Hayuning Ratri Hapsari | Dian Haerani
The Imaginary (Instagram/@therichmondreviewer)
Dian Haerani

Pernahkah kita membayangkan bagaimana nasib teman khayalan yang pernah menemani masa kecil kita? Sosok yang dahulu terasa begitu nyata, diajak bermain, berbagi rahasia, bahkan menjadi teman ketika tidak ada orang lain yang bisa diajak bicara. Namun, seiring bertambahnya usia, kita perlahan melupakannya.

Bagaimana jika mereka sebenarnya masih hidup di suatu tempat dan menunggu untuk diingat kembali? Gagasan sederhana tetapi menyentuh inilah yang menjadi dasar cerita The Imaginary (2023), film animasi Jepang produksi Studio Ponoc yang mengajak penontonnya kembali melihat dunia melalui imajinasi anak-anak.

Film garapan Yoshiyuki Momose ini mengikuti kisah Rudger, seorang anak laki-laki yang sebenarnya tidak pernah dilahirkan ke dunia nyata. Ia merupakan teman khayalan Amanda, seorang gadis kecil yang memiliki imajinasi luar biasa.

Keduanya menghabiskan banyak waktu bersama, menciptakan berbagai petualangan seru, dan menjadikan loteng rumah Amanda sebagai tempat untuk melarikan diri ke dunia penuh keajaiban. Bagi Amanda, Rudger bukan sekadar teman bermain.

Ia menjadi sosok yang selalu menemani hari-harinya, terutama ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan. Namun, kebahagiaan mereka mulai terusik ketika seorang pria misterius bernama Mr. Bunting muncul. Pria tersebut memiliki kemampuan melihat teman-teman khayalan dan memburu mereka untuk alasan yang mengerikan.

Situasi semakin rumit ketika Rudger terpisah dari Amanda. Ia kemudian menemukan sebuah tempat bernama Town of Imaginaries, sebuah dunia yang dihuni oleh berbagai sosok khayalan yang telah dilupakan oleh manusia. Di tempat tersebut, Rudger mulai memahami bahwa keberadaan mereka sangat bergantung pada ingatan dan imajinasi orang-orang yang menciptakannya.

Hal pertama yang membuat The Imaginary menarik adalah konsep ceritanya. Film ini mengangkat sesuatu yang mungkin pernah dialami hampir semua orang saat kecil, tetapi jarang dibicarakan ketika dewasa. Kita mungkin pernah memiliki teman khayalan, menciptakan dunia sendiri, atau membayangkan petualangan yang tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata.

Namun, semakin bertambah usia, kebiasaan tersebut perlahan menghilang karena kita mulai disibukkan dengan kenyataan. Menurut saya, film ini bukan sekadar ingin mengajak penonton bernostalgia. Ada pesan yang lebih dalam mengenai kehilangan, kenangan, dan proses tumbuh dewasa.

Rudger menjadi gambaran dari sesuatu yang pernah memiliki tempat penting dalam kehidupan seseorang, tetapi perlahan terancam menghilang ketika orang tersebut mulai melupakannya.

Menariknya, cerita ini juga tidak hanya berpusat pada Rudger. Amanda dan ibunya, Lizzie, memiliki persoalan emosional masing-masing. Kehidupan mereka menyimpan kesedihan yang tidak mudah diungkapkan. Dari sini, film memperlihatkan bahwa imajinasi terkadang menjadi tempat berlindung ketika kenyataan terasa terlalu berat untuk dihadapi.

Dari segi visual, The Imaginary benar-benar menjadi salah satu daya tarik utamanya. Studio Ponoc menghadirkan animasi dengan detail yang indah, terutama ketika menggambarkan dunia imajinasi. Perpaduan warna, pencahayaan, serta latar yang terasa seperti lukisan membuat setiap adegan memiliki karakter tersendiri.

Ada kesan magis yang mengingatkan pada karya-karya Studio Ghibli, tetapi tetap memiliki identitas visualnya sendiri. Namun, film ini bukan tanpa kekurangan. Perpindahan antara dunia nyata dan dunia khayalan terkadang membuat alur terasa kurang konsisten.

Beberapa bagian juga dipenuhi penjelasan mengenai aturan dunia para Imaginaries sehingga sedikit mengurangi kelancaran cerita. Selain itu, perubahan suasana dari petualangan yang menyenangkan menuju konflik yang lebih gelap mungkin terasa cukup mendadak bagi sebagian penonton.

Meski begitu, kekurangan tersebut tidak menghilangkan pesan emosional yang ingin disampaikan. Film ini berhasil mengingatkan bahwa imajinasi bukan sekadar aktivitas anak-anak yang nantinya harus ditinggalkan. Imajinasi juga bisa menjadi cara manusia memahami kesedihan, menghadapi kehilangan, dan menemukan harapan ketika keadaan terasa sulit.

Pada akhirnya, The Imaginary mengajak kita menghargai bagian kecil dari masa kanak-kanak yang mungkin sudah lama terlupakan. Kita memang tidak bisa kembali menjadi anak-anak, tetapi bukan berarti harus kehilangan kemampuan untuk bermimpi dan membayangkan sesuatu yang lebih baik.

Bagi saya, pesan paling menyentuh dari film ini adalah bahwa sesuatu tidak harus terlihat untuk memiliki arti. Kenangan, imajinasi, dan orang-orang yang pernah menemani perjalanan hidup kita mungkin tidak selalu hadir secara nyata, tetapi pengaruhnya bisa bertahan jauh lebih lama daripada yang kita bayangkan. Apakah kamu setuju dengan hal ini?