Story, Tawa dan Luka Mental
-
Review The Disciple: A Wu-Tang Fable dan Ironi Album Eksklusif Wu-Tang Clan
-
Review Film Clayface: Saat Wajah Hilang, Jati Diri Ikut Hancur Total
Artikel Terkait
-
Arti Foto Jatuh dari Dinding Tanpa Angin Menurut Primbon Jawa
-
Raih Mandaya Award 2026, Jawa Tengah Sabet Predikat Provinsi Terbaik Pengentasan Kemiskinan
-
Progres Tol Semarang-Demak Tembus 79 Persen, Ditarget Beroperasi Saat Nataru 2027
-
Usai Diterjang Puting Beliung, Ratusan Rumah di Bandung Barat Rusak
-
Taj Yasin Kunjungi Keluarga Syabilla, Pemprov Jateng Evaluasi Keamanan Porprov
Ulasan
-
Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar
-
Insidious: Out of the Further, Petualangan Baru Melintasi Dua Dimensi
-
Beautiful Pain: Kisah Nyata Perjuangan Perempuan Bangkit dari Luka KDRT
-
Mengapa Pikiran Memengaruhi Keadaan Kita? Review Buku The Law of Attraction
-
Review Film Henry's First Date: Misteri Ingatan yang Tereset Setiap Pagi
Terkini
-
Bingung Mulai Investasi? New BIONS by BNI Sekuritas Bikin Semua Jadi Mudah
-
Mencegah Kriminalisasi Kebijakan Tanpa Meloloskan Korupsi
-
Romantis! Alpha Drive One Bahas Koneksi Emosional di Lagu Baru, Talk To Me
-
Pemerintah Gemar Solusi Instan, Siapa yang Menyelesaikan Akar Masalah?
-
Sisi Gelap Tren Thrifting: Niat Kurangi Limbah, Malah Nimbun Baju Bekas