Tidak semua orang yang merasa lelah karena banyak bekerja. Ada kalanya seseorang merasa lelah karena terlalu lama berperang dengan dirinya sendiri. Ingin menjadi baik, tetapi masih melakukan kesalahan. Ingin tenang, tetapi pikiran dipenuhi kecemasan. Ingin bahagia, tetapi sering membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.
Persoalan semacam itulah yang menarik dibahas Fahruddin Faiz dalam buku Seni Menyikapi Hidup: Rahasia Melampaui Diri Sendiri terbitan Noura Books, Desember 2025. Buku ini mengajak pembaca mengenali diri, memahami berbagai belenggu dalam kehidupan, lalu perlahan belajar menjadi manusia yang tenang.
Pada bagian awal, pembaca diajak memahami kepribadian manusia. Dengan mengutip pemikiran Erich Fromm, manusia digambarkan sebagai makhluk yang memiliki sejumlah dilema. Kita adalah makhluk jasmani sekaligus manusia yang memiliki kesadaran. Kita hidup, tetapi sekaligus mengetahui bahwa suatu saat akan mati. Kita mempunyai keinginan untuk menjadi sempurna, tetapi pada saat yang sama harus menerima kenyataan bahwa tidak ada manusia yang benar-benar sempurna.
Dari sini kita dapat memahami bahwa hidup memang tidak selalu berjalan lurus. Ada pertentangan dalam diri yang harus kita kelola, bukan sekadar kita hindari.
Persoalan menjadi semakin menarik ketika penulis membahas kebencian terhadap diri sendiri. Banyak orang merasa dirinya tidak berkembang karena jarak antara cita-cita dan kenyataan terasa begitu jauh. Padahal, perubahan kecil tetap merupakan perkembangan.
Seseorang yang dahulu malas belajar, kemudian mulai rajin membaca, sebenarnya sudah mengalami kemajuan. Karena itu, jangan sampai membenci diri sendiri ketika proses perubahan belum sesuai harapan.
Selanjutnya, buku ini membahas hawa nafsu dan kesabaran. Kita tentu pernah mengalami keadaan ketika sudah berjanji tidak mengulangi kesalahan, tetapi kemudian terjatuh lagi pada kesalahan yang sama. Kita menyesal, bertobat, lalu mengulanginya kembali.
Keadaan tersebut menunjukkan bahwa mengetahui kebaikan belum tentu membuat seseorang mampu menjalankannya. Dibutuhkan kesadaran diri dan kemampuan mengendalikan diri.
Hal lain yang terasa relevan dengan kehidupan sekarang adalah pembahasan mengenai teknologi berperikemanusiaan. Teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu manusia. Jangan sampai manusia yang diperbudak oleh teknologi. Tiga prinsip yang ditekankan adalah kesadaran diri, pengendalian diri, dan hidup selaras dengan alam.
Di tengah kehidupan digital yang membuat kita mudah terpancing oleh berbagai informasi, gagasan tersebut terasa penting. Tidak semua hal yang muncul di layar ponsel perlu kita ikuti. Tidak semua perdebatan harus kita masuki. Terkadang menjaga jarak justru merupakan bagian dari menjaga ketenangan diri.
Menariknya lagi, buku ini menghubungkan agama dengan kesehatan mental. Hidup yang sehat secara batin, antara lain, membutuhkan makna, nilai, kesadaran terhadap sesuatu yang lebih tinggi, serta hubungan dengan sesama. Artinya, manusia tidak hidup sendirian. Kebahagiaan kita juga berkaitan dengan bagaimana kita memperlakukan dan terhubung dengan orang lain.
Pada bagian akhir, pembahasan tentang hidup senang dan tenang serta merencanakan kebahagiaan menjadi ajakan untuk kembali membaca diri sendiri. Gagasan Epicurus tentang kesederhanaan dan persahabatan, menunjukkan bahwa hidup bahagia tidak selalu identik dengan memiliki banyak hal.
Dari buku ini kita dapat belajar bahwa kebahagiaan bukan sesuatu yang cukup hanya diinginkan. Ia perlu diusahakan dan direncanakan dengan kesadaran. Namun, sebagai manusia beragama, kita juga menyadari bahwa hasil akhirnya tetap berada dalam kuasa Tuhan.
Seni Menyikapi Hidup cocok dibaca oleh siapa saja yang belajar memahami dirinya sendiri. Buku ini tidak sekadar mengajak kita mencari kebahagiaan, tetapi juga mengingatkan bahwa salah satu jalan menuju ketenangan adalah belajar berdamai dengan diri sendiri. Selamat membaca.
Identitas Buku
Judul: Seni Menyikapi Hidup: Rahasia Melampaui Diri Sendiri
Penulis: Fahruddin Faiz
Penerbit: Noura Books, PT Mizan Publika
Cetakan: Pertama, Desember 2025
ISBN: 978-623-242-510-1
Baca Juga
-
Take My Hand: Ketika Menjadi Anak Kelas 12 Tak Semudah yang Dibayangkan
-
Pasti Ada Jalan Keluar: Mengubah Cara Pandang dalam Menghadapi Masalah
-
Hamzah bin Abdul Muthalib: Keteguhan Prinsip di Balik Sosok Sang Pemberani
-
Ulasan Buku Modal Ngeblog Bisa Sampai Yurop: Meraih Peluang Lewat Tulisan
-
Panduan Anak Muda Raih Sukses Tanpa Tumbang Mental Karya Iqro' Firdaus
Artikel Terkait
Ulasan
-
Esensi The End of Oak Street: Teror Dinosaurus yang Memburu Satu Keluarga
-
Ulasan Five Survive: Ketika Rahasia Menjadi Ancaman Mematikan
-
Review Novel Bek: Kisah Anak Kampung yang Bertahan di Lapangan Kehidupan
-
Review Film Heart of the Beast: Drama Survival yang Sangat Menyentuh Hati
-
Review Best of the Best: Film Tari yang Lupa Memberi Ruang pada Tariannya
Terkini
-
Efek Domino Kenaikan Avtur: Ancaman Nyata Mahalnya Tiket Pesawat bagi Pariwisata
-
Cegah Kusam dan Flek Hitam! 4 Serum Vitamin C Rahasia Wajah Cerah Maksimal
-
Shangri-La Frontier Season 3 Tayang 10 Januari 2027, Berlangsung 2 Cour
-
Pakar Bisa Jadi Goblok? Menelaah Kebenaran Kalimat Prabowo dari Sudut Pandang Masyarakat Jawa
-
Jadi Rekan Setim, Marc Marquez Prediksi Bakal Dikalahkan oleh Pedro Acosta