Hayuning Ratri Hapsari | Athar Farha
Poster Film Siti Si Vampir (Instagram/filmsitisivampir)
Athar Farha

Menjadi vampir ternyata belum tentu membuat hidup seseorang lebih mudah. Bagi Siti, gadis penghuni rumah susun yang sehari-hari membantu ayahnya mengantar galon, perubahan menjadi makhluk pengisap darah justru membuka pintu menuju dunia yang sebelumnya hanya bisa dia impikan. Ironisnya, kesempatan memperbaiki nasib itu datang bersama persoalan baru. Lewat Film Siti Si Vampir, penonton diajak melihat kesenjangan sosial melalui komedi yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Film produksi Viddsee dan Bahagia Tanpa Drama ini disutradarai sekaligus ditulis oleh Rahabi Mandra. Celerina Judisari dan Kenny Png bertindak sebagai produser. Berdurasi 104 menit, film drama-komedi ini tayang di bioskop sejak 22 Oktober 2026. 

Jajaran pemainnya meliputi Satine Zaneta sebagai Siti, Ciccio Manassero sebagai Nakkula, Ajil Ditto sebagai Dudi, Nugie sebagai ayah Siti, Kimberly Ryder sebagai Ratu Vampir, dan Shania Gracia sebagai Stella. Film ini dikembangkan dari serial Singapura, Siti Vampire (2021).

Cerita berkaitan dengan Siti yang menjadi tulang punggung keluarga di tengah keterbatasan ekonomi. Kehidupannya berubah setelah dia digigit Nakkula, vampir dari kalangan elite yang memikat hatinya. Sayangnya, Siti menjadi vampir amatir dengan taring terbalik dan kemampuan seadanya. Meski begitu, perubahan tersebut memberinya peluang memasuki kehidupan mewah yang selama ini terasa jauh dari jangkauan.

Masalah muncul ketika rumah susun tempat tinggalnya menjadi sasaran kelompok vampir elite. Siti harus menentukan sikap terhadap sistem yang menawarkan kenyamanan, tapi mengancam kehidupan orang-orang di sekitarnya. Bersama Nakkula, dia menghadapi pilihan antara menikmati keistimewaan dunia baru atau melawan kepentingan kelompok yang lebih berkuasa.

Vampir sebagai Sindiran Kesenjangan Sosial

Gagasan paling menarik dari Siti Si Vampir terletak pada penggunaan vampir sebagai metafora kelas sosial. Alih-alih menempatkan makhluk supernatural ini di kastel megah yang jauh dari kehidupan masyarakat, film ini mempertemukannya dengan penghuni rumah susun yang harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kontras tersebut terasa relevan. Siti menggambarkan kelompok masyarakat yang harus berjuang mendapatkan kehidupan layak, sementara vampir elite menjadi gambaran mereka yang memiliki akses terhadap kemewahan dan kekuasaan. Perubahan identitas Siti pun bukan sekadar urusan taring, melainkan juga kesempatan memasuki lingkungan sosial yang sebelumnya tertutup baginya.

Dan jujur saja, suka banget dengan cara kisah ini membuka ruang kritik melalui komedi. Penonton bisa tertawa melihat vampir dengan kemampuan serba tanggung, sekaligus menangkap ironi ketika kemewahan tampak seperti jalan keluar dari kesulitan ekonomi. Sayangnya, gagasan yang menarik belum tentu otomatis menjadi kritik sosial yang tajam.

Ketika Kemewahan Berhadapan dengan Solidaritas

Konflik Siti menjadi menarik karena kesempatan memperbaiki nasib datang bersama konsekuensi bagi orang-orang terdekatnya. Kehidupan mewah memang menggoda, terutama bagi seseorang yang terbiasa menghadapi keterbatasan. Namun, ketika rumah susunnya terancam, Siti harus mempertimbangkan kembali arti kenyamanan yang ditawarkan kelompok elite.

Dan ya, bagian ini berpotensi menjadi daya pikat emosional film. Persoalannya bukan sekadar memilih kaya atau miskin, melainkan mempertanyakan harga yang harus dibayar ketika seseorang ingin naik kelas sosial. Solidaritas keluarga dan lingkungan menjadi penting karena perubahan nasib pribadi bisa saja mengorbankan orang lain.

Meski begitu, konflik tersebut akan terasa lebih menggigit jika kepentingan kelompok elite dan dampaknya terhadap warga memperoleh pengembangan lebih mendalam. Penonton perlu memahami bagaimana kekuasaan bekerja, bukan hanya melihat kelompok kaya sebagai pihak yang memiliki kehidupan lebih mewah.

Satir Menarik, Pengembangannya Masih Terbatas

Memang betul. Siti Si Vampir menawarkan konsep yang segar dalam perfilman Indonesia. Humor lokal, kehidupan rumah susun, dan mitologi vampir menciptakan kombinasi yang menghibur sekaligus menyentil realita sosial. Namun, konflik besar mengenai ancaman terhadap rumah susun punya peluang untuk digarap lebih kompleks.

Ketika persoalan kelas sosial menjadi fondasi cerita, penyelesaiannya idealnya meninggalkan dampak yang terasa. Klimaks yang kuat bukan cuma mempertemukan tokoh utama dengan lawan, melainkan memperlihatkan konsekuensi dari pilihan mereka. Sayangnya, persoalan sistem elite terlalu cepat diselesaikan, pesan sosial yang dibangun sejak awal jadi kehilangan daya pukul.

Jadi film ini bagus apa nggak? Siti Si Vampir layak dilirik karena berani menggunakan fantasi untuk membicarakan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Film ini jelas berusaha mengingatkan penonton, bahwa perubahan status bisa menawarkan kenyamanan, tapi belum tentu menghapus ketimpangan yang menjadi sumber masalah.

Sobat Yoursay, tertarik menyaksikan komedi vampir yang menyentil kesenjangan sosial? Siti Si Vampir bisa jadi pilihan tontonan di bioskop. Selamat menonton!